Dompet Dhuafa Bersama PARFI 56 Gelar Tadarus Puisi dan Buka Puasa Bersama di Philanthropy Building

JAKARTA — Dompet Dhuafa menggelar kegiatan Tadarus Puisi dan Buka Puasa Bersama pada Selasa (10/03/2026) di Sasana Budaya Rumah Kita, Philanthropy Building, Jakarta. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 16.00 hingga 18.00 WIB ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan Kalcer 1447 Hijriah Dompet Dhuafa.

Dalam sambutannya, Anggota Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Andi Makmur Makka, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap puisi yang melibatkan berbagai kalangan, tidak hanya sastrawan.

“Perhelatan ini sebetulnya apresiasi untuk puisi, karena itu pembaca puisi yang akan tampil ini rata-rata karyawan. Ada dokter, ada ustaz, kemudian ada ekonom—pokoknya semuanya yang tidak pernah bermimpi menjadi pembaca puisi,” ujarnya.

Andi juga menyampaikan apresiasi kepada sejumlah tokoh sastra dan budayawan yang hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, antara lain Jose Rizal dan Olivia Zalianty, yang dinilai telah memberi inspirasi bagi para pecinta puisi.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi secara bergantian oleh para peserta yang telah dijadwalkan. Sebelum sesi dimulai, pembawa acara mengajak hadirin untuk menghayati makna dari setiap bait puisi yang dibacakan.

“Selanjutnya mari kita bersama-sama menyelami makna, menghayati setiap bait yang berbisik tentang cinta Ilahi,” ujar pembawa acara.

Baca juga: Musikalisasi Puisi Panji Sakti Tutup SOH X Sitapa Fest, Khidmat Renungkan Warga Palestina

Jajaran Pembina, Pengurus Dompet Dhuafa, tokoh, dan budayawan turut ambil bagian sebagai pembaca puisi dalam kegiatan tersebut. Antara lain seperti Jose Rizal, Olivia Zalianty, Ahmad Juwaini, Ahmad Pranggono, Harun Al-Rasyid, Ika Akmala, Ika Mustika, Juperta Panji Utama, Rahmad Riyadi, serta drg. Rima Febrianti.

Dalam epilognya, Yudi Latif menekankan bahwa puisi memiliki kedekatan yang sangat erat dengan pengalaman religius. Menurutnya, pemahaman terhadap agama dan kitab suci tidak hanya membutuhkan pendekatan rasional, tetapi juga kepekaan simbolik yang sering hadir dalam bahasa puisi.

Ia mengutip pemikiran Mircea Eliade yang menyebut bahwa inti studi agama adalah memahami simbolisme.

“Seperti kata Mircea Eliade, esensi studi agama itu sebenarnya adalah studi tentang simbolisme. Begitu pentingnya simbolisme dalam agama, dan puisi memberi perasaan yang berbeda di hati kita,” ujar Yudi.

Yudi menjelaskan bahwa banyak pesan dalam kitab suci disampaikan melalui metafora dan bahasa puitik. Oleh karena itu, kemampuan memahami simbol dan imajinasi menjadi penting untuk menghayati makna spiritual yang lebih dalam.

“Al-Qur’an bukan hanya kitab pengetahuan, tetapi juga kitab kesusastraan yang harus dihayati. Perhatikan baris-baris Al-Qur’an, baik dari segi bentuk maupun pengucapannya, semuanya kaya dengan metafora,” katanya.

Baca juga: Protokol Hubungan, Puisi Cinta Untuk Corona oleh Parni Hadi

Ia mencontohkan sejumlah gambaran metaforis dalam Al-Qur’an, seperti perumpamaan tentang pohon yang baik dengan akar yang kuat dan buah yang terus berbuah.

“Manusia yang baik itu seperti pohon yang baik—akarnya menghujam dalam, batangnya menjulang tinggi, dan berbuah sepanjang tahun. Semua disampaikan dalam metafora,” ujarnya.

Lebih jauh, Yudi menilai kepekaan puitik juga penting untuk menumbuhkan empati sosial, terutama dalam kerja-kerja kemanusiaan.

“Kalau sekarang bantuan sosial sering tidak sampai ke sasaran, salah satunya karena para pengambil kebijakan tidak memiliki daya puitik—tidak bisa melihat dengan mata batin dan tidak tersentuh oleh penderitaan rakyat,” ungkapnya.

Ia berharap kegiatan sastra seperti pembacaan puisi dapat memperkaya kepekaan batin sekaligus memperkuat empati terhadap sesama, terutama di bulan Ramadan.

“Semoga peristiwa kecil hari ini bisa memantik kekayaan rohani kita dan menghidupkan api empati kepada mereka yang menderita,” tuturnya.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simbolis penyerahan I’tikaf Kit Ramadan 1447 H, sebuah program yang bertujuan meningkatkan kebersamaan serta kualitas spiritual keluarga besar lembaga selama bulan suci.

Baca juga: Dompet Dhuafa dan PARFI 56 Sepakati Kolaborasi untuk Kampanye Kemanusiaan dan Pemberdayaan Budaya

Melalui kegiatan ini, Dompet Dhuafa berharap sastra dapat menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus mempererat silaturahmi di bulan suci Ramadan. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Aji Pangestu
Penyunting: Dhika