JAWA BARAT — Di sebuah rumah sederhana, suara mesin berdengung pelan untuk membuat baglog—sebutan lokal untuk media tanam bibit jamur tiram. Di sana, Ustaz Sopwan Ismail tampak khusyuk menekan serbuk kayu ke dalam plastik bening. Bukan sekadar pekerjaan rutin, tapi bagian dari ikhtiarnya menumbuhkan harapan melalui jamur tiram. Dakwahnya berwujud.
Ustaz Sopwan Ismail merupakan Dai Transformatif yang ditugaskan Corps Dai Dompet Dhuafa (Cordofa) di Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Di sana ia merealisasikan pesan dakwah menjadi gerakan ekonomi yang memberdayakan umat. Dai Transformatif yang mengubah pesan dakwah menjadi gerakan ekonomi umat.

Dengan bantuan mesin pemadat, pembuatan baglog ini terasa ringan dan memangkas waktu. Sejak pagi sampai kami datang pada siang hari, Ustaz Sopwan sudah membuat sekitar 50 buah baglog seberat 1,5 kilogram per satu buahnya.
Hari itu atau seperti hari-hari biasanya, ia dibantu oleh Odi, seorang penerima manfaat dari program budi daya jamur tiram yang ia gagas di Desa Mekarmanik.
Ustaz Sopwan bercerita bahwa budi daya jamur tiram telah ia mulai sejak 2024 dan sampai saat ini ada 10 orang yang mendapat manfaat dari setiap panennya. Awal mulanya ia membeli 250 baglog. Setelah digarap, hasil panen jamur tiram langsung dikirim ke pasar untuk dijual.
Baca juga: Cahaya Baru untuk Mualaf di Kepulauan Riau, Cordofa Luncurkan Program PEMULIA DD

“Alhamdulillah setelah dibudidaya menghasilkan juga. Setiap penerima manfaat itu menghasilkan 300 ribu rupiah per bulan atau 1,2 juta rupiah per 4 bulan. Karena siklus baglog jamur tiram itu habisnya setiap 4 bulan,” kata Ustaz Sofwan.
Setelah tiga kali melewati siklus panen atau sekitar 12 bulan, produksi jamur tiram terus berkembang. Saat ini setidaknya ada tiga ribu baglog jamur tiram yang dikelola. Dan selama itu juga Ustaz Sopwan terus belajar, mengevaluasi, dan mengembangkan budi daya jamur tiram ini untuk hasil yang lebih baik. Salah satu hasilnya adalah kesanggupan untuk memproduksi bibit dan baglog sendiri.

Ustaz Sopwan menyampaikan bahwa membuat bibit dan baglog sendiri dapat menekan biaya produksi. Sehingga, hasil yang didapat penerima manfaat bisa lebih banyak.
“Akhirnya sekarang, hasil dari belajar, saya bersama para penerima manfaat mengerjakan bibit dan baglog sendiri. Agar nantinya penghasilan penerima manfaat bisa naik. Terutama target saya di tahun 2026 penerima manfaat bisa memperoleh setara UMR Bandung,” ucap Ustaz Sopwan penuh optimisme.
Penerima manfaat budi daya jamur tiram yang dipilih oleh Ustaz Sopwan adalah salah satu dari delapan asnaf penerima zakat. Dalam hal ini adalah fakir miskin, di antaranya orang tua yang sudah tak mampu lagi bekerja secara keras, petani yang terlalu miskin untuk memiliki tanah, dan para buruh serabutan yang tak punya penghasilan tetap.
“Inisiatif budi daya jamur tiram ini datang dari masyarakat sendiri. Setiap malam kami selalu ngobrol sama jemaah masjid. Terutama jemaah yang notabene asnaf zakat. Mereka suka mengeluhkan tentang ekonomi mereka. Setelah saya berhasil mencoba dari sedikit jamur tiram itu, mereka mau ikut mencoba juga. Akhirnya setelah sekian bulan berhasil dan terus berkembang,” ujar Ustaz Sopwan.
Menguatkan ekonomi umat lewat budi daya jamur tiram adalah satu dari banyak hal yang dilakukan Ustaz Sopwan di Desa Mekarmanik.
Baca juga: Cordofa Terima Penghargaan atas Kontribusi Dakwah di Wilayah 3T


Ustaz Sopwan bercerita tentang upayanya menghidupkan kegiatan mengaji di masjid. Dulu, sebelum ia datang, masjid kerap sepi. Seolah hanya berdiri sebagai simbol. Namun setelah kedatangannya, masjid menjadi ramai. Anak-anak, remaja, hingga orang tua ikut menghidupkan masjid.
Dibantu istrinya, Ustaz Sopwan mendirikan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) untuk anak-anak. Sekitar 60 anak terdaftar dalam kegiatan belajar mengaji Al-Quran ini.
“Awalnya bersama istri bikin kegiatan kecil-kecil aja untuk anak-anak, sembari saya juga mengajarkan dua anak saya belajar mengaji. Setelah beberapa lama ternyata banyak orang tua yang bawa anaknya untuk ikut mengaji. Sampai akhirnya diajak salah satu PAUD untuk dijadikan satu cabangnya,” cerita Ustaz Sopwan.


Tidak hanya anak-anak, Ustaz Sopwan pun membuat jadwal belajar agama untuk para orang tua setiap tiga hari dalam satu pekan. Lewat pengajian itu ia mengajarkan banyak hal tentang Islam, terutama fiqih.
“Alhamdulillah setelah adanya Dai Transformatif, Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang tadinya tidak ikut mengaji, sekarang jadi banyak yang mengaji. Dan banyak yang mempelajari ilmu agama lebih dalam,” kata Ustaz Sopwan.
Ia percaya dakwah tidak patut berhenti di balik mimbar, tetapi harus berdampak pada hal paling nyata dalam kehidupan umat. Menurutnya, Dai Transformatif bak lentera yang mampu menghalau kegelapan lewat cahaya terangnya.
Baca juga: Sambut Panen Raya ke-3, Dai Pemberdaya Berdayakan Petani Bawang Merah Kampung Cikawari

Tanggung jawabnya dalam mengemban tugas sebagai Dai Transformatif tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selalu ada tantangan yang perlu dilaluinya. Namun, ia bertopang pada satu kutipan, yang terus melahirkan sikap istikamah di dalam hatinya, yakni “sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya”. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Cordofa, Anndini
Penyunting: Dhika

