BIREUEN, ACEH — Di hari ke-50 pascabanjir Sumatra, para relawan Dompet Dhuafa di Aceh hingga larut malam masih membantu membersihkan satu-satunya Pondok Bersalin Desa (Polindes) Teupin Raya di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen, Selasa (13/01/2026).
Selama aksinya, para relawan seperti lupa akan lelah. Kepada lumpur mereka tak mau mengalah. Kebersamaan aksinya mengundang tawa, pakaian penuh lumpur pun masih bergaya. Meski sesekali di antara mereka menghela nafas, tak lama mereka kembali ‘injak gas’. Sesekali merebah badan dan menampakan solidaritas antarkawan.
“Dalam masa bencana ini, di wilayah saya ada dua ibu hamil trimester akhir yang saya rujuk ke kabupaten, karena di sini masih lumpur semua, belum bisa beroperasi,” kata Bidan Erna, Petugas Kesehatan di Polindes Teupin Raya.
“Listrik pun kadang masih mati. Dan kita masih butuh banyak bantuan tenaga dan air bersih untuk kembali memulai,” jelasnya, pada tim Dompet Dhuafa.




Dengan mata telanjang, Polindes Teupin Raya masih tampak bernuansa coklat. Terjangan banjir bandang di wilayah tersebut menyisakan lumpur yang menyelimuti dan bertamu ke ruang-ruang Polindes. Sejumlah peralatan medis kebidanan dan perabotan turut hancur tak bisa kembali digunakan.
Personel Dompet Dhuafa melalui koordinasi DMC (Disaster Management Center), DDV (Dompet Dhuafa Volunteer), serta Super Volunteer Tiara Nabila, melangsungkan Aksi Bersih sejak siang hari itu. Lumpur sisa terjangan banjir yang telah mengerak menjadi tantangan dalam penggunaan air sebagai bahan baku utama untuk pembersihan. Pun tebalnya lumpur turut memicu kerusakan pada mesin pompa, sehingga Aksi Bersih harus tertunda meski sudah larut malam dan dilanjutkan kembali di kemudian hari.
Baca juga: Tetap Siaga di Tengah Lelah, Cara Relawan Istirahat di Tengah Aksi Penuh 24 Jam




“Keberadaan Polindes Teupin Raya ini menjadi penting karena satu-satunya fasilitas kesehatan untuk ibu hamil dan anak, sehingga kami juga berharap bisa segera bersih dan beroperasi kembali. Tantangan yang ada tidak menyurutkan kepedulian kami, dan hari selanjutnya Aksi Bersih akan kami lakukan kembali,” tegas Najwa, salah satu relawan Dompet Dhuafa.
“Sebagian kami juga warga Bireuen dan masih libur kuliah. Jadi hampir dua bulan ini sejak awal terjadi bencana, kami bantu wilayah-wilayah terdampak di Bireuen,” aku Akbar, salah satu relawan Dompet Dhuafa.



Keesokan harinya, Rabu (14/01/2026), Aksi Bersih kembali dilanjutkan. Rasanya seperti semangat baru meski hampir dua bulan bencana sudah terjadi. Lewat waktu Magrib, listrik kembali padam. Sorotan lampu darurat dan lampu kendaraan menjadi bantuan. Hingga sekitar jam 11 malam, Polindes Teupin Raya mulai bernuansa putih. Kerak-kerak lumpur di dalam ruangan tak lagi bertahan. Alhamdulillah, Polindes tersebut segera siap kembali digunakan.
“Saya gak tahu kalau gak ada relawan Dompet Dhuafa. Sebab saya hanya bersama anak, suami di Jakarta. Akhirnya Polindes sekaligus tempat tinggal saya ini bersih lagi,” ungkap Bidan Erna, haru.



Manfaat yang dirasakan menjadi dorongan ketangguhan para relawan di lapangan. Di antara kepungan lumpur, kepedulian mereka tetap cair. Sahabat baik, kamu juga dapat mengambil peran dalam memperkuat solidaritas kemanusiaan bagi para penyintas banjir bandang di Sumatra. Donasi kamu akan membantu menyediakan berbagai kebutuhan hingga pemulihan jangka panjang. Salurkan bantuan terbaikmu melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/prayforsumatera. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil

