Pasti ada saat-saat di mana kita merasa sangat lelah, bahkan sedih, karena jalan keluar tak kunjung datang saat masalah datang. Padahal… ikhtiar telah maksimal, doa sudah dipanjatkan dengan begitu khusyuk, amalan-amalan sunah telah digenapi, namun situasi tak kunjung berubah. Nah, di titik inilah kalangan pesantren mengajarkan satu amalan pendek yang diyakini sangat mujarab untuk mendatangkan “mukjizat”: Sholawat Adrikni.
Sholawat Adrikni dikenal dengan tiga nama. Dari kalangan ulama Arab dan kitab-kitab klasik, mereka menyebutnya sebagai Sholawat Mukhatab atau Sholawat Adrikiyyah. Sementara, ulama-ulama di Tanah Jawa seperti KH Achmad Abdul Haq dari Magelang, menamai amalan ini dengan bahasa yang lebih membumi: Sholawat Rekes, yang dalam bahasa Jawa berarti permohonan.
Sholawat Adrikni tercatat dalam kitab-kitab ulama besar dan telah diijazahkan dari generasi ke generasi di pesantren-pesantren Nusantara.
Apa Itu Sholawat Adrikni?
Istilah Adrikni berasal dari bahasa Arab, yakni adraka yang berarti menjangkau atau menemukan dengan bentuk perintah adriknī yang berarti “tolonglah aku” atau “selamatkan aku”. Penggunaan istilah ini memberi penekanan bahwa selawat ini bukan permohonan biasa. Lebih dari itu, Adrikni menggambarkan kondisi seseorang yang sudah benar-benar di ujung kemampuannya, yang hanya bisa pasrah dan memohon untuk dijangkau oleh pertolongan.
Bila selawat ini dipanjatkan, maka itu adalah ungkapan kerendahan hati seorang hamba yang mengakui keterbatasannya, dan memohon pertolongan Allah melalui perantara Rasulullah Saw.
Bacaan Sholawat Adrikni Lengkap
Sholawat Adrikni memiliki dua versi bacaan yang keduanya populer di kalangan umat Islam. Keduanya memiliki makna yang serupa.
Versi 1:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ قَدْ ضَاقَتْ حِيْلَتِي أَدْرِكْنِي يَا رَسُوْلَ اللهِ
Allāhumma shalli wasallim ‘alā sayyidinā Muhammadin qad dhāqat hīlatī adriknī yā Rasūlallāh
Artinya: Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan salam kepada junjungan kami Nabi Muhammad. Sungguh sempit upayaku, tolonglah aku, wahai Rasulullah.
Versi 2:
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ خُذْ بِيَدِي قَلَّتْ حِيْلَتِي أَدْرِكْنِي
Ash-shalātu was-salāmu ‘alaika yā sayyidī yā Rasūlallāh, khudz biyadī qallat hīlatī adriknī
Artinya: Selawat dan salam semoga tercurah kepadamu, wahai junjunganku Rasulullah. Peganglah tanganku, sungguh sedikit sekali upayaku, maka tolonglah aku.
Perbedaan kedua versi ini terletak pada cara “menyapa”-nya. Versi pertama diawali dengan permohonan kepada Allah Swt. Sementara, versi kedua bersifat langsung seperti percakapan kepada Rasulullah Saw. Meski begitu, kedua versi selawat ini sama-sama sahih dan beredar luas di kalangan pesantren.
Sejarah dan Asal Muasal Sholawat Adrikni
Selawat ini diyakini pertama kali diterima oleh seorang ulama besar dari wilayah Syam bernama Syekh Hamid Affandi al-Imadi, seorang mufti ternama yang hidup di kawasan yang kini meliputi Suriah, Lebanon, Yordania, dan Palestina. Dalam sebuah mimpi, beliau dikisahkan bertemu langsung dengan Rasulullah Saw yang mengajarkan selawat ini kepadanya.
Dalam tradisi ilmu Islam, mimpi bertemu Nabi memiliki kedudukan tersendiri, karena setan tidak bisa menyerupai wujud Nabi dalam mimpi. Meski demikian, selawat yang diterima melalui mimpi tidak memiliki kedudukan setara hadis sahih, melainkan menjadi bagian dari amalan yang kemudian dinilai dan disebarkan oleh para ulama berdasarkan pengalaman dan kajian mereka.
Selawat ini kemudian masuk ke khazanah keilmuan Islam klasik melalui tangan Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabahani yang wafat di tahun 1350 H. Ia adalah seorang ulama besar yang mendokumentasikan selawat Adrikni dalam tiga kitabnya, yakni Afdhalu ash-Shalawat ‘ala Sayyidi as-Sadah, Mufarriju al-Kurub wa Mufarriju al-Qulub, dan Hujjatullahi ‘ala al-‘Alamin fi Mu’jizati Sayyidi al-Mursalin. Dari sanalah selawat ini menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk ke pesantren-pesantren di Nusantara.
Apa Pendapat Ulama tentang Sholawat Adrikni?
Inilah yang membedakan sholawat adrikni dari selawat-selawat lain yang beredar di masyarakat. Ia bukan sekadar amalan awam, melainkan diakui, dikaji, dan diamalkan oleh para ulama besar.
Syaikh Yusuf an-Nabahani menyebutnya sebagai at-Tiryāq al-Mujarrab yang berarti “penawar yang telah teruji”. Dalam kitabnya Afdhalus Shalawat, ia mencatat beberapa pengakuan para ulama yang merasakan langsung manfaat selawat ini.
Syaikh Ibnu Abidin, ulama besar mazhab Hanafi, pernah mengamalkan selawat ini sebanyak 200 kali ketika menghadapi fitnah besar yang melanda Damaskus.
Syaikh Abdul Karim al-Sarabari al-Halabi menjadikan sholawat adrikni sebagai wirid harian sebanyak 300 kali, dan meningkatkan bacaannya hingga 1.000 kali dalam keadaan yang sangat genting. Ia menyebut selawat ini sebagai “penawar racun yang mujarab”.
Di Indonesia sendiri, selawat ini hidup subur dalam tradisi pesantren. KH Achmad Abdul Haq atau yang akrab disapa Mbah Mad Watucongol, Muntilan, Magelang, salah satu ulama Jawa yang sangat disegani, mempopulerkan adrikni dengan nama Sholawat Rekes. Ungkapannya sederhana namun sangat mengena: selawat ini adalah amalan untuk kondisi yang sudah “terlanjur ruwet”.
Jejak digital yang paling bisa ditelusuri tentang anjuran sholawat adrikni adalah dari KH Achmad Chalwani Nawawi. Ia adalah Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjang, Gebang, Purworejo, Jawa Tengah. Kiai Chalwani bukan hanya menjelaskan soal keutamaan adrikni, tetapi secara resmi mengijazahkannya kepada masyarakat luas. Dalam tradisi pesantren, ijazah adalah pemberian izin resmi untuk mengamalkan suatu wirid. Ini adalah tanda kepercayaan yang tidak diberikan sembarangan.
Salah Paham Tentang Sholawat Adrikni
Sebagian orang mungkin bertanya: apakah membaca selawat ini berarti meminta tolong kepada Nabi, bukan kepada Allah?
Jawabannya perlu diluruskan. Dalam konsep tawasul yang diajarkan ahlussunnah wal jamaah, menyebut nama Nabi atau memohon melalui perantara beliau bukanlah bentuk syirik. Tawasul adalah cara mendekatkan diri kepada Allah dengan menjadikan kecintaan kepada Nabi sebagai jembatan doa.
Para ulama menegaskan bahwa hasil dari selawat ini tetap sepenuhnya ditentukan oleh Swt. Nabi Muhammad Saw adalah wasilah atau hanya sebagai perantara, bukan sumber pertolongan itu sendiri. Memahami hal ini penting, agar niat kita berselawat tetap lurus dan akidah pun terjaga.
Baca juga: Bacaan dan Manfaat dari Sholawat Nabi Muhammad
Cara dan Waktu Mengamalkan Sholawat Adrikni
Tidak ada syarat khusus yang memberatkan untuk mengamalkan sholawat adrikni. Berikut panduan yang beredar di kalangan ulama:
- Wirid harian: Baca 3–11 kali setelah shalat fardhu sebagai amalan rutin
- Saat menghadapi masalah berat: Baca 77 kali. Jika masalah sangat pelik, tambah hingga 313 kali
- Malam Jumat: Dianjurkan dibaca hingga 1.000 kali sebagai amalan istimewa
- Dalam keadaan darurat: Baca sebanyak kemampuan, dengan hati yang khusyuk dan penuh harap kepada Allah
Hal yang paling penting bukanlah jumlah, tetapi kehadiran hati atau kesungguh-sungguhan kita saat membacanya. Pahami lebih dulu setiap kata yang akan terucap melalui selawat ini, dan rasakanlah lafaz qad dhāqat hīlatī (sungguh sempit upayaku).
Simpulan
Amalan sholawat adrikni bermula dari kitab-kitab ulama klasik, lalu tumbuh di tangan para kiai pesantren Nusantra, dan terus dihidupkan hingga hari ini. Untuk itu, jangan amalkan selawat ini saat keadaan terasa “darurat” saja, tapi jadikanlah ia teman dalam keseharian kita.
Sholawat adrikni adalah pengingat bagi kita bahwa sebesar apa pun masalah, masih ada Allah Swt Yang Mahakuasa, serta Nabi Saw yang menjadi teladan sekaligus wasilah doa kita.
Para ulama mengajarkan bahwa selawat adalah ikhtiar batin, sementara sedekah adalah ikhtiar lahir. Keduanya berjalan beriringan. Rasulullah Saw bersabda bahwa sedekah dapat memadamkan murka Allah dan menolak bala. Bila sholawat adrikni kamu amalkan sebagai doa di saat sempit, maka sedekah adalah langkah nyata yang menyertainya. (Dompet Dhuafa/Ronna QA)


