PEKANBARU, RIAU — Disabilitas, masih menjadi isu yang memiliki sejarah panjang mengenai stigma dan keterbatasan akses terhadap ruang publik. Sebenarnya, sama seperti identitas lainnya dalam masyarakat, namun sering kali para difabel terabaikan. Walaupun demikian, Habibi, seorang Tuli asal Pekanbaru berhasil menembus stigma-stigma tersebut.
Habibi Ramadan, nama lengkapnya. Ia aktif dalam komunitas Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Riau, Dompet Dhuafa Volunteer Riau, dan Forum Anak Kota Pekanbaru. Saat ini ia mengenyam pendidikan sarjana Program Studi Sistem Informatika di Universitas Lancang Kuning (UNILAK) RIAU. Habibi merupakan penerima beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi Disabilitas dari Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud) 2024.
Di kediamannya, kami mendengar tawa renyah datang dari Ibunya, Eliza. Ia bercerita bahwa Habibi merupakan anak yang aktif dengan rasa penasaran tinggi. Dua adik Habibi, Rasyid dan Fikri juga merupakan Tuli. Masing-masing mengenyam pendidikan sekolah menengah dan pertama. Mereka bertiga bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Pembina Pekanbaru sejak kelas 1 SD.


Baca juga: Perluas Cakrawala Keagamaan, Dompet Dhuafa Tebar Pengajar Al-Qur’an Isyarat di Riau
“Walaupun ia punya keterbatasan pendengaran, itu tidak menghalanginya untuk terus berprestasi. Ketiga anak saya Tuli. Saya memberi pemahaman ke mereka bahwa dalam keadaan yang seperti itu tidak boleh menyerah. Saya juga membebaskan Habibi dan adik-adiknya untuk belajar atau berkegiatan. Tentu, saya tetap mendampingi,” jelas Eliza.
Dahulu, setelah tau anak pertamanya menyandang disabilitas, Eliza pun makin giat untuk belajar bahasa isyarat. Mulai dari abjad sampai istilah keseharian. Harinya berwarna, suka dan duka bergantian. Selain menjadi Ibu untuk tiga anak, ia juga bekerja sebagai pengasuh di Asrama Putra dan Putri SLB Pembina Pekanbaru.
Habibi kecil pernah bersedih sebab menerima ejekan dari teman-temannya. Namun, Eliza tetap hadir menguatkan. Menahun, Habibi tumbuh sebagai anak berprestasi. Salah satunya ia berhasil menyabet Medali Emas Olimpiade Sains Bidang Sejarah dalam Kompetisi Indonesian Advance Science Competition (IASC) Tingkat Nasional 2023.


Ia juga menunjukkan keunggulannya pada minat robotik saat berhasil menyandang predikat Juara Harapan III Ajang Kreasi Basic Robotik dalam kompetisi AKA PDBK Tingkat Nasional pada 2024. Begitu banyak medali yang ia perlihatkan kepada kami.
Gurunya semasa sekolah di SLB Pembina Pekanbaru, Reny Sriyanti bercerita tentang Habibi. Saat mata pelajaran agama, metode pembelajaran yang diterima oleh Habibi masih melalui verbal oral. Seperti membaca surat pendek, mendengar ceramah singkat dari guru agama. Habibi pun bisa menerimanya dengan baik.
“Kalau Habibi masih bisa menerima metode itu (verbal oral) dengan baik. Dia mengikuti gerak bibir pengajarnya. Walaupun masih surat pendek saja. Tapi kemarin saya lihat setelah dia ikut pelatihan membaca Al-Qur’an Isyarat dari Dompet Dhuafa, ia terlihat senang dan cepat memahaminya. Ya, karena itu bahasa utamanya dia. Saya berharap Habibi bisa ajarkan ilmu baru itu kepada adik-adiknya di SLB Pembina. Saya sering bilang ke dia, ‘Habibi bantu adik-adik, ya’, dan dia mengerti,” cerita Reny penuh semangat.
Baca juga: Komitmen bersama ESQ Kemanusiaan Wujudkan Ribuan Mushaf Al-Qur’an Isyarat bagi Teman Tuli

Pada Rabu (12/2/2025) hingga Kamis (13/2/2025), Habibi berhasil lulus ujian sertifikasi, juga mendapat Al-Qur’an Isyarat dari Pelatihan Al-Qur’an Isyarat hasil kolaborasi dari Dompet Dhuafa bersama ESQ Kemanusiaan di SLB Pembina, Pekanbaru, Riau.
Remaja yang bercita-cita menjadi programmer ini menyampaikan ketertarikannya mempelajari Al-Qur’an Isyarat karena memang lebih mudah dipahami bagi teman-teman Tuli. Selain itu ia juga berniat meningkatkan inklusivitas berbahasa di Pekanbaru melalui komunitas Gerkatin Riau dan DDV Riau.
“Setelah mendapat ilmu baru membaca Al-Qur’an dengan bahasa isyarat, saya berencana menginisiasi pengajaran ini ke komunitas-komunitas lainnya. Jika hari ini ada teman Tuli yang berhalangan hadir, saya siap mengajar kapan pun ada waktu. Saya berharap pelatihan ini dapat membantu meningkatkan pemahaman agama Islam, khususnya bagi Tuli. Karena mempelajari Al-Qur’an sangat penting dan harus menjadi bagian dari kehidupan di Kota Pekanbaru,” tutur Habibi dengan bahasa isyarat.



Sahabat, semoga kisah Habibi dapat menginspirasi kita semua agar semangat untuk terus mencoba hal baru. Demi inklusivitas bagi semua kalangan, mari kita saling dukung dan menguatkan tanpa terbatas ruang dan waktu melalui Donasi Al-Qur’an Isyarat. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Hany Fatihah Ahmad
Penyunting: Dhika

