TOKYO, JEPANG — Di tengah hiruk pikuk Negara Jepang, terdapat salah satu pekerja migran dari Filipina, Rosa Cleta. Rosa sudah tinggal di Jepang selama lebih dari 30 tahun. Selain bekerja, Rosa juga menjadi penginjil di komunitas kristen Filipina di Jepang.
Bersama dengan Dai Cordofa (Corps Dai Dompet Dhuafa) Jepang, Mohammad Ikhwanuddin, yang bertugas sebagai Dai Ambassador Dompet Dhuafa di Ramadan 1447H, Rosa menceritakan kisahnya. Rosa memiliki saudara kandung, yang menjadi tenaga migran di Arab Saudi bersama dengan suaminya. Selang beberapa tahun, saudara Rosa tersebut akhirnya memeluk Islam.
Rosa adalah penginjil, selain bekerja di sebuah perusahaan di Jepang. Sebagai penginjil, Rosa merasa sedih dan menangis ketika mengetahui bahwa saudaranya telah beralih agama. Saat kabar ini terdengar oleh orang tua Rosa, Ayah dan Ibu Rosa juga bersedih hingga menghubungi Rosa supaya membujuk saudaranya agar kembali pada agama Kristen.
Setelah berdiskusi dan mendapatkan izin dari pimpinan gereja di Jepang, Rosa akhirnya berangkat ke Filipina untuk bertemu orang tuanya. Tentu bersamaan dengan kedatangan saudara Rosa dari Arab Saudi.
Rosa tak henti-hentinya mengajak saudaranya untuk kembali kepada Kristen. Bahkan saat sudah kembali ke Jepang, Rosa senantiasa menelepon untuk bertanya kabar dan terus mengajak saudaranya kembali kepada Kristen.

Mualaf Saat Hendak Mengkritik Islam
“Saya lalu membeli al-Quran terjemah Jepang, dan saat saya mulai membacanya dengan serius, saya tidak bisa berhenti. Aku hendak mengkritik Islam, namun di saat yang sama aku takjub dengan al-Quran,” kenang Rosa memulai pengembaraan intelektualnya terhadap Islam.
Rosa mulai meyakini, bahwa ajaran-ajaran kebaikan di Kristen yang Rosa kenal, justru memiliki kesamaan dengan nilai Islam. Rosa mengungkapkan bahwa ajaran berpuasa dan larangan memakan babi, justru menjadi titik temu dia mulai memahami ajaran Islam ini.
“Saya tidak memakan babi, karena itu ajaran di Bible. Meski kini banyak umat Kristen yang justru tidak melaksanakan ajaran tersebut. Termasuk ajaran berpuasa,” tegasnya.
Puncak ketertarikan pada Islam, bagi Rosa, adalah saat ia menyadari ajaran kasih sayang Islam, melalui saudaranya. Suatu ketika, ayah dan ibunya sakit, saudara Rosa-lah yang merawat dengan sepenuh hati. Saudara Rosa dengan sepenuh hati berbakti pada orang tua dan dengan teguh menjalankan ibadah sebagai umat Islam.
Di sanalah hati Rosa terenyuh. Perbedaan agama antara saudara Rosa dan orang tua, tidak membuat saudaranya menjauhi orang tua. Justru karena praktik kasih sayang ini, diiringi dengan pengetahuan Rosa tentang Islam yang bertambah. Akhirnya Rosa memilih masuk Islam, dengan melaksanakan ikrar syahadat di Masjid Tokyo Jami, salah satu masjid terkenal di Tokyo yang bersejarah.
Semua Menjadi Muslim
Dalam pengakuan Rosa, ketika orang tua juga mengetahui bahwa Rosa telah memeluk Islam. Kemudian seiring dengan pengalaman kasih sayang saudara Rosa terhadap orang tuanya, sebelum meninggal dunia. Akhirnya kedua orang tua Rosa turut masuk Islam dan bersyahadat.
“Nama Islam saya kini menjadi Aisyah, Ustaz”, ucap Rosa kepada Mohammad Ikhwanuddin, Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2026 Penugasan Jepang.
Rosa kini aktif hadir dalam kajian-kajian keislaman dan bergabung dengan komunitas muslim di Jepang, yaitu Ainul Yaqeen Foundation. Yayasan yang beralamatkan di Yanaka, Adachi-ku Tokyo, Japan tersebut merupakan perkumpulan komunitas muslim Indonesia di Tokyo, Jepang. yang dipelopori oleh Gina Farida Yazid, diaspora asal Indonesia yang telah tinggal di Jepang sejak 1983.
Teks dan foto: Mohammad Ikhwanuddin, Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2026 Penugasan Jepang.
Penyunting: Taufan YN
