ACEH — Dompet Dhuafa bersama mitra kemanusiaan internasional Hayat Yolu bergerak cepat merespons musibah banjir bandang yang melanda Kabupaten Bireuen, Aceh. Sejak Kamis (4/12), tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menyusuri daerah-daerah terdampak yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan, wilayah yang menjadi pusat luapan banjir terbesar dan menyebabkan kerusakan paling parah.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa ratusan rumah warga terendam lumpur, fasilitas umum rusak, serta ribuan warga terpaksa mengungsi ke titik-titik aman. Melihat situasi tersebut, Dompet Dhuafa bersama Hayat Yolu bergerak menyalurkan bantuan berupa bahan pangan pokok untuk lebih dari 1.000 jiwa penyintas yang tersebar di lima titik pengungsian, yaitu: Blang Panjoe, Krueng Beukah, Pantee Lhong, Gampong Kapa, dan Gampong Lueng Kuli.
Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dapur umum pengungsian agar para penyintas tetap mendapatkan makanan hangat setiap hari, di tengah kondisi sulit yang mereka hadapi.


Saat mengunjungi titik pengungsian di Blang Panjoe, tim Dompet Dhuafa berbincang dengan pasangan Effendi dan Eva, salah satu keluarga penyintas yang kehilangan hampir seluruh harta bendanya. Rumah keluarga ini hancur diterjang arus dan tertimbun lumpur setinggi hampir dua meter. Pada malam kejadian, Effendi menuturkan bahwa air naik begitu cepat. Beruntung, ia dan keluarga berhasil menyelamatkan diri dan bertahan di atas atap rumah warga.
“Kami sedang tidur. Alhamdulillah bisa keluar dan naik ke atap rumah tetangga,” ungkapnya.
Berjam-jam ia bertahan di atas atap rumah warga. Hingga akhirnya ada bantuan datang untuk menyelamatkan.
Baca juga: Pos Bantuan dan Dapur Umum Berdiri untuk Penyintas Banjir di Pidie Aceh
Beberapa hari kemudian, Effendi memberanikan diri kembali melihat rumahnya. Harapan untuk menemukan barang-barang yang bisa diselamatkan runtuh begitu ia menyaksikan langsung bagaimana rumah yang ia bangun dengan biaya dan tenaga selama dua tahun terakhir, kini porak-poranda.
“Rumah itu kami bangun sedikit demi sedikit. Dari pondasi, dinding. Tapi semuanya hilang begitu saja. Saya tidak pernah melihat banjir sebesar ini selama di Blang Panjoe,” tambahnya.


Mulya, perwakilan Bidang Kebencanaan Dompet Dhuafa Aceh, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan masih membutuhkan banyak dukungan, terutama bagi penyintas yang kehilangan rumah dan masih bertahan di tenda-tenda darurat.
“Kami bersama para relawan dan mitra seperti Hayat Yolu terus melakukan asesmen dan distribusi bantuan setiap hari. Kebutuhan dasar seperti pangan, air bersih, perlengkapan sanitasi, dan layanan kesehatan menjadi prioritas utama. Kami memastikan para pengungsi tidak merasa sendirian dalam menghadapi musibah ini,” ujar Mulya.
Ia juga menambahkan bahwa respons kemanusiaan ini tidak berhenti sampai hari distribusi pertama. Tim DMC Dompet Dhuafa akan terus bergerak menjangkau lokasi-lokasi pengungsian hingga situasi benar-benar pulih.


Baca juga: Banjir Longsor di Sumatra dan Aceh, Dompet Dhuafa Bangun Pos Respons Bencana di Sejumlah Titik
Musibah banjir tidak hanya melanda Aceh, tetapi juga wilayah lain seperti Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Dompet Dhuafa berharap aksi kemanusiaan yang dilakukan dapat menjadi penguat dan meringankan beban saudara-saudara yang sedang berjuang.
Melalui dukungan para donatur dan kolaborasi dengan lembaga kemanusiaan lain, Dompet Dhuafa berkomitmen untuk terus memberikan layanan terbaik bagi para penyintas bencana, membantu memulihkan kehidupan mereka, serta mengembalikan harapan yang sempat hilang akibat musibah.
Semoga upaya ini menjadi jembatan kebaikan bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk bergandeng tangan membantu sesama di saat-saat paling sulit. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika

