Hikmah Kisah Orang Majusi yang Menyantuni Keluarga Yatim di Samarkand

Sedekah sebagai bagian dari tolong-menolong antarsesama - ilustrasi untuk artikel sedekah terbaik dan artikel sifat Nabi Muhammad Saw

Dalam khazanah Islam, ada beberapa kisah tentang seseorang yang mengorbankan harta terakhirnya atau melakukan aksi luar biasa demi anak yatim, lalu mendapatkan balasan seketika dari Allah Swt. Ya, Allah sangat mencintai hamba-Nya yang menolong anak yatim justru di saat hamba tersebut juga berada dalam kesempitan (itsar/mendahulukan orang lain). Dan penyelamatan terhadap anak yatim sering kali dibalas oleh Allah secara instan, baik lewat ketenangan jiwa, mimpi yang benar, maupun kelimpahan rezeki yang tak disangka-sangka.

Selain kisah sehelai pakaian terakhir Athiyah bin Khalaf di Hari Asyura, terdapat pula kisah Janda Syarifah dan Pria Majusi yang merupakan salah satu kisah hikmah yang sangat masyhur dalam literatur Islam. Kisah ini sering kali dinukil oleh para ulama terdahulu untuk menjelaskan betapa agungnya kedudukan menyantuni anak yatim, terlebih jika anak yatim tersebut merupakan keturunan Nabi Muhammad aw (Dzurriyatun Nabi atau Syarifah).

Dahulu di kota Balkh (sekarang wilayah Afghanistan), hiduplah sepasang suami istri yang merupakan keturunan mulia (Alawi/Syarifah). Mereka hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, takdir berubah ketika sang suami wafat. Tak lama setelah kepergian suaminya, kondisi ekonomi keluarga tersebut merosot tajam hingga jatuh miskin.

Karena merasa malu dengan kondisinya di kota kelahiran dan mengkhawatirkan nasib anak-anak perempuannya yang masih kecil (yatim), sang janda memutuskan untuk berhijrah ke Kota Samarkand (sekarang wilayah Uzbekistan). Mereka tiba di kota tersebut pada musim dingin yang sangat mencekam, dalam keadaan lapar, tanpa harta, dan tanpa tempat tinggal.

Suatu ketika di kota tersebut, sang ibu meninggalkan anak-anaknya di sebuah masjid tua yang dingin, lalu ia pergi mencari bantuan. Ia mendatangi majelis seorang Muslim terpandang di kota tersebut—dalam beberapa riwayat disebut sebagai penguasa lokal atau syekh yang dikenal taat.

Ibu itu menceritakan kondisinya, “Aku adalah seorang wanita dari keturunan Nabi (Syarifah), membawa anak-anak yatim yang kelaparan dan kedinginan. Aku memohon bantuanmu sekadarnya untuk menyambung hidup.”

Mendengar hal itu, sang tokoh Muslim bersikap skeptis dan dingin. Ia berkata, “Berikan aku bukti tertulis atau saksi yang adil bahwa engkau benar-benar keturunan Rasulullah.” Sang janda menjawab dengan sedih, “Aku adalah orang asing di kota ini, tidak ada satupun orang yang mengenalku untuk menjadi saksi.” Karena tidak bisa membawa bukti, sang tokoh Muslim berpaling dan menolak memberikan bantuan.

Kemudian dengan hati yang hancur, wanita itu berjalan kembali ke masjid. Di tengah jalan, ia melewati toko milik seorang pria Majusi (penyembah api) yang dikenal kaya. Didorong oleh rasa putus asa demi anak-anaknya, wanita tersebut memberanikan diri menceritakan hal yang sama kepada pria Majusi tersebut.

Berbeda dengan tokoh Muslim sebelumnya, pria Majusi ini tidak menanyakan bukti nasab. Begitu mendengar kata “anak yatim yang kelaparan”, hatinya langsung tergerak. Pria Majusi itu segera memanggil pelayannya dan memerintahkan untuk menjemput anak-anak yatim di masjid tua.

