ACEH TAMIANG — “Saya sangat senang. Berkat rumah sementara dari Dompet Dhuafa, ada lagi kehidupan untuk keluarga saya. Hunian ini sangat membantu. Tidak bisa membayangkan, yang sebelumnya kami tinggal di tenda, sekarang sudah ada rumah hunian yang bagus. Ada dinding dan atapnya, jadi tidak ada lagi debu yang masuk. Ketika hujan kami sudah tidak lagi khawatir kehujanan. Sementara kalau panas kami sudah tidak kepanasan lagi,” ujar Sulaiman (43), salah satu penyintas banjir Aceh Tamiang.
Luapan banjir besar di Aceh Tamiang menyebabkan banyak rumah warga hancur. Setelah banjir surut, mereka langsung bergerak mendirikan gubuk sederhana dengan terpal, seng berkarat, dan kayu lapuk sebagai penopang. Mereka dirikan ‘rumah sementara’ itu di pinggir jalan di tengah kepulan debu yang seperti tak ada habisnya.
Melihat kondisi tersebut, Dompet Dhuafa menyediakan Rumah Sementara (Rumtara) yang telah berdiri pada Senin (5/1/2026). Sulaiman, satu warga Karang Baru, Aceh Tamiang, menangis haru mendengar kabar soal adanya program Rumtara ini. Ia bersyukur, akhirnya keadaan sulit saat hidup di tenda dapat segera berakhir.


Di Rumtara Dompet Dhuafa, Sulaiman tinggal bersama ibu dan anak lelakinya. Ia mengaku tak sabar menjemput istri, anak perempuannya, dan sang bayi untuk segera bergabung kembali bersamanya di Rumtara Dompet Dhuafa.
“Anak kedua saya di Seruway sudah tak sabar melihat rumah barunya. Ia bilang lewat telepon ‘Pak, mau pulang, Pak. Mau tinggal di rumah baru, Pak’. Saya juga sudah rindu istri dan bayi saya. Sudah sebulan kami tidak bertemu. Saya ingin cepat-cepat bisa kembali bersama di rumah baru ini. Terima kasih banyak Dompet Dhuafa sudah memberikan rumah yang layak ini,” jelasnya.
Sebelumnya, satu hari sebelum banjir bandang terjadi, Sulaiman bercerita, dirinya sedang membantu mengevakuasi barang-barang dagangan di toko milik tetangganya. Malam itu air setinggi lutut orang dewasa mulai menggenangi area toko. Kata Sulaiman, Aceh Tamiang memang diguyur hujan deras selama lebih dari empat hari berturut-turut. Beberapa wilayah sudah banyak digenangi banjir.
Baca juga: 171.379 Rumah Rusak, Dompet Dhuafa Targetkan Bangun 1.000 RUMTARA bagi Penyintas Bencana Sumatra
Sulaiman, yang sehari-hari bekerja di bengkel motor, melihat tinggi air makin bertambah dengan cepat. Pada pukul sepuluh malam, ketika tinggi air sudah mencapai pinggulnya, ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia khawatir dengan keadaaan istri dan dua anaknya. Ia mencemaskan banjir bandang yang pernah melanda Aceh Tamiang pada 2006 silam kembali terulang.
Tiba di rumah, Sulaiman cepat-cepat mengemas pakaian, ijazah sekolah anak-anaknya, serta beras yang tersisa di dapur. Ia memapah istrinya, yang masih menahan nyeri pada luka operasi caesar pascamelahirkan beberapa hari sebelumnya, ke atas motor bebeknya. Dengan motor itu, di tengah hujan, ia membawa dua anak dan istrinya ke rumah sakit untuk menjemput bayi kecilnya yang baru lahir beberapa hari sebelumnya.


Anak ketiga Sulaiman lahir pada 20 November 2025, empat atau lima hari sebelum bencana besar melanda Aceh Tamiang. Dengan beberapa kondisi, anaknya itu masih harus menetap di rumah sakit, sementara sang istri melewati proses pemulihan pascaoperasi di rumah. Hal itulah yang membuat ia dan anak bungsunya terpisah.
Di rumah sakit di Kecamatan Karang Baru, ia meminta kepada perawat untuk bisa mengamankan keluarganya di lantai dua. Ia menjelaskan beberapa titik di Karang Baru sudah mulai terendam.
“Saya dan keluarga dan juga para pasien yang di lantai 1 dibawa ke lantai 2. Lantai satu sudah kosong. Karena beberapa meter dari rumah sakit air sudah tampak meninggi,” ucap Sulaiman.
Pada Jumat pukul dua dini hari, bandang dengan deras menerjang wilayah Karang Baru. Suara gemuruh air terdengar keras berpacu dengan jerit panik orang-orang. Semua bangunan dihantam, dan keadaan lebih mencekam ketika gelap menyergap akibat listrik padam.
“Itu seperti tsunami. Air besar sekali,” kata Sulaiman.
Selama sepekan Sulaiman terjebak di lantai dua RSUD Aceh Tamiang lantaran air banjir tak kunjung surut. Ia makan dan minum dari perbekalan yang tersisa di rumah sakit. Bersama para pasien dan keluarga pasien lainnya, mereka saling berbagi perbekalan untuk bisa tetap bertahan. Ketika air benar-benar surut, dan tak ada lagi hujan, Sulaiman memutuskan keluar rumah sakit.
Baca juga: Info Terkini Progress Pembangunan Huntara, Hunian Layak Untuk Penyintas Erupsi Semeru
Sulaiman bercerita saat ia kembali ke dusunnya di Dusun Bahagia, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Ia bersama anak pertamanya mendorong ranjang rumah sakit yang di atasnya ada istri dan sang bayi. Mereka susah payah melewati lumpur tebal yang menutupi jalanan.
Ketika sampai di dusun, ia menyaksikan bekas bangunan rumahnya yang hancur. Di situ, ia lihat hanya puing-puing bangunan yang berantakan tak karuan. Semua kondisi yang dilihatnya berhasil menerbitkan air matanya.
“Sudah tak ada tempat tinggal kita. Sudah hilang rumah kita. Ke mana bayi yang saya punya ini harus saya bawa? Di mana anak-anak saya tidur?” kata Sulaiman saat mengenang kembali bayangan puing-puing rumahnya.
Akibat bencana banjir bandang, Sulaiman dan keluarganya terpaksa menetap di sebuah gubuk yang ia bangun di pinggir jalan raya. Bersama istri, ibunya yang sedang sakit, dan tiga orang anaknya, mereka bertahan hidup di tempat yang jauh dari kata nyaman.
Ia hanya mengandalkan belas kasih pengendara mobil yang lewat di jalanan untuk makan, minum, dan perlengkapan lainnya, seperti selimut, dan penerangan.
“Setelah banjir mulai surut, kami mencari barang-barang bekas di sekitar rumah kami yang hancur. Seperti terpal, seng-seng yang sudah bocor, tiang-tiang yang bisa kami gunakan. Dan dengan barang-barang itulah kami gunakan untuk membuat tenda seadanya saja,” kata Sulaiman.

Sulaiman dan keluarga hidup di tenda seadanya hampir sebulan lebih. Ia melewati banyak kesulitan selama di sana. Kondisi jalanan penuh debu ketika terik, dan becek waktu hujan mengguyur membuat ia meringis. Ia tidak tega melihat ibunya yang sedang sakit, dan anak bayinya yang belum seumur jagung harus menghadapi kondisi sulit itu.
“Kami pakai plastik-plastik yang digantungkan untuk menghalangi debu. Tapi seperti tidak ada artinya. Debu tetap masuk. Jadi saya meminta kepada teman saya di Kecamatan Seruway untuk menampung istri dan bayi saya. Kondisi di sana lebih baik ketimbang di sini,” pungkasnya.
Baca juga: Sekolah Darurat Pascabencana Terus Ceriakan Asa dan Tumbuhkan Harapan Anak-Anak di Aceh
Sebagai informasi, seluruh bantuan Sahabat Dompet Dhuafa untuk Aceh dan Sumatra terus disalurkan. Total penerima manfaat per 12 Januari 2026 telah mencapai 138 ribu orang. Seluruh bantuan tersebut disalurkan lewat berbagai aksi respons seperti Rumah Sementara (Rumtara), layanan fogging, evakuasi korban, kebutuhan pokok, layanan dapur umum, pos wifi dan charger, distribusi air bersih, kebutuhan bayi dan lansia, dan masih banyak lainnya.
Sahabat, cerita Sulaiman hanyalah satu dari sekian banyak kisah memilukan para penyintas bencana yang berada di Aceh Tamiang. Masih banyak kondisi memprihatinkan mereka yang masih berjuang untuk pulih pascabencana. Untuk itu, Dompet Dhuafa terus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkolaborasi dalam membangun dan memulihkan kembali tiga provinsi yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bangkitsumatera.
Teks dan foto: M Afriza Adha, DMC, M Reynaldi Risahondua
Penyunting: Dhika

