Cerita Haji dan Rahasia Istiqomah di Negeri Sakura ala Sensei Sugimoto

Three men in traditional Muslim attire converse on a covered porch, one facing away while two look on thoughtfully.

DEPOK, JAWA BARAT — Perkembangan Islam di Jepang saat ini menunjukkan grafik yang tumbuh pesat. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan tantangan besar bagi para Muslim khususnya mualaf untuk mempertahankan keimanan mereka di wilayah minoritas.

Hal inilah yang mendasari pasangan suami-istri pendakwah, Sensei Sugimoto dan Ustazah Purwati, untuk kembali melanjutkan Safari Dakwahnya di Indonesia. Kali ini, pada Selasa (01/07/2026) lalu, mereka menyapa sekitar seratus jemaah yang memadati Masjid Adz Dzikri, Pesona Khayangan, Beji, Depok.

Dalam tausiahnya, pendakwah asal Negeri Sakura tersebut membagikan kisah spiritual yang mendalam mengenai esensi hijrah, makna filosofis ibadah haji, hingga kunci menjaga istiqomah yang ia rasakan sendiri sebagai seorang mualaf.

Panel discussion in a community room: two speakers at a table with a projected map on screen; audience seated in foreground.

Makna Haji: Replika Perjalanan Tobat Manusia di Dunia

Suasana khusyuk menyelimuti jemaah saat Sensei Sugimoto mengaitkan momen bulan Muharram—sebagai bulan hijrah dari kegelapan menuju cahaya—dengan pengalaman spiritual yang baru saja ia alami saat menunaikan ibadah haji pada Zulhijah lalu. Sebuah pertanyaan reflektif ia lontarkan: “Kenapa Arafah berada di luar wilayah Masjidil Haram?”.

Sensei Sugimoto kemudian mengajak jemaah mengingat kembali kisah penciptaan Nabi Adam as. Ketika iblis menolak bersujud kepada manusia dan para malaikat bertanya-tanya mengapa Allah menciptakan manusia, Allah menjawab, ‘Aku lebih mengetahui daripada engkau”.

“Ibarat Masjidil Haram adalah surga, maka Arafah itu adalah dunia. Ketika Nabi Adam as melakukan kesalahan di surga, ia diturunkan ke bumi lalu melakukan tobat terus menerus. Begitu pula manusia yang datang ke Arafah, esensinya adalah melakukan tobat. Allah tahu manusia bertobat, sedangkan iblis tidak,” ungkap Sensei Sugimoto.

Bagi Sensei, di sinilah jawaban dari rahasia firman Allah tadi terungkap. Manusia memang tempatnya salah, namun Allah sangat memercayai hamba-Nya dan selalu menunggu mereka kembali. Makna ini termanifestasi indah dalam kalimat Talbiyah: labbaik allahumma labbaik—Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku kembali kepada-Mu.

Lebih lanjut, ia menganalogikan prosesi melempar jumrah sebagai simbol perjuangan. Batu layaknya senjata. Manusia membutuhkan senjata untuk melawan tipu daya setan, dan senjata terbaik itu adalah keimanan serta amal kebaikan yang mampu menghapus keburukan.

Baca juga:Safari Dakwah di Depok, Sensei Sugimoto: Jumlah Muslim di Jepang Tumbuh Pesat Namun Tinggi Tantangan

Woman in a blue hijab speaks into a handheld microphone at a crowded community gathering.

Menjaga Istiqomah dengan “Waspada” terhadap Setan

Bagi seorang Muslim, khususnya mualaf, mempertahankan keimanan (istiqomah) adalah perjuangan seumur hidup. Setan tidak akan pernah memberikan celah atau peluang bagi manusia untuk berbuat baik hingga ajal menjemput.

Sensei Sugimoto mengingatkan kembali salah satu poin penting dari Khutbah Terakhir (Khutbatul Wada’) Rasulullah Saw. Iblis mungkin menyerah untuk menggoda orang-orang yang beriman kuat pada perkara-perkara besar, tetapi setan akan masuk memecah belah melalui hal-hal kecil, termasuk memicu pertengkaran dalam rumah tangga hingga berujung perceraian.

“Kita harus mengenal Allah, tetapi kita juga harus tahu siapa itu setan. Dengan begitu, kita bisa selalu waspada (was-was) terhadap tipu dayanya. Sensitivitas inilah yang menjadi salah satu cara menjaga istiqomah, yaitu dengan menghindari perkara mudharat dan memperbanyak kebaikan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa iman saja tidak cukup. Islam—yang berakar dari kata aslama yuslimu—menuntut berserah diri dan kepatuhan total kepada Allah, serta diwujudkan melalui amal saleh nyata.

Two speakers sit at a table with a green tablecloth on a stage, a projector screen behind them displays a poster titled 'Kalam Rabbu.'

Tantangan Pascasyahadat dan Misi Membangun Mualaf dan Islamic Cultural Center di Jepang

Secara kultural, warga Jepang umumnya telah memiliki karakter yang selaras dengan nilai Islam, seperti sopan, tepat waktu, disiplin, dan mendahulukan orang lain. Namun, ketika mereka memutuskan memilih Islam sebagai jalan hidupnya, tantangan terbesarnya adalah kehidupan setelah bersyahadat. Mereka membutuhkan ekosistem yang mendukung (support system), baik berupa pendampingan ilmu maupun fasilitas dakwah.

Dalam syariat Islam, mualaf sejatinya mendapatkan perhatian khusus karena mereka termasuk ke dalam salah satu dari 8 golongan (asnaf) yang berhak menerima zakat.

“Syahadat hanyalah permulaan, istiqomah yang utama. Itulah kenapa kami mengambil inisiatif dan butuh mendirikan Masjid Al-Muttaqin di Chiba sebagai pusat mualaf dan Islamic Cultural Center di Jepang,” pungkas Sensei Sugimoto di akhir dakwahnya.

Baca juga: Perkuat Syiar Islam, Dompet Dhuafa Dukung Pembangunan Masjid Al Muttaqin sebagai Islamic Culture Center di Chiba, Jepang

Close-up of a person reading an open brochure with photos and green section headings in a multi-panel pamphlet.

Masjid Al-Muttaqin di Chiba, Jepang, ini nantinya diproyeksikan tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai tempat bernaung, pusat pendampingan mualaf, perekonomian halal, serta pusat pendidikan agama Islam bagi generasi muda Muslim di Jepang.

Perjalanan menjaga istiqomah para mualaf di Jepang adalah panggilan bagi kita semua untuk saling menguatkan. Mari bentangkan kebaikan melintasi batas negara untuk menghadirkan rumah Allah di Jepang. Jadilah bagian dari hadirnya Masjid Al-Muttaqin di Chiba. Klik Hadirkan Masjid Permanen untuk Muslim di Chiba Jepang sekarang! (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika, Ronggo
Penyunting: Dedi Fadlil