Dari Zakat Perusahaan ke Peningkatan Keahlian: Dukungan PT Agrinesia Raya melalui Dompet Dhuafa untuk Upskilling Barista

TANGERANG — Indonesia merupakan negara dengan jumlah tempat ngopi terbanyak di dunia. Laporan global Point of Interest (POI) per November 2025 mengungkap, terdapat lebih dari 460 ribu coffee shop di Indonesia, mencakup gerai modern, kedai tradisional, hingga warkop pinggir jalan yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.

Untuk menjawab peluang tersebut, PT Agrinesia Raya menyalurkan zakat perusahaan melalui Dompet Dhuafa dalam bentuk Program Pelatihan Barista Upskilling, sebagai upaya mendorong peningkatan kompetensi dan kemandirian ekonomi masyarakat.

Pelatihan tersebut berlangsung selama lima hari mulai 12 hingga 16 Januari 2026, di Kompleks Islamic Village, Jl Zaitun Raya, Klp. Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten. Kegiatan tersebut menghadirkan Q Arabica Grader berpengalaman, yakni Syaiful Bari, dan diikuti oleh sepuluh peserta dari berbagai daerah.

Selama lima hari pelatihan tersebut ada dua materi pokok yang disampaikan. Pertama hardskill tentang teknis perkopian mulai dari Coffee Value Assessment (CVA), Cupping Coffee, Pengenalan Sensory Skill Kopi, dan Sensory Intermediate (Defect & Off-Flavor). Kedua materi softskill mencakup Growth Mindset, Komunikasi & Service Excellent, serta Literasi Keuangan.

Manajer Fundraising & Komunikasi Institut Kemandirian DD, Sri Apriyanti, mengatakan bahwa program pelatihan ini merupakan buah kolaborasi antara Dompet Dhuafa melalui Institut Kemandirian dan PT Agrinesia Raya. Untuk itu, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada PT Agrinesia Raya sebagai donatur. Sri Apriyanti berharap, kerja sama ini bisa terus berlanjut sehingga akan ada banyak program kebaikan yang bisa dikerjakan bersama.

Baca juga: Dompet Dhuafa dan Agrinesia Raya Hadirkan Madina Bakery, Sebuah Inovasi Pemberdayaan Berbasis Zakat Preneurship

Institut Kemandirian merupakan lembaga pendidikan vokasi di bawah naungan Dompet Dhuafa langsung yang berfokus pada berbagai pelatihan praktis. Program pelatihan Upskilling ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan basic yang sudah berjalan hampir 7 batch. Tujuannya adalah meningkatkan kompetensi barista agar lebih profesional dan berdaya saing.

Menurut Sri, misi utama pelatihan yang dibuat oleh Institut Kemandirian DD adalah untuk meminimalisasi pengangguran dan menekan angka kemiskinan.

“Kita ingin teman-teman bekerja secara profesional, berintegritas, dan memiliki skill komunikasi yang baik. Itulah mengapa kami juga memberikan pelatihan berupa softskill,” ucapnya.

Manajer Fundraising & Komunikasi Institut Kemandirian itu berharap pelatihan ini dapat mendorong karir peserta di dunia perkopian.

“Sehingga meningkatnya skill, akan berdampak pada meningkatnya pendapatan,” ungkap Mbak Sri, sapaan akrabnya.

Sri bercerita, membuka program pelatihan barista memiliki tantangannya tersendiri. Pada mulanya banyak peserta yang tampak antusias dia awal, tetapi motivasi itu segera pudar begitu pelatihan berakhir.

“Masih banyak anak-anak mudah yang ikut karena FOMO (Fear of Missing Out),” tambahnya.

Baca juga: Penyaluran Zakat PT Agrinesia Raya Dorong Pengembangan UMKM di Bogor

PT Agrinesia Raya, perusahaan yang bergerak di bidang produksi makanan khas Nusantara, tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis semata, tetapi juga menjunjung tinggi nilai sosial. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyaluran zakat perusahaan melalui Dompet Dhuafa yang telah berjalan sejak tahun 2021 hingga saat ini, dengan implementasi dalam berbagai program pemberdayaan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, salah satunya dalam bentuk pelatihan Barista Upskilling.

Berbeda dengan pelatihan barista basic sebelumnya, pelatihan kali ini difokuskan pada peserta yang sudah melewati tahap dasar.

Namun hal itu tidak berlaku bagi Bukhari, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Tangerang. Ia adalah peserta yang telah mengikuti program pelatihan barista dasar pada tahun 2024 lalu dan lanjut mengikuti pelatihan Upskilling 2026. Pascapelatihan dua tahun lalu, Bukhari telah memenangkan berbagai kompetisi perkopian.

“Saya mengikuti lomba P2MW singkatan dari Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha. Aku mendapatkan Rp15 juta pendanaan. Alhamdulillah. Kemudian aku ikut juga KMI Expo di Magelang dan mendapat juara harapan tiga dari 800 tim se-Indonesia. Berkat pelatihan ini aku bisa melangkah sejauh sekarang,” tuturnya.

Bukhari menuturkan biasanya pelatihan dasar barista di luar sana berbayar dan harganya berkisar mulai dari Rp6 juta-an. Sementara, untuk kelas Upskilling bisa lebih mahal lagi. Tapi, berkat Dompet Dhuafa dan para donatur kebaikan, Bukhari dapat mempelajari keterampilan yang dia suka secara cuma-cuma.

“Ini hal yang harus aku syukuri juga, aku pasti bakal memaksimalkan dan memanfaatkan peran aku di sini,” imbuhnya.

Baca juga:Alumni Institut Kemandirian: Dirumahkan Saat Pandemi, Kini Jago Bikin dan Buka Kedai Kopi

Dia berharap program semacam ini bisa terus berkelanjutan. Karena dampaknya yang signifikan terhadap sosial-kemanusian sebagaimana yang ia rasakan langsung. “Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada donatur dalam hal ini PT. Agrinesia Raya, Dompet Dhuafa dan Institut Kemandirian yang telah memfasilitasi selama proses pembelajaran,” kata Bukhori.

“Aku berharap bisa mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, aku bisa membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain,” pungkasnya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Dhika