YOGYAKARTA — Pagi itu, Senin, 16 Februari 2026, menjadi hari yang berat bagi Muhamad Mardiansyah, salah satu Dai Ambassador Dompet Dhuafa 2026 asal Gunung Kidul, Yogyakarta. Pasalnya, ia harus menumpuk rindu, dan mengemban amanah saat menarik koper menuju Australia. Semua menjadi tidak mudah untuk menjelaskan semua hal. Muhamad Mardiansyah bersama lambaian salam keluarga dan ombak di tepian Yogyakarta International Airport, ia menuju Australia, mengemban amanah dakwah Ramadan dari Dompet Dhuafa.
“Sebelum puasa tiba, saya harus meninggalkan rumah. Istri saya mengantar hingga ke bandara. Tatapannya menguatkan, meski saya tahu di dalamnya ada rasa haru sama seperti yang saya rasakan. Tentu ini kisah baru saya, bagian paling berat meninggalkan anak dan keluarga saya atas perjalanan ini. Sebagai seorang dai, meninggalkan keluarga bukan perkara mudah. Ada rindu yang sudah terasa bahkan sebelum pesawat itu lepas landas,” ungkap Muhamad Mardiansyah, kepada tim Dompet Dhuafa.
Sama seperti para Dai Ambassador lainnya, sebelum berangkat, ia sudah mendapatkan berbagai bekal, ditempa, dan dikuatkan melalui serangkaian pelatihan dari Dompet Dhuafa. Penguatan manhaj dakwah, pemahaman konteks sosial masyarakat diaspora hingga pembekalan mental dan spiritual menghadapi tantangan di negeri orang, semuanya menjadi bekal berharga.

Setiap Amanah Memiliki Jalan Penguatnya
Di ruang-ruang pelatihan itu, Muhamad Mardiansyah dan Dai Ambassador lainnya merasakan betul bagaimana Dompet Dhuafa mempersiapkan para dai dengan sungguh-sungguh. Semua diajak memahami bahwa dakwah di luar negeri memiliki tantangan tersendiri. Mulai dari perbedaan budaya, keterbatasan komunitas hingga kebutuhan spiritual yang khas bagi para perantau. Tentu bagi Muhamad Mardiansyah, semua itu membuatnya sadar bahwa tugas ini adalah amanah besar yang tidak boleh dijalankan setengah hati.
“Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dompet Dhuafa atas kepercayaan dan pembinaan yang luar biasa ini. Pelatihan yang diberikan bukan sekadar teori, tetapi penempaan karakter. Saya belajar bahwa menjadi Dai Ambassador bukan hanya tentang kemampuan berbicara saja. Tetapi tentang keteladanan, empati, dan kesiapan hadir di tengah umat dengan Solusi,” jelas Muhamad Mardiansyah.
Ketika akhirnya ia berdiri di ruang tunggu bandara, memandang layar keberangkatan menuju Australia, ia tahu bahwa akan membawa lebih dari sekadar koper. Ia akan mebawa ilmu, doa para asatidz, kepercayaan lembaga, dan harapan keluarga.

Baca Juga: Cerita Dai Ambassador: Perjalanan Panjang Menuju Jerman Awal Misi Dakwah Wahyu Septrianto
Menumpuk Rindu Untuk Dakwah Di Negeri Kanguru
Ia menuturkan bahwa istrinya menggenggam erat tangannya sebelum panggilan boarding terdengar. Tak banyak kata, hanya doa yang mengalir pelan. Dalam hati, ia berjanji akan menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Bahwa setiap langkah dakwah di negeri orang akan ia jalani dengan profesionalitas, keikhlasan, dan tanggung jawab.
Karena baginya perjalanan ini bukan sekadar perpindahan tempat. Ini adalah perjalanan pengabdian. Dari rumah yang hangat menuju medan dakwah yang luas. Dari pelukan anak menuju amanah yang tergenggam.
“Berat, iya. Tapi di balik berat itu, ada keyakinan bahwa Allah tidak pernah salah memilih hambanya untuk sebuah tugas. Sekali lagi terima kasih para donator Dompet Dhuafa atas kepercayaan dan pelatihan yang membentuk saya hari ini. Terima kasih kepada keluarga yang merelakan. Dan terkhusus kepada istri tercinta yang menguatkan langkah ini hingga pintu keberangkatan,” pungkasnya.
Kini perjalanan Muhamad Mardiansyah dimulai. Menuju Australia, menuju ladang dakwah. Menuju cerita-cerita baru tentang rindu, pengabdian, dan keyakinan bahwa setiap pengorbanan akan berbuah kebaikan.
Teks dan Foto: Muhamad Mardiansyah
Editor: Taufan YN

