Di Ruang Pelatihan Institut Kemandirian, Para Disabilitas Belajar Berdiri di Atas Kaki Sendiri

TANGERANG — Di sebuah ruangan sederhana di Kampus Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa Karawaci, Tangerang, suara tawa dan sapaan antusias terdengar bersahut-sahutan. Kamera ponsel mulai menyala, tripod disesuaikan, dan tangan-tangan penuh semangat belajar menyapa audiens yang belum terlihat. Bagi 14 penyandang disabilitas yang hadir hari itu, live selling menjadi salah satu pintu menuju harapan baru.

Institut Kemandirian Dompet Dhuafa resmi membuka Pelatihan Digital Live Selling bagi penyandang disabilitas pada 27 Januari 2026. Program ini menjadi ruang belajar sekaligus ruang percaya diri bagi mereka yang selama ini kerap berhadapan dengan keterbatasan akses kerja formal.

Peserta pelatihan datang dari latar belakang yang beragam, 7 laki-laki dan 7 perempuan usia produktif. Namun, mereka punya satu kesamaan, yakni keinginan untuk mandiri. Melalui kolaborasi Institut Kemandirian dengan MPZ (Mitra Pengelola Zakat) Yayasan Indonesia Setara, serta dukungan mitra Inklusi dan Yayasan Disabilitas Mandiri, pelatihan ini dirancang untuk menjawab tantangan dunia kerja di era digital.

Baca juga: Potong Rambut, Potong Jalan Kemandirian: Institut Kemandirian Buka Peluang Baru bagi Masyarakat

Direktur Institut Kemandirian, Abdurrahman Usman, menyampaikan bahwa kesetaraan sejati tidak cukup diwacanakan, tetapi harus dihadirkan dalam bentuk akses dan kesempatan yang nyata.

“Penyandang disabilitas bukan kelompok yang perlu dikasihani. Mereka memiliki potensi yang sama untuk tumbuh dan berdaya, selama diberi ruang yang adil dan kepercayaan,” ujarnya.

Di tengah pesatnya pertumbuhan retail digital, live selling hadir sebagai peluang kerja yang semakin relevan. Bidang ini tidak menuntut mobilitas tinggi atau ruang kerja konvensional. Dengan kamera, koneksi internet, dan kemampuan komunikasi, siapa pun dapat berjualan dari rumah.

Kesempatan inilah yang ingin dibuka melalui pelatihan ini. Para peserta dibekali keterampilan teknis seperti dasar live streaming, pengelolaan algoritma, strategi produk dan audiens, hingga analisis performa siaran. Mereka juga dilatih membangun kepercayaan diri, personal branding, serta kemampuan berkomunikasi dengan audiens.

Baca juga: Program Institut Kemandirian Berikan Peluang Keterampilan & Kemandirian bagi 574 Penerima Manfaat dari 16 Pelatihan Sepanjang 2025

General Manager Pengembangan Jaringan Cabang dan MPZ Dompet Dhuafa, Bobby Manulang, mengingatkan bahwa di balik teknologi, kunci keberhasilan tetaplah manusia.

“Lebih dari setengah keputusan konsumen dipengaruhi oleh cara produk dipresentasikan. Di sinilah kreativitas dan kejujuran menjadi kekuatan. Teman-teman hari ini bertemu dengan lembaga yang siap mendampingi, manfaatkan ini sebagai langkah awal untuk mandiri,” katanya.

Hari-hari pelatihan diisi dengan praktik langsung. Peserta mencoba menyapa kamera, mempromosikan produk, hingga belajar membaca respons audiens. Ada rasa gugup di awal, namun perlahan berubah menjadi senyum dan keyakinan.

Bagi Institut Kemandirian, pelatihan ini adalah upaya membuka jalan agar penyandang disabilitas dapat berdiri sejajar, berdaya secara ekonomi, dan diakui kapasitasnya di industri kreatif dan retail digital.

Di balik layar live selling yang sederhana itu, tumbuh mimpi-mimpi besar, tentang kemandirian, tentang kesempatan yang setara, dan tentang masa depan yang bisa dibangun dengan tangan sendiri. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Siti Halimatussadiah, Aji Pangestu
Penyunting: Dhika