Cerita Jemput Zakat dari Keluarga Anas & Niken, Istikamah Ber-Ziswaf

JAKARTA – Menjelang waktu berbuka puasa pada Selasa (17/03/2026), suasana rumah di kawasan Jakarta Pusat itu terasa hangat. Percakapan mengalir santai, sesekali diselingi tawa ringan. Dari ruang sederhana itu, Anas dan istrinya, Niken, berbagi cerita tentang pengalaman mereka selama menggunakan layanan Jemput Zakat Dompet Dhuafa.

Pasangan suami istri ini merupakan donatur setia Dompet Dhuafa yang telah bertahun-tahun mengamanahkan rezekinya. Anas adalah seorang Dosen di salah satu kampus bergengsi di Ibu Kota. Sementara istrinya merupakan seorang Pembimbing di lembaga pendidikan nonformal.

Baca juga: Cerita Jemput Zakat: Pasutri Ini Yakin Berzakat Melalui Dompet Dhuafa Sejak Tahun 2008, Transparan dan Penghasilan Bertambah

Anas mengenang perjumpaan pertamanya dengan para inisiator yang ikut mendirikan Dompet Dhuafa.

“Saya sendiri memang pernah terlibat secara tidak langsung waktu proses pendirian Harian Umum Republika,” katanya.

“Belakangan kita menyaksikan, dari lembaga inilah lahir Dompet Dhuafa,” lanjutnya.

Sejak saat itu, Anas telah menyaksikan bagaimana proses perkembangan Dompet Dhuafa dari masa ke masa. Bagi Anas, kepercayaan bukan sesuatu yang hadir begitu saja. Ia tumbuh dari pengalaman panjang dan keyakinan yang terjaga.

“Dompet Dhuafa itu salah satu pelopor amil zakat yang modern dan amanah,” katanya.

“Laporan keuangannya juga transparan,” imbuh Anas.

Kepercayaan itulah yang membuatnya bertahan hingga hari ini. Ia menyaksikan sendiri bagaimana pengelolaan zakat berubah dari waktu ke waktu dari yang serba sederhana hingga kini makin profesional.

“Dulu masih offline, konvensional,” kenangnya.

Namun justru dari pengalaman itu, ia memahami satu hal penting yakni kepercayaan saja tidak lagi cukup. Di masa lalu, masyarakat banyak mengandalkan figur.

Baca juga: Percaya Dompet Dhuafa dan Gunakan Layanan Jemput Zakat, Donatur: Keberkahan Zakat Majukan Ekonomi Muslim

“Dulu dasarnya trust, percaya pada ulama,” tutur Anas.

Kini, kebutuhan berubah. Transparansi dan pengelolaan yang rapi menjadi tuntutan yang tak terhindarkan.

“Transaksi makin banyak. Kalau tidak teradministrasi dengan baik, akan sulit,” ungkapnya.

Di titik itulah ia melihat perbedaan yang signifikan. Baginya, Dompet Dhuafa sebagai lembaga zakat yang ia percayai mampu menjawab tantangan zaman dengan keterbukaan.

“Yang paling penting bagi masyarakat itu keterbukaan. Dulu hanya ditulis sederhana masuk segini, keluar segini. Kurang rinci,” katanya.

Kini, sistem telah berkembang. Layanan jemput zakat, pencatatan digital, hingga bukti transaksi yang rapi menjadi bagian dari pengalaman baru sebagai donatur.

“Sekarang sudah lebih canggih. Dulu belum ada seperti ini, belum ada WhatsApp. Sangat membantu sekali layanan zakat seperti ini,” ujarnya. “Kami pribadi lebih suka ketemu orang langsung daripada tidak bertemu sama sekali.”

Di balik komitmen itu, ada disiplin yang dibangun bersama keluarga. Setiap bulan, sebagian rezeki telah memiliki “alamat” yang jelas: zakat, infak, sedekah dan wakaf.

“Tiap bulan kami sudah alokasikan zakat, infak, juga wakaf,” jelasnya. “Dua setengah persen untuk zakat, setengah persen infak, dan setengah persen wakaf. Dari dulu, sejak orang tua saya masih ada, sudah seperti itu,” tuturnya.

Sebagian dari itu bahkan diniatkan untuk orang-orang tercinta yang telah tiada. Sebuah bentuk cinta yang terus mengalir. Di sampingnya, sang istri, Niken Rapah Dayani, menyimak sambil sesekali menambahkan cerita. Baginya, berbagi lebih dari soal memberi, lebih dari itu, memberi adalah tentang apa yang ingin ditanamkan untuk masa depan.

Ia percaya, perubahan hidup berakar dari dua hal mendasar: pendidikan dan kesehatan. Nilai itu ia kaitkan dengan keyakinan yang ia pegang sejak lama.

“Kalau kita mau mengubah nasib atau ekonomi, harus mulai dari pendidikan,” tuturnya. “Dan pendidikan itu hanya bisa berjalan baik kalau sehat. Islam sendiri, ayat pertamanya ‘Iqra’, bacalah.”

Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai keyakinan pribadi. Di dalam rumah, ia dan suami memilih cara sederhana: memberi contoh. Empat anak mereka tumbuh dalam rutinitas yang dibangun perlahan dari ibadah hingga kebiasaan berbagi.

Baca juga: Berikan Kemudahan Bagi Para Donatur, Dompet Dhuafa Berikan Layanan Premium Melalui Program Jemput Zakat

“Semuanya lewat contoh,” katanya. “Yang penting itu ritual dan rutinitas yang ditanamkan. Sambil silaturahmi, kita berbagi juga.”

Berbagi, bagi keluarga ini, bukan aktivitas musiman. Ia hadir dalam perjalanan, dalam silaturahmi, dalam kunjungan ke sanak saudara.

Namun bagi Anas, perjalanan lembaga zakat tidak boleh berhenti pada apa yang sudah ada. Ia melihat masih banyak ruang yang perlu dijangkau wilayah yang belum tersentuh, masyarakat yang belum terlayani.

“Masih banyak daerah yang belum tersentuh,” ujarnya.

Di tengah perubahan zaman, ia menaruh harapan pada inovasi. Teknologi, menurutnya, bisa menjadi jembatan baru untuk memperluas kebaikan. Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya mendekati generasi muda dengan cara yang berbeda, lebih ringan dan dekat dengan keseharian mereka.

“Kalau dulu zakat identik dengan masjid, mungkin nanti bisa jadi lebih dekat bahkan seperti di kafe.”

Sore itu, proses donasi berlangsung seperti rutinitas yang sudah akrab. Nama-nama disebut istri, anak, hingga orang tua yang telah tiada semuanya ikut hadir dalam niat yang sama.

“Bismillah, atas nama almarhumah ibu saya, atas nama almarhum bapak saya,”

Ada zakat, ada wakaf, ada harapan yang dititipkan dalam setiap rupiah yang diberikan. Sebagian untuk pendidikan, sebagian untuk kesehatan dua hal yang diyakini sebagai fondasi kehidupan.

Di sela proses administrasi yang cukup detail, percakapan tetap mengalir santai. Dari cerita kampung halaman, suasana Ramadan, hingga kenangan perjalanan. Semua terasa sederhana, namun hangat.

Di rumah itu, cerita tentang zakat, keluarga, dan masa depan menyatu dalam percakapan hangat. Bagi Anas dan Niken, memberi adalah cara menjaga nilai, merawat ingatan, dan menyiapkan generasi yang lebih peduli. Di sanalah, kebaikan tidak hanya dilakukan, tetapi juga diwariskan. (Dompet Dhuafa)

Teks dan Foto: Aji Pangestu
Penyunting: Dhika