Sering Merasa Burnout? Mungkin Energimu Habis untuk Hal yang Salah

Belakangan ini, istilah burnout makin akrab di kalangan anak muda. Fenomena ini bukan sekadar tren di media sosial, tetapi juga menjadi perhatian para peneliti di Indonesia. Salah satunya, penelitian dari Universitas Brawijaya yang melibatkan 239 pekerja Generasi Z di Indonesia menemukan bahwa kecanduan media sosial (social media addiction) dan stres kerja sama-sama berpengaruh signifikan terhadap burnout. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa burnout tidak hanya dipicu oleh tekanan pekerjaan, tetapi juga dapat diperburuk oleh kebiasaan digital yang menguras energi mental.

Di era digital, perhatian menjadi sesuatu yang sangat berharga. Tanpa disadari, energi mental sering terkuras karena terus mengikuti berita yang silih berganti, membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial, merasa harus mengetahui setiap isu yang viral, atau ikut terlibat dalam perdebatan yang tidak membawa manfaat. Sedikit demi sedikit, kebiasaan tersebut membuat pikiran terasa penuh dan hati sulit menemukan ketenangan. Padahal, tidak semua hal harus kita respons, tidak semua persoalan harus kita pikirkan, dan tidak semua tren harus kita ikuti.

Dalam Islam telah diajarkan pentingnya mengelola perhatian dan fokus sejak lebih dari 14 abad yang lalu. Rasulullah Saw bersabda:

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”
(HR Tirmidzi)

Hadis ini mengajarkan bahwa kualitas seorang Muslim bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah, tetapi juga dari kemampuannya menjaga diri dari perkara yang sia-sia. Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan berarti menutup mata terhadap keadaan sekitar, melainkan bijak dalam menentukan apa yang pantas mendapat perhatian.

Ketika kita belajar membatasi hal-hal yang hanya menguras waktu dan energi, pikiran menjadi lebih jernih, hati lebih tenang, dan kita memiliki ruang untuk fokus pada hal-hal yang benar-benar bernilai, baik bagi kehidupan di dunia maupun sebagai bekal di akhirat.

Bila akhir-akhir ini kamu merasa mudah lelah, mungkin ini saatnya berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: energi yang Allah titipkan selama ini habis untuk apa? Selain menjaga fokus pada hal yang bermanfaat, cobalah mengisinya dengan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Seperti memperbanyak ibadah, menuntut ilmu, menjaga silaturahmi, serta berbagi kepada sesama.

Menariknya, penelitian berjudul Sedekah sebagai Prediktor Kebahagiaan yang diterbitkan dalam Jurnal Psikologi Islam menemukan bahwa perilaku sedekah memiliki hubungan positif dengan tingkat kebahagiaan seseorang. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki perilaku bersedekah yang tinggi cenderung memiliki tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang perilaku sedekahnya rendah. Bahkan, sedekah diketahui memberikan kontribusi sebesar 11,1 persen terhadap kebahagiaan.

Baca juga: Sedekah dari Barang Curian: Amal atau Dosa?

Yuk, jadikan setiap energi yang Allah titipkan untuk menghadirkan manfaat. Salurkan sedekah, infak, zakat, maupun donasi kemanusiaan melalui Sedekah untuk Yatim, Ikhtiar Meneladani Rasulullah Saw, karena setiap kebaikan yang kita lakukan bukan hanya meringankan beban orang lain, tetapi juga menjadi jalan untuk menenangkan hati dan meraih keberkahan hidup. (Dompet Dhuafa)

Teks: Nurul
Penyunting: Dhika