Semangat, Keputusan Berat, dan Dukungan yang Kuat bagi Indonesia Global Peace Convoy

Relawan solidaritas Global Sumud Flotilla sebelum melakukan pelayaran misi damai penyaluran bantuan kemanusiaan dan membuka blokade ke Gaza di Tunisia, Ahad (07/09/2025). (DD/Dedi Fadlil).

TUNISIA — Dari pesisir Tunisia, Global Sumud Flotilla pada Ahad, 14 September 2025, berangkat menuju Gaza. Konvoi itu berlayar dengan membawa 16 kapal, mengangkut relawan dari lebih dari 40 negara, dan membawa pesan bahwa dunia tidak tinggal diam atas genosida bagi Palestina.

Para relawan datang dengan latar beragam—tenaga medis, aktivis kemanusiaan, jurnalis, hingga tokoh masyarakat. Mereka meninggalkan kenyamanan rumah masing-masing untuk satu misi: menembus blokade dan memastikan bantuan sampai ke tangan rakyat Palestina, serta membangkitkan kesadaran dunia atas genosida yang berlangsung. Flotilla ini menegaskan gerakan damai tanpa kekerasan (non-violence).

Indonesia, melalui Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), sejak awal menjadi salah satu delegasi dengan semangat tinggi. Puluhan relawan sudah disiapkan, kapal bahkan diberi nama pahlawan nasional, dari Soekarno hingga Malahayati, simbol bahwa bangsa ini selalu berdiri bersama Palestina.

Baca juga: Drone Tak Berawak Kembali Serang Kapal Kemanusiaan Global Sumud Flotilla

Namun, realita di lapangan berbicara lain. Berhari-hari menunggu dan mengikuti pelatihan di Tunisia, tim menghadapi kendala teknis: kapal yang rusak membuat tidak layak berlayar, kapasitas terbatas sementara peserta terus membludak, cuaca tak menentu, hingga potensi ancaman keamanan. Steering Committee Global Sumud Flotilla (SC GSF) terpaksa memangkas jumlah peserta sesuai ketersediaan kapal yang berkurang hingga akhirnya, pada 12 September 2025, IGPC resmi menyatakan mundur.

“Keputusan ini diambil sebagai langkah strategis demi kelancaran misi global,” sebut IGPC dalam press release, Jumat (12/9/2025).

Mundur, bukan menyerah. Indonesia tetap hadir dalam perjuangan ini. Bahkan akan kembali dengan strategi yang lebih besar.

Baca juga: Terbang Menembus Blokade: Solidaritas Dari Indonesia Untuk Palestina

Relawan Indonesia yang sudah 12 hari bertahan di Tunisia akhirnya dipulangkan, sementara kuota mereka diserahkan kepada relawan dari negara lain. Kabar mundurnya delegasi Indonesia ternyata tidak menimbulkan kekecewaan publik. Justru sebaliknya, komentar muncul di media sosial IGPC dipenuhi apresiasi, empati, dan doa.

Indonesian delegation are being great examples of people understanding of mission. They made generous monetary contributions and are campaigning at home and abroad to make it successful and cede their 30 to make place for everyone else. (Delegasi Indonesia menjadi contoh yang sangat baik dari orang-orang yang memahami misi ini. Mereka telah memberikan kontribusi dana yang besar dan melakukan kampanye di dalam maupun luar negeri agar misi ini berhasil, serta merelakan 30 kursi mereka untuk memberi tempat bagi peserta lain),” sebut Melanie Schweizer (SC GSF).

Beberapa komentar di sosial media yang menonjol antara lain:

  • “Respect! Your efforts are never in vain. Every step counts! Memberikan ruang untuk yang lain pun ga mudah. Banggaa 🤍”– @oviabidin
  • “That’s okay, I’m sure delegasi Indonesia udah maksimal banget selama berminggu2 di sana, perjuangan masih panjang dan ini hanya salah satu bentuknya. Allah SWT udah catat segala ikhtiar yang teman2 lakukan. Semangat ya! Comeback stronger guys! 💪💞”– @ririmutiaa
  • “So brave, terima kasih sudah melepasnya. Delegasi pulang dengan kebanggaan. Dan kesempatan bagi relawan medis untuk berada di atas kapal pun bertambah.”– @enwdnm

Respons positif ini menunjukkan bahwa masyarakat memahami betul bahwa perjuangan kemanusiaan bukan sekadar simbol heroik, tapi juga soal perhitungan matang, keberlanjutan, dan menjaga nyawa para pejuang.

Baca juga: Bantuan dan Layanan Kesehatan untuk Pengungsi Palestina

Bagi Dompet Dhuafa, mundurnya delegasi Indonesia tidak mengurangi arti solidaritas. Justru ini menegaskan bahwa perjuangan kemanusiaan harus dilakukan dengan hati-hati, penuh tanggung jawab, dan keberlanjutan. Solidaritas bangsa Indonesia tetap nyata: dari sumbangan masyarakat, doa tanpa henti, hingga dukungan moral yang mengalir deras. Meskipun kapal Indonesia tak ikut berlayar, suara kemanusiaan Indonesia tetap menggema bersama 16 kapal lain yang kini menuju Gaza.

Global Sumud Flotilla mengajarkan kita dua hal, bahwa dunia masih punya keberanian untuk bersatu membela Palestina, dan bahwa keputusan mundur Indonesia bukan kegagalan, melainkan bentuk kebijaksanaan demi keselamatan dan kesiapan misi. Di balik layar, masyarakat Indonesia justru semakin bangga. Relawan IGPC tetap dianggap pahlawan kemanusiaan, karena keberanian mereka melangkah hingga Tunisia saja sudah menjadi bukti nyata solidaritas bangsa.

Perjuangan belum selesai, solidaritas masih menyala, dan Dompet Dhuafa akan terus mengawal setiap langkah bangsa Indonesia untuk hadir bagi Palestina, kapan pun dan dengan cara apa pun. Satukan itu melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/jagapalestina. Dalam press release-nya, Indonesia Global Peace Convoy menutup pernyataan dengan slogan: Tidak ada kemerdekaan bagi dunia sebelum Palestina merdeka. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika, Dedi Fadlil
Penyunting: Dhika