BURU, MALUKU — Suasana sore di halaman Masjid Nurul Jadid tampak lebih hidup pada Kamis (28/05/2026). Di depan masjid pertama yang berdiri di Kampung Mualaf Wabloi Adat itu, warga berkumpul menyaksikan penyembelihan dua ekor sapi kurban dari Program Tebar Hewan Kurban (THK) 1447 H. Bagi masyarakat setempat, momen tersebut bukan sekadar pembagian daging, tetapi juga bagian dari perjalanan tumbuhnya syiar Islam di kampung yang berada di pedalaman Pulau Buru tersebut.
Kampung Wabloi Adat dikenal sebagai salah satu kampung mualaf di Pulau Buru. Berada jauh di kawasan pedalaman dengan akses yang tidak mudah, masyarakat di kampung ini selama bertahun-tahun hidup dengan berbagai keterbatasan. Dalam beberapa tahun terakhir, warga mulai mengenal dan menjalankan berbagai syariat Islam, termasuk ibadah kurban yang kini menjadi bagian dari perayaan Iduladha di kampung tersebut.


Pada sore hari, warga mulai berdatangan ke area masjid. Sebagian berdiri di sekitar lokasi penyembelihan, sementara yang lain membantu menyiapkan berbagai keperluan. Suasana kampung yang biasanya tenang perlahan dipenuhi aktivitas warga yang ikut menyambut pelaksanaan kurban.
Ketika proses penyembelihan dimulai, lantunan takbir terus terdengar mengiringi jalannya prosesi. Beberapa warga turut membantu dalam proses penyembelihan yang dilakukan di halaman masjid. Momen tersebut menjadi perhatian masyarakat yang hadir, mengingat kurban masih menjadi perayaan yang relatif baru bagi sebagian warga Kampung Mualaf Wabloi Adat.
Baca juga: Aroma Kebaikan HMNS dalam Tebar Hewan Kurban untuk Warga di Maluku dan Jawa Timur


Setelah penyembelihan selesai, kesibukan kembali terlihat di sekitar masjid. Warga bergotong royong memotong, memisahkan, dan mengemas daging kurban yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat. Tidak ada sekat antara satu dengan yang lain. Mereka saling membantu menyelesaikan setiap tahapan hingga daging siap didistribusikan. Kebersamaan terasa sepanjang proses berlangsung hingga menjelang malam.
Bagi masyarakat Wabloi Adat, momentum kurban memiliki makna tersendiri. Selain menjadi bagian dari syiar Islam yang terus tumbuh di kampung tersebut, kurban juga menjadi momen yang dinantikan warga setiap tahunnya.
Ustaz Fauzan Abdurahman yang mendampingi masyarakat Wabloi Adat menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya penyembelihan kurban tahun ini.
“Terima kasih banyak kepada Dompet Dhuafa dan HMNS atas sapi yang diberikan ke Desa Wabloi Adat. Masyarakat senang dan antusias atas kehadiran sapi ini,” ujarnya.


Kehadiran hewan kurban di Kampung Wabloi Adat menjadi bagian dari pemerataan manfaat kurban hingga wilayah-wilayah pedalaman yang memiliki keterbatasan akses. Melalui kolaborasi berbagai pihak, manfaat kurban dapat dirasakan oleh masyarakat yang selama ini jarang tersentuh distribusi kurban dalam jumlah memadai.
Bagi warga Kampung Mualaf Wabloi Adat, dua ekor sapi kurban yang hadir tahun ini bukan sekadar daging yang dibagikan kepada masyarakat. Kehadirannya turut menghidupkan semarak Iduladha, mempererat kebersamaan warga, serta menghadirkan rasa syukur di kampung yang terus bertumbuh bersama nilai-nilai Islam di pedalaman Pulau Buru. (Dompet Dhuafa)
Teks: Nurul
Penyunting: Dhika

