Jejak Pengorbanan Sahabat, Kisah Kurban di Zaman Rasulullah

Ketika membicarakan Idul Adha dan ibadah kurban, pikiran kita sering tertuju pada kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS. Namun, semangat pengorbanan itu tidak berhenti di sana. Generasi sahabat Nabi Muhammad SAW pun menjadi teladan luar biasa dalam meneladani makna kurban, bukan hanya secara ritual, tetapi juga secara sosial dan spiritual.

Di zaman Rasulullah, para sahabat memaknai kurban bukan sebagai beban, melainkan kesempatan. Mereka menyambutnya dengan semangat berbagi, meskipun banyak dari mereka hidup dalam keterbatasan. Berikut beberapa kisah inspiratif tentang kurban yang dilakukan para sahabat.

1. Abu Talhah: Menyumbangkan Kebun Terbaik

Salah satu kisah paling terkenal adalah kisah Abu Talhah radhiyallahu ‘anhu. Suatu hari, setelah turunnya ayat:

“Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)

Abu Talhah segera menemui Rasulullah dan berkata bahwa harta yang paling ia cintai adalah kebunnya yang bernama Bairuha. Ia ingin menyedekahkan kebun tersebut di jalan Allah. Meskipun ini bukan kurban dalam arti menyembelih hewan, semangat pengorbanan Abu Talhah sejatinya mencerminkan nilai utama dalam kurban: memberikan sesuatu yang paling dicintai demi Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa nilai kurban bukan pada bentuknya saja, tetapi pada kadar cinta dan keikhlasan yang dilepaskan.

2. Ali bin Abi Thalib: Kurban Meski Sakit

Ali bin Abi Thalib RA dikenal sebagai sosok pemberani dan zuhud. Dalam satu riwayat, diceritakan bahwa ia tetap melaksanakan kurban meskipun saat itu ia sedang dalam kondisi fisik yang tidak optimal. Ia ingin menunjukkan bahwa selama masih mampu secara finansial, ia tidak ingin melewatkan ibadah yang sangat dicintai Rasulullah SAW ini.

Bagi Ali, kurban adalah bentuk nyata cinta kepada Rasulullah dan keteladanan dalam menghidupkan sunnah beliau.

3. Abdurrahman bin Auf: Kaya, Tapi Tetap Rendah Hati

Sahabat yang satu ini dikenal sangat dermawan. Ketika Idul Adha tiba, Abdurrahman bin Auf RA tidak hanya berkurban untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyembelih hewan atas nama keluarganya dan beberapa kaum dhuafa di sekitarnya. Ia paham bahwa rezeki yang ia miliki adalah titipan, dan melalui kurban ia bisa menyalurkannya untuk membawa kebahagiaan kepada banyak orang.

Ia bahkan pernah mengatakan, “Aku takut termasuk golongan yang diberikan nikmat dunia tapi lupa bersyukur. Maka aku membiasakan diriku memberi, agar tidak terikat oleh dunia.”

4. Bilal bin Rabah: Kurban dalam Kesederhanaan

Sebagai mantan budak yang dimerdekakan dan kemudian menjadi muazin pertama dalam Islam, Bilal hidup dalam kesederhanaan. Namun, kesulitan ekonomi tidak menghalanginya untuk tetap berkontribusi saat Idul Adha. Dalam beberapa riwayat, diceritakan bahwa Bilal mengumpulkan dana bersama beberapa sahabat lain untuk berkurban bersama. Semangat gotong royong ini menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk beribadah, selama ada niat dan usaha.

5. Ummu Salamah: Teladan dari Perempuan

Ummu Salamah RA, salah satu istri Nabi SAW, turut menjadi contoh bagaimana perempuan juga mengambil peran dalam ibadah kurban. Dalam sebuah hadits, beliau meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Jika telah masuk sepuluh (hari pertama Dzulhijjah), dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia mengambil rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih.” (HR. Muslim)

Hadits ini diriwayatkan oleh Ummu Salamah sendiri, menunjukkan bahwa ia sangat memperhatikan ibadah kurban. Meski tidak disebutkan secara eksplisit bahwa ia berkurban, peranannya dalam meriwayatkan hukum dan adab kurban menjadi bagian penting dalam tradisi kurban umat Islam hingga hari ini.

Baca Juga: Berhutang untuk Kurban, Bolehkah dalam Islam? Ini Hukumnya

Kurban Bukan Soal Kemampuan, Tapi Kesungguhan

Kisah-kisah sahabat ini menunjukkan bahwa kurban bukan sekadar kemampuan finansial, tetapi tentang kesungguhan hati. Baik yang kaya seperti Abdurrahman bin Auf, yang sederhana seperti Bilal, atau yang sedang sakit seperti Ali bin Abi Thalib—semuanya menunjukkan bahwa ketika hati tergerak oleh iman, maka pengorbanan pun terasa ringan.

Idul Adha menjadi momen untuk menghidupkan kembali nilai-nilai itu. Tidak semua orang mampu membeli hewan sendiri, tapi kita bisa bergotong royong, patungan, atau bahkan membantu proses distribusi kurban. Semangat para sahabat adalah semangat berbagi dan mendahulukan orang lain.

Semangat kurban di zaman Rasulullah dan para sahabat bukanlah sekadar tentang jumlah kambing atau sapi, tapi tentang seberapa besar cinta mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Tentang bagaimana mereka menjadikan Idul Adha sebagai momen memperkuat iman, menyambung ukhuwah, dan memperluas manfaat.

Kini, giliran kita melanjutkan semangat itu. Salurkan kurbanmu melalui Dompet Dhuafa dan jadikan kurbanmu sebagai warisan kebaikan yang menyentuh banyak jiwa.

Pilih Hewan Kurbanmu Terbaikmu bersama Dompet Dhuafa