JAKARTA — Kesempatan untuk belajar sering kali menjadi awal dari perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Hal itulah yang dialami oleh Yulianto, alumni Institut Kemandirian (IK) Dompet Dhuafa, yang telah mengembangkan usaha konter ponsel sederhana menjadi bisnis yang berkembang, sekaligus membuka jalan bagi banyak orang untuk meraih kemandirian.
Perjalanan Yulianto dimulai pada tahun 2008. Saat itu, ia merintis usaha konter telepon seluler kecil-kecilan dengan modal terbatas dan kemampuan yang masih perlu terus diasah. Berbekal semangat dan tekad untuk maju, ia menjalankan usahanya sembari mencari peluang untuk meningkatkan keterampilan yang dimiliki.
Kesempatan tersebut hadir ketika Yulianto mengikuti pelatihan servis telepon seluler di Institut Kemandirian pada tahun 2010. Melalui program tersebut, ia tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis terkait perbaikan perangkat, tetapi juga mendapatkan pembinaan yang membantu membangun mental profesional dan jiwa kewirausahaan.
Bekal ilmu yang diperoleh dari pelatihan kemudian menjadi pijakan bagi Yulianto untuk mengembangkan usahanya. Seiring berjalannya waktu, konter sederhana yang sejak dahulu dirintisnya tumbuh menjadi Pabuaran Ponsel yang kini memiliki tiga cabang usaha dan mempekerjakan enam orang karyawan.
Baca juga: Alumni Institut Kemandirian: Dirumahkan Saat Pandemi, Kini Jago Bikin dan Buka Kedai Kopi
Perjalanan tersebut tidak berhenti sampai di sana. Yulianto terus meningkatkan kompetensinya hingga berhasil meraih sertifikasi kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sertifikasi tersebut menjadi bukti atas kemampuan dan profesionalisme yang ia bangun selama bertahun-tahun di bidang servis telepon seluler.
Namun bagi Yulianto, keberhasilan bukan hanya tentang perkembangan usaha yang dimiliki. Ia percaya bahwa kesuksesan akan terasa lebih bermakna ketika dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Karena itulah, setiap cabang usaha yang dibangunnya tidak hanya menjadi tempat mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar bagi anak-anak muda yang ingin mengembangkan keterampilan di bidang servis telepon seluler.
“Saya ingin membantu anak muda agar punya skill dan terdorong, sehingga memiliki penghasilan sendiri,” ujar Yulianto saat menjelaskan alasan di balik pengembangan usahanya.
Tidak hanya memberikan kesempatan bekerja, Yulianto juga membimbing para karyawan dan peserta yang belajar bersamanya agar memiliki kemampuan yang dapat menjadi bekal untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Upaya tersebut membuahkan hasil. Hingga saat ini, lebih dari lima orang yang pernah bekerja dan belajar bersamanya telah berhasil membuka usaha konter ponsel secara mandiri. Mereka kini memiliki sumber penghasilan sendiri dan turut menciptakan peluang ekonomi baru di lingkungan sekitarnya.
Baca juga: Kisah Jamal Alumni Institut Kemandirian: Pengangguran dan Tulang Punggung Keluarga
Selain menjalankan bisnis, Yulianto juga dipercaya menjadi trainer resmi bersertifikasi BNSP yang membagikan pengalaman dan keahliannya kepada peserta lain. Peran tersebut menjadikannya bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi juga sebagai sosok yang turut menumbuhkan generasi baru yang terampil dan berdaya.
Kisah Yulianto menunjukkan bagaimana sebuah kesempatan belajar dapat menghadirkan dampak yang meluas. Dari seorang peserta pelatihan yang menerima manfaat program pemberdayaan, ia tumbuh menjadi pribadi yang mampu memberikan manfaat bagi banyak orang melalui ilmu, keterampilan, dan peluang yang ia bagikan.
Perjalanan Yulianto menunjukkan bahwa kesempatan untuk belajar dapat menjadi titik awal perubahan besar dalam kehidupan. Tidak hanya mengubah nasib dirinya sendiri, tetapi juga membuka jalan bagi orang lain untuk tumbuh, bekerja, dan membangun usaha secara mandiri.
Mari bersama menghadirkan lebih banyak kesempatan bagi mereka yang ingin berdaya melalui Dompet Dhuafa. Sebab setiap kebaikan yang dititipkan dapat menjadi modal harapan, keterampilan, dan masa depan yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan. (Dompet Dhuafa)
Penulis: Nurul
Penyunting: Dhika

