Cara Menyikapi Cemas Finansial In This Economy Menurut Islam

Hukum zakat dari harta gono-gini

Cemas finansial kini sedang dihadapi oleh banyak orang di Indonesia. Apalagi bagi mereka yang berpenghasilan menengah ke bawah. Ekonomi pun sedang tidak stabil, tantangan hidup makin banyak. Nggak heran warga jadi pada cemas, khususnya cemas finansial. Mulai dari mencemaskan harga bahan pokok yang kian melambung hingga biaya pendidikan yang makin mahal dan tak masuk akal.

Kecemasan ini pun mengganggu ketenangan hati sebagian besar orang. Namun, sebagai muslim kita memiliki pedoman agama yang mengajarkan kita untuk bertawakal. Tawakal bisa menjadi sumber kekuatan kita setelah berusaha dengan maksimal (ikhtiar). Tawakal bisa membuat hati kita tidak terjebak dalam asumsi. Lebih dari itu, tawakal membuat kita percaya bahwa ketetapan Allah lah