Haru Bahagia Guru Pelosok Negeri, Pengabdian Dibayar Tuntas Lewat Panggilan Umrah

JAKARTA — Senyum tulus dan linangan air mata haru menyelimuti wajah para pejuang pendidikan saat Dompet Dhuafa mengumumkan kabar bahagia, yaitu pemberangkatan 10 guru anggota Sekolah Guru Indonesia (SGI) yang tersebar di berbagai pelosok negeri, untuk menunaikan ibadah umrah gratis. Program mulia ini adalah bentuk apresiasi setinggi-tingginya atas dedikasi dan pengabdian tanpa lelah para guru di wilayah terpencil Indonesia, yang tulus membersamai Dompet Dhuafa melalui program pendidikan SGI.

Para guru terpilih ini adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa sesungguhnya. Mereka berjuang mencerdaskan generasi di tengah keterbatasan fasilitas dan medan yang menantang, mulai dari Nusa Tenggara Barat hingga pelosok Sumatra. Penghargaan umrah ini terwujud berkat kepedulian tulus para donatur yang menyalurkan amanah kebaikannya melalui Dompet Dhuafa.

Lebih dari sekadar perjalanan religi, inisiatif ini adalah penghargaan bagi ketulusan dan perjuangan mereka yang telah menerangi masa depan anak-anak bangsa. Program apresiasi guru ini sekaligus menjadi upaya Dompet Dhuafa untuk menghadirkan dampak sosial di bidang pendidikan sekaligus menumbuhkan semangat berbagi.

Kisah Riyati: Mengubah Saung Suku Akit Menjadi Sekolah

Salah satu penerima anugerah umrah adalah Ibu Riyati dari Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Jauh sebelum menjadi guru honorer di SDN 19 Repan pada 2024, Ibu Riyati sudah mengabdikan diri sejak 2012.

Setiap sore, pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, ia mengajar membaca, menulis, dan berhitung bagi anak-anak di daerah pedalaman yang belum tersentuh pendidikan formal. Bahkan, masih banyak orang tua murid yang buta huruf di sana. Demi memastikan anak-anak suku Akit mendapatkan hak belajar, Ibu Riyati tak segan mengajak mereka belajar dengan menumpang di sebuah saung. Perjuangan itu akhirnya berbuah manis, kelompok belajar Suku Akit tersebut diakui dan menjadi siswa-siswi SDN 12 Sokop (lokal jauh).

Baca juga: Sekolah Guru Indonesia: Siapapun Bisa Menjadi Guru

“Yang penting di sekolah itu bukan bangunannya,” tutur Ibu Riyati.

“Tetapi, kemauan dari anak-anak untuk belajar. Selagi mau belajar, di manapun tempat kita bisa. Mau di bawah pohon, mau di masjid, kita bisa belajar di situ,” pungkasnya.

Saat namanya diumumkan sebagai tamu Allah, Ibu Riyati tak henti bertanya-tanya, apakah pengabdiannya selama ini yang membawanya ke Tanah Suci?

“Saya lihat Kakbah itu senang banget. Semua muslim mukmin pasti berambisi, mempunyai cita-cita untuk melihat Kakbah, termasuk saya,” ujarnya haru.

Perjuangan Era: Melintasi Dua Sungai Sejauh 24 KM

Kisah perjuangan luar biasa juga datang dari Ibu Era, guru SGI yang mengabdi di SD Negeri Lubuk Kumbung, Musi Rawas Utara, Sumatra. Sejak diangkat menjadi guru honorer pada 2018, akses menuju sekolah adalah ujian tersendiri baginya.

Setiap hari, Ibu Era harus menempuh perjalanan sekitar 24 kilometer yang membelah dua sungai. Aksesnya melibatkan kombinasi unik: naik perahu ketek pertama, dilanjutkan perahu ketek kedua, lalu disambung dengan sepeda motor melintasi tiga desa. Tak jarang, saat banjir, jembatan yang biasa dilewati terputus.

Baca juga: Sekolah Guru Indonesia Mewisuda 67 Guru Penerima Manfaat SGI Master Teacher

Pernah terbesit rasa ingin menyerah, namun wajah-wajah muridnya adalah semangat yang membuatnya tetap teguh mengabdi.

“Alhamdulillah, kita terpanggil umrah, alhamdulillah banget, masyaallah,” ungkap Ibu Era, suaranya bergetar menahan haru.

“Saat diberitahu, masyaallah, masih tidak percaya, seperti mimpi,” imbuhnya.

Ibu Era menyampaikan terima kasih mendalam kepada para donatur dan Dompet Dhuafa. Ia pun mendoakan agar rekan-rekan seperjuangan guru di pelosok juga mendapatkan kemuliaan yang sama.

Dompet Dhuafa berharap, melalui inisiatif ini, semakin banyak insan baik yang tergerak untuk mendukung perjuangan para guru di pelosok melalui Donasi Bantu Guru Honorer Sejahtera. Sehingga akses pendidikan berkualitas dapat dirasakan secara merata di seluruh Indonesia. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Elfi Handayani
Penyunting: Dhika