Akhirnya mereka semua dibawa ke rumahnya yang hangat dan mewah. Pria Majusi dan istrinya memperlakukan keluarga yatim ini dengan sangat terhormat: memberi mereka pakaian musim dingin yang baru, memandikan mereka, dan menyajikan makanan terbaik hingga mereka kenyang dan tertidur dengan lelap.

Hingga di suatu malam, tokoh Muslim yang menolak janda tersebut bermimpi melihat hari kiamat telah tiba. Di padang mahsyar, berdiri sebuah istana yang sangat megah terbuat dari zamrud hijau dan mutiara. Di depan pintu istana tersebut, berdiri Rasulullah Saw.

Sang tokoh Muslim mendekat dengan penuh harap dan menyapa Nabi. Ia lalu bertanya, “Ya Rasulullah, milik siapakah istana yang sangat indah ini?” Nabi Saw menjawab, “Istana ini milik seorang Muslim.” Tokoh tersebut berkata, “Ya Rasulullah, aku adalah seorang Muslim yang bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan-Nya.”

Nabi Saw kemudian memalingkan wajahnya dengan dingin dan bersabda: “Mana bukti tertulis atau saksimu yang adil kalau engkau benar-benar seorang Muslim? Kemarin, ketika seorang janda dari keturunanku datang meminta bantuan membawa anak-anak yatim, engkau justru meminta bukti darinya. Maka, begitu pula aku meminta bukti keislamanmu saat ini!”

Tokoh Muslim itu langsung terbangun dari tidurnya dengan menangis histeris, ketakutan, dan menyesali keangkuhannya. Di sisa malam yang dingin, ia berlari keliling kota mencari keberadaan janda dan anak-anak yatim tersebut, hingga akhirnya ia mendapat informasi bahwa mereka berada di rumah pria Majusi.

Ia mengetuk pintu rumah pria Majusi itu dan meminta agar janda beserta anak-anak yatim tersebut diserahkan kepadanya. Ia bahkan menawarkan uang tebusan yang sangat besar (dalam beberapa riwayat disebut ribuan dinar emas) sebagai ganti atas biaya yang dikeluarkan pria Majusi.

Namun, pria Majusi itu tersenyum dan menolak dengan tegas, “Demi Allah, aku tidak akan menyerahkan mereka kepadamu meskipun engkau memberi bumi ini dan segala isinya.”

Pria Majusi itu kembali mengatakan, “Mimpi yang kau lihat semalam, aku pun telah melihatnya. Istana megah yang kau inginkan di surga, Rasulullah Saw telah mengabarkan kepadaku bahwa istana itu kini menjadi milikku dan keluargaku. Ketahuilah, sebelum kami tidur semalam, aku, istriku, dan anak-anakku telah bersaksi masuk Islam (mengucapkan syahadat) di hadapan wanita mulia ini karena kemuliaan akhlak kakeknya (Nabi Muhammad).”

Maha Suci Allah. Melalui kisah ini, para ulama menekankan pesan moral bahwa ketulusan kemanusiaan yang dibarengi penghormatan kepada anak yatim jauh lebih dicintai Allah daripada formalitas kesalehan yang kering akan empati.

Kisah Pria Majusi ini menjadi pengingat bagi kita bahwa sedekah di Bulan Muharram, pun Hari Asyura, adalah tentang ketulusan yang melampaui logika duniawi. Ketika kita mampu melapangkan kesulitan orang lain, Allah Swt tidak hanya melapangkan urusan hidup kita di dunia, tetapi juga telah menyiapkan tempat yang mulia di sisi-Nya.

Jangan biarkan momentum Hari Asyura berlalu tanpa amal nyata. Mari ringankan beban saudara anak-anak yatim yang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Jadikan sedekah Anda sebagai pembuka pintu keberkahan sepanjang tahun melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bestianyatim. (Dompet Dhuafa)

Penulis: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil