Climate change semakin terlihat melalui pergeseran pola cuaca dan frekuensi bencana alam yang meningkat di berbagai belahan dunia. Fenomena ini menjadi pengalaman nyata yang dialami masyarakat di berbagai wilayah. Perubahan iklim telah mempengaruhi suhu rata-rata global dan mengubah siklus hujan sehingga meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan bencana lainnya. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) mencatat bahwa suhu rata-rata permukaan bumi sejak akhir abad ke-19 meningkat sekitar 1,1°C, dan sebagian besar peningkatan ini berasal dari aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Artinya, situasi yang kita hadapi hari ini adalah akibat dari perubahan lingkungan yang terus berjalan sejak lama.
Baca Juga: Alam Semakin Rusak, Apakah Pertanda Bumi Semakin Dekat pada Kiamat?
Dampak Climate Change terhadap Siklus Air
Perubahan iklim telah mengubah cara air bergerak di alam. Ketika suhu udara meningkat, kemampuan atmosfer untuk menyimpan uap air juga meningkat. Akibatnya, hujan ekstrem cenderung menjadi lebih sering terjadi. Pada waktu lain, daerah yang biasanya menerima hujan moderat dapat mengalami kekeringan berkepanjangan. Climate change memicu perubahan pola hujan yang makin sulit diprediksi. Ketika perubahan ini bertemu dengan lingkungan yang rusak, risiko banjir bandang menjadi lebih besar.
Perubahan siklus air ini tidak hanya berefek pada curah hujan, tetapi juga sebaran hujan. Daerah hulu sungai yang kehilangan tutupan vegetasi cenderung mempercepat aliran air ke hilir. Ketika curah hujan ekstrim terjadi, sungai tidak mampu menahan debit air secara efektif, sehingga banjir lebih mudah meluas ke pemukiman penduduk.
Baca Juga: Sejarah Nabi Nuh dan Relevansinya di Hari Ini
Perubahan Lingkungan yang Terjadi di Indonesia
Dampak climate change menjadi lebih berat ketika terjadi di wilayah yang kondisi lingkungannya sudah rapuh. Di negara dengan hutan tropis dan curah hujan tinggi seperti Indonesia, perubahan kecil pada pola hujan dapat memicu dampak besar jika daya dukung alam terus menurun.
Perubahan lingkungan memberi dampak nyata bagi Indonesia sebagai negara dengan hutan tropis dan curah hujan tinggi. Deforestasi dan alih fungsi lahan di berbagai wilayah telah mempengaruhi stabilitas siklus air. Data Global Forest Watch menunjukkan bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektare hutan antara tahun 2002 dan 2021 akibat pembalakan dan pembukaan lahan secara masif.
Hilangnya hutan berdampak pada kemampuan tanah menyerap air. Pohon-pohon berusia puluhan dan ratusan tahun, akarnya selama ini menyerap dan menyimpan air ketika hujan, deforestasi menghilangkan fungsi penyerapan air ini. Sehingga ketika hujan deras turun, air mengalir langsung ke sungai dan saluran drainase tanpa tertahan di tanah. Akibatnya, risiko banjir meningkat dan durasi banjir menjadi lebih panjang.
Baca Juga: Banjir Nabi Nuh, Apa Pelajaran Berharga Bagi Kita?
Climate Change dan Banjir Bandang di Berbagai Wilayah Indonesia
Kondisi alam di Sumatera dan beberapa daerah lainnya di Indonesia, memperlihatkan hubungan nyata antara climate change dan risiko bencana. Banjir bandang yang terjadi di wilayah tersebut merupakan contoh bagaimana perubahan lingkungan mempercepat dampak bencana. Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang, eksploitasi hutan tanpa pengelolaan yang seimbang membuat daerah hulu kehilangan sistem penyangga alami.
Hutan yang rusak tidak lagi mampu menahan air hujan, sehingga sejumlah wilayah turunannya menerima aliran air yang sangat besar secara tiba-tiba. Banjir bandang yang melanda memaksa banyak keluarga meninggalkan rumah mereka dan menghadapi kerusakan fasilitas publik. Pola ini menunjukkan bahwa climate change tidak terjadi secara terpisah dari aktivitas manusia yang merusak lingkungan.
Beberapa lembaga internasional mencatat hubungan kuat antara perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana. Laporan United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) menunjukkan bahwa frekuensi bencana berbasis cuaca meningkat tajam dalam empat dekade terakhir, khususnya banjir dan badai hebat. Perubahan iklim dan lingkungan seperti peningkatan suhu global, berkurangnya tutupan hutan, dan degradasi tanah semuanya berkontribusi pada besarnya skala bencana.
Baca Juga: Sejarah Banjir Bandang di Dunia
Tanggung Jawab Manusia terhadap Alam
Dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah ayat 30, Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara ciptaan Allah di bumi. Allah juga memerintahkan dalam surat Al-A’raf ayat 56, bahwa manusia diciptakan untuk mengelola bumi dengan baik dan tidak membuat kerusakan.
“Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56).
Menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab setiap manusia. Kerusakan lingkungan yang terjadi hari ini sering berakar pada tindakan manusia yang mengabaikan kelestarian alam.
Ketika alam terganggu, kehidupan sosial manusia ikut berubah. Anak-anak kehilangan akses sekolah saat banjir, orang dewasa kehilangan pekerjaan karena lahan pertanian rusak, dan layanan kesehatan terganggu karena fasilitas tidak dapat diakses. Dampak ini memperlihatkan bahwa perubahan lingkungan membawa dampak bukan hanya terhadap alam, tetapi juga terhadap struktur sosial dan ekonomi masyarakat. Kondisi ini mendorong masyarakat untuk tidak hanya berdiam melihat bencana sebagai kejadian alam yang terpisah. Kita perlu bergotong-royong mengambil tanggung jawab sosial, agar kondisi alam dapat menuju pada arah perbaikan.
Baca Juga: Bantuan untuk Sumatera, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Upaya Mitigasi Melalui Reboisasi
Salah satu upaya penting dalam menghadapi dampak climate change adalah reboisasi atau penanaman pohon. Pohon memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ia membantu menyerap air hujan, menjaga kelembaban tanah, dan mengikat karbon yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Menanam pohon bukan sekadar aksi simbolis. Setiap batang yang ditanam dan dirawat memberi dampak nyata terhadap daya dukung lingkungan. Kegiatan ini dapat membantu alam mengendalikan limpasan air hujan dan memperlambat erosi tanah, sehingga risiko banjir bisa ditekan.
Dompet Dhuafa menginisiasi gerakan penanaman pohon sebagai bagian dari solusi jangka panjang terhadap rusaknya lingkungan. Program ini mengajak masyarakat untuk ikut menanam dan merawat pohon di berbagai wilayah yang sudah mengalami deforestasi. Dengan partisipasi yang luas, upaya ini menjadi langkah nyata dalam memulihkan kondisi lingkungan.
Melalui program ini, siapa pun bisa berkontribusi sesuai kemampuannya. Dukungan tidak hanya membantu memperbaiki lingkungan yang rusak, tetapi juga mendukung habitat satwa liar, memperbaiki keseimbangan air tanah, serta ikut serta dalam penyerapan karbon yang membantu melawan perubahan iklim.
Climate change memberi tanda bahwa cara manusia memperlakukan alam sangat menentukan kualitas hidup di masa depan. Perubahan lingkungan yang terus berlangsung bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Kita semua memiliki peran dalam menjaga bumi ini. Melalui kontribusi nyata, khususnya dalam bentuk penanaman pohon dan partisipasi dalam upaya pemulihan lingkungan, kita ikut menjaga masa depan generasi yang akan datang. Dukungan terhadap program penanaman pohon adalah salah satu langkah konkrit yang bisa diambil oleh siapa saja yang peduli terhadap kehidupan yang lebih berkelanjutan.


