Tahun 2025 lalu, Iduladha 1446 H terasa begitu berbeda bagi masyarakat di Sumatra Barat. Di saat duka akibat bencana masih menyelimuti Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam, Dompet Dhuafa hadir menyalurkan hewan kurban ke titik-titik terdampak. Inisiatif ini bukan sekadar urusan pemenuhan gizi, tapi juga tentang mengirimkan pesan bahwa mereka tidak sendirian.
Program Tebar Hewan Kurban (THK) di lokasi banjir bandang Sumatra Barat (Sumbar) seolah menjadi sinar harapan di tengah pilu. Di momen sesulit itu, kehadiran daging kurban menjadi pengingat hangat bahwa kebaikan akan selalu ada bagi mereka yang membutuhkan.
Sejak Galodo (banjir lahar dingin) menghantam kawasan Gunung Marapi pada Sabtu (11/05/2024), sisa-sisa trauma memang masih terlihat jelas. Karena itulah, Dompet Dhuafa berupaya memastikan daging kurban sampai ke tangan para penyintas, demi memberikan secercah kebahagiaan di Hari Raya.

Kisah serupa hadir dari Desa Boru, Flores Timur. Di sebuah hamparan luas dengan latar belakang Gunung Lewotobi Laki-laki yang tertutup kabut, suasana lebaran kurban tahun lalu terasa begitu syahdu.
Pagi itu, sekitar pukul 06.00 WITA pada Hari Tasyrik pertama, Sabtu (07/06/2025), gema takbir bersahutan dengan suara gesekan pisau yang sedang diasah. Di tengah keterbatasan, para penyintas erupsi—seperti Sri dan Mama Isya—berbahagia menerima amanah dari para donatur Dompet Dhuafa.
Bagi Sri, kurban tahun itu adalah mukjizat kecil. Rumahnya hancur dihantam erupsi. Atap sengnya lepas dan ruang tamunya tertutup abu vulkanik basah.
“Kalau hujan, air langsung masuk. Anak saya yang masih tiga tahun pun harus bertahan di situasi ini. Sekarang makan susah, jadi daging kurban ini sangat berarti sekali bagi kami,” ungkap Sri dengan mata berkaca-kaca.

Begitu juga dengan Mama Isya, lansia yang tinggal sendirian di kediaman yang terdampak. Baginya, perhatian dari tim Dompet Dhuafa yang mengantarkan daging sampai ke rumahnya adalah bentuk kepedulian yang sangat ia syukuri.
Kebaikan ini juga tak lepas dari peran Rahmi Syofia, atau yang lebih dikenal sebagai Mimi Campervan Girl. Pejalan sekaligus pegiat sosial ini kembali terjun langsung dalam distribusi THK. Setelah tahun sebelumnya menjelajahi Pulau Kei di Maluku, kali ini Mimi menjelajahi pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT).
Melalui ajakan di media sosial, Mimi berhasil menginspirasi 28 pekurban untuk berbagi. Sebanyak 5 ekor sapi dan 9 ekor kambing didistribusikan ke tiga desa di Flores Timur berkat inisiatifnya.
“Aku melihat langsung prosesnya, dan ini membuka mata banget. Tentang kebahagiaan para penerima manfaat dan syariat kurban yang aku pelajari langsung di lapangan,” jelas Mimi.
Secara total, program THK di NTT berhasil mendistribusikan 128 ekor sapi dan 50 ekor kambing (setara 1.646 Doka) ke 15 kabupaten, mulai dari Kupang, Belu, hingga Manggarai Barat.

Hingga saat ini, masyarakat di Kecamatan Wulanggitang sebenarnya masih hidup dalam kewaspadaan karena status Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih siaga. Namun, kehadiran kurban memberikan mereka kekuatan ekstra untuk bertahan.
Di tengah ketidakpastian, kurbanmu sungguh berarti bagi mereka. Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk berkurban di tahun 2026 ini? Yuk, siapkan kendaraan terbaikmu dan tebar kebahagiaan lebih luas melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika, Anndini
Penyunting: Dedi Fadlil

