Gelar Wicara Satu Dekade SLI: Membaca Tantangan dan Ekosistem Literasi Masa Depan

Panel discussion in a conference room with speakers on stage and an audience watching a presentation on a screen in the center.

JAKARTA — Salah satu magnet utama dalam perhelatan akbar Satu Dekade Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa adalah sesi Gelar Wicara Inspiratif dan Bincang Literasi. Sesi ini mengupas tuntas tantangan ekosistem literasi di tiga ranah utama, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat. Sejumlah tokoh dan praktisi ahli pun hadir membagikan pandangan mendalam mereka mengenai makna sejati dari membaca.

Kegiatan reflektif nan edukatif yang bertajuk “Menggerakkan Literasi, Memberdayakan Masyarakat, Membangun Indonesia” ini berlangsung khidmat pada Sabtu (27/06/2026), di Ruang Serbaguna Lt. 4 Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jakarta. Hadirnya sekitar 100 peserta dari berbagai unsur komunitas, sekolah, relawan, hingga mitra gerakan membuktikan bahwa kepedulian terhadap masa depan literasi bangsa masih sangat terjaga.

Muh Shirli Gumilang M.Pd selaku Ketua Departemen Sekolah Guru & Literasi Transformatif Dompet Dhuafa, memaparkan, “Kondisi terbesar Indonesia saat ini bukan amunisi dan kendaraan perang, tapi kebodohan. Kutipan dari Dauzan Faruq ini saya kira masih sangat relevan memasuki era modern saat ini, di mana masih banyak anak-anak kita yang belum mendapatkan akses kualitas pendidikan yang baik”.

Two speakers seated on a red couch on a stage, presenting to an audience with a large screen beside them.

Bagi pilar pendidikan Dompet Dhuafa, merawat konsistensi selama sepuluh tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Sejak melangkah pertama kali pada tahun 2016 hingga menginjak tahun 2026 ini, SLI terus hadir, bertumbuh, dan membumi. SLI bergerak melintasi berbagai penjuru nusantara, berkolaborasi erat bersama pihak sekolah, guru, relawan, penggiat literasi, serta masyarakat luas melalui rangkaian program strategis.

Adapun pendampingan sekolah, penguatan Taman Baca Masyarakat (TBM), pembinaan perpustakaan sekolah dasar, hingga penyediaan ruang belajar interaktif, semuanya digerakkan demi satu tujuan mulia, yakni memupuk budaya literasi yang kuat di akar rumput. Perjalanan panjang ini bukan sekadar tentang menjalankan program, melainkan kerja-kerja senyap menjaga api harapan agar tetap menyala melalui pendidikan.

Baca juga: Program Sekolah Literasi Indonesia Hadir di Wakatobi

Melanjutkan refleksi tersebut, para narasumber menjabarkan realitas literasi di Indonesia saat ini dari berbagai sudut pandang. Dr Heru Kurniawan S.Pd, M.A, selaku Pendiri Rumah Kreatif Wadas Kelir, menegaskan tentang tingginya minat namun minim akses. Ia memaparkan bahwa bangsa kita sebenarnya memiliki minat literasi yang tinggi, namun perjalanannya penuh perjuangan.

“Semua orang suka literasi, tapi tidak ada akses atau orang yang berjuang mendampingi. Tugas kita adalah memfasilitasi, mendampingi, dan memberdayakan, sehingga energi perjuangan ini bisa memerdekakan mereka,” ujarnya.

Poster card with a blue head silhouette and pink slogan: 'Expand your mind. Read a book', taped to a display surface.

Tak hanya itu, Sofie Dewayani Ph.D seorang Praktisi Literasi, juga menekankan tantangan literasi yang kian dinamis dengan kebutuhan masyarakat yang beragam dari perkotaan hingga pedesaan. Menurutnya, fokus hari ini harus digeser. Sebab, kita harus bias membaca makna, bukan sekadar membaca kata.

“Yang perlu dikembangkan saat ini adalah kemampuan membaca mendalam, bukan hanya membaca secara kritis. Membaca itu bukan sekadar apa yang tertulis atau berupa kata, melainkan kemampuan membaca makna di baliknya,” terang Sofie.

Sudut pandang lain disampaikan oleh Dr I Gusti Made Ardana S.Pd, MT, selaku Direktur PNFI Kemendikdasmen. Ia menyebut literasi sebagai enabler—harkat manusia. Namun, ia menyayangkan bahwa pemanfaatannya belum optimal. Merujuk pada laporan OECD 2022, capaian indikator PISA Indonesia dalam dua dekade ini sempat menyentuh titik rendah; hanya 25% anak didik usia 12 tahun yang baru mencapai level 2, sementara dunia luar sudah menyentuh angka 75%.

“Ini menjadi kerja besar bagi kementerian. Literasi bukan hanya soal baca-tulis, melainkan sesuatu yang mampu mengangkat harkat dan martabat manusia,” tegasnya.

Baca juga: Sekolah Literasi Indonesia Peroleh Piagam Penghargaan Mitra Pembangunan Kemendikbudristek

Children’s reading corner with colorful foam mats, a bookshelf, and kids reading books; two women in hijabs sit nearby.

Satu Dekade SLI menegaskan kembali esensi dari gerakan ini bahwa literasi adalah fondasi peradaban. Melalui momentum perayaan sepuluh tahun ini, Dompet Dhuafa berharap jalinan kolaborasi dan partisipasi aktif bersama komunitas serta mitra gerakan dapat terikat semakin kuat.

Perayaan ini bukanlah garis finish. Momen satu dekade ini justru menjadi batu pijakan baru bagi Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Dompet Dhuafa untuk terus melangkah maju, menjangkau wilayah-wilayah terluar yang belum tersentuh, dan memastikan setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk membaca dunia dengan merdeka. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika, SLI
Penyunting: Dedi Fadlil