JAKARTA — Kabar prihatin datang dari jalur laut menuju Gaza. Melansir Republika.co.id, Kamis (30/04/2026), armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dilaporkan mengalami penghadangan dan pembajakan oleh pasukan militer Israel di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani.
Melansir laporan kontributor Al Jazeera, Jack Barton, aksi pencegatan ini terjadi di lokasi yang sangat jauh, yakni sekitar 600 mil laut (1.111 km) dari pesisir Gaza. Ini merupakan tindakan yang tidak terduga karena armada masih berada di perairan bebas, jauh dari zona blokade yang diklaim secara sepihak oleh Israel.
Aktivis dan penulis, Tariq Ra’ouf, juga menceritakan suasana mencekam saat kapal sipil mereka dikepung oleh kapal tempur besar dan perahu karet taktis (RIB).
“Drone terus mengitari kami dan menyorotkan lampu ke arah kapal. Melalui radio, militer Israel terus mengirim pesan bahwa kami melanggar hukum internasional dan harus segera berhenti,” ungkap Ra’ouf kepada Al Jazeera.
Tak hanya gangguan fisik, para aktivis juga menghadapi perang psikologis. Militer Israel sengaja memutar musik dengan volume sangat keras melalui kanal radio darurat untuk memutus koordinasi dan mengganggu mental para relawan kemanusiaan.
Senada dengan itu, Anggota Steering Committee GSF asal Indonesia, Maimon Herawati, mengonfirmasi situasi sulit ini. Melalui pantauan langsung dan laporan resmi yang diterima Republika di Istanbul, setidaknya 11 dari 56 kapal kemanusiaan kini hilang kontak.
Tujuh kapal di antaranya, yakni Kapal Arkham, Romantica, Goleta, Saf Saf, Bianca, Bella Blu, dan Eros I, diyakini telah dibajak. Sebanyak 110 aktivis dunia yang berada di atas kapal-kapal tersebut diduga telah diculik.
Baca juga: Dompet Dhuafa Kembali Berangkatkan Misi Global Sumud Flotilla 2.0 ke Palestina
“Mereka mengarahkan senjata ke teman-teman aktivis dan menyuruh mereka berlutut,” ujar Maimon. Aksi kekerasan dan intimidasi ini disaksikan langsung oleh tim pendukung dari Kapal Arctic Sunrise milik Greenpeace yang ikut mengawal pelayaran.
Melalui pernyataan tertulis pada Kamis (30/04/2026), Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) menyampaikan bahwa Israel mengancam armada sipil di luar zona pencarian dan penyelamatan Yunani. Kapal-kapal GSF dicegat oleh Israel dan secara ilegal mengepung armada sipil gerakan non-kekerasan GSF di perairan internasional. Pun para aktivis kemanusiaan terancam diculik dan diintimidasi. Selain itu, komunikasi dengan 11 kapal telah terputus, dan media Israel mengklaim bahwa tujuh kapal GSF telah dicegat.
Namun melalui pernyataan tersebut juga, GSF menegaskan tidak akan mundur dan terus berlayar hingga tembus blokade Gaza. Tindakan Israel yang mengancam armada sipil ini adalah pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. GSF juga meminta dunia untuk bersatu dalam menuntut pertanggungjawaban dan menghentikan pelanggaran ini, serta menghentikan blokade terhadap Palestina. GSF juga menyerukan solidaritas global untuk menyerukan pemerintah dunia dan masyarakat internasional bertindak cepat untuk melindungi armada kemanusiaan dan menghentikan pelanggaran ini.
Baca juga: Delegasi Dompet Dhuafa Berangkat ke Turki, Gabung Misi Kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0
Sahabat, misi Global Sumud Flotilla adalah ikhtiar dunia untuk menembus blokade demi bantuan kemanusiaan bagi saudara-saudara kita di Gaza dari genosida. Namun, niat mulia ini dijawab dengan teror, kekerasan, dan intimidasi. Dompet Dhuafa terus memantau perkembangan kondisi para relawan dan armada bantuan. Mari kita langitkan doa untuk keselamatan para pejuang kemanusiaan tersebut di tengah lautan.
Kuatkan harapan, temani perjuangan Palestina. Salurkan donasi terbaik mu untuk membantu kebutuhan mendesak warga Palestina melalui Dompet Dhuafa. Dukunganmu adalah energi bagi mereka yang bertahan. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Republika, GSF, GPCI
Penyunting: Dhika

