JAKARTA — Gelombang solidaritas untuk sembilan Warga Negara Indonesia (WNI) yang ditahan oleh militer Israel terus mengalir di ibu kota. Sore tadi, Kamis (21/5/2026), sejumlah insan Dompet Dhuafa turun langsung ke jalan, melebur bersama massa aksi dalam Aksi Kamisan di depan Istana Negara untuk menuntut keadilan bagi rekan-rekan mereka.
Kolaborasi aksi damai ini menjadi panggung tuntutan bersama atas penahanan lima aktivis kemanusiaan dan empat jurnalis asal Indonesia. Mereka dicegat dan ditangkap saat membawa bantuan kemanusiaan di laut lepas dalam misi Global Sumud Flotilla menuju Gaza.
Arif Rahmadi Haryono selaku GM Advokasi Dompet Dhuafa menegaskan, kehadiran para insan lembaga di barisan hitam Aksi Kamisan sore ini adalah bentuk nyata bahwa mereka berdiri bersama para korban dan keluarganya. Insiden di perairan internasional tersebut dinilai murni sebagai tindakan penculikan terhadap misi kemanusiaan tanpa kekerasan.
“Sore hari ini kami bersama teman-teman Aksi Kamisan dan peserta gerakan pembebasan masyarakat Palestina mendorong pembebasan warga negara Indonesia yang disandera di Israel. Sembilan orang itu, lima adalah aktivis kemanusiaan dan empat itu adalah jurnalis,” ujar Arif di tengah riuhnya massa aksi Kamisan.



Baca juga:Diculik Zionis, Harapan untuk Ronggo dan Ust Herman dari Insan Dompet Dhuafa
Di sela-sela orasi Kamisan, Arif juga membagikan update krusial yang baru saja diterima di lapangan. Berdasarkan informasi terakhir, seluruh delegasi dikabarkan telah dikeluarkan dari penjara Israel, meski pihak lembaga dan jaringan advokasi masih terus mengawal ketat ke mana arah deportasi mereka selanjutnya.
Selain berfokus pada keselamatan relawan, jalannya aksi sore tadi juga diwarnai gelombang kritik tajam dari berbagai elemen sipil terhadap respons pemerintah. Nadine Sherani, perwakilan dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), menegaskan bahwa insiden ini tidak bisa dianggap sebagai pencegatan biasa.
“Mereka tidak hanya ditangkap, tapi mereka diintersep, mereka diculik di laut lepas. Bukan cuma sekadar dicegat seperti yang dikatakan oleh Kementerian Luar Negeri,” cetus Nadin di tengah riuhnya gemuruh orator Aksi Kamisan.


Desakan diplomasi yang lebih agresif turut disuarakan oleh Adam dari Komunitas Indonesia Ayo Bersepeda yang mendesak pemerintah memanfaatkan segala celah lobi internasional untuk melindungi warga negaranya.
“Kami meminta kepada Presiden RI, terutama ya, dan Menteri Luar Negeri juga, untuk bisa melobi. Karena Indonesia kan tidak punya hubungan diplomatik secara diplomasi. Tetapi walaupun bagaimana, teman kami adalah orang-orang yang punya rasa kemanusiaan, bukan rasa ingin berperang di sana. Tolong bantu bebaskan!” tegas Adam.
Di sisi lain, pihak Dompet Dhuafa menjelaskan bahwa sejak awal konfirmasi penangkapan beredar, mereka telah bergerak maraton melakukan lobi dengan Kemenlu, DPR, hingga Kantor Staf Presiden (KSP). Selain jalur diplomasi, pengawalan terhadap kondisi mental keluarga rekan-rekan yang ditahan juga menjadi fokus utama pergerakan di dalam negeri.
“Kami selalu keep in touch dengan pihak keluarga. Kami melakukan pendampingan psikologis dan juga bantuan hukum kepada para keluarga,” tambah Arif Rahmadi Haryono.
Baca juga: Terus Kecam Pembajakan Armada Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 oleh Zionis Israel


Meski diintersepsi dengan intimidasi militer di laut lepas, kehadiran para Insan Dompet Dhuafa yang menyatu dengan keteguhan massa lintas komunitas di Aksi Kamisan hari ini mengirimkan pesan lantang: tindakan semena-mena tersebut justru membakar semangat gerakan kemanusiaan di Indonesia untuk makin kuat menembus blokade Gaza.
“Insyaallah tidak menyurutkan semangat. Teman-teman yang menjadi sukarelawan ke Gaza sudah memahami risikonya. Insiden ini justru membuat kami semakin semangat untuk menembus blokade kemanusiaan,” pungkas Arif. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Roseta
Penyunting: Dhika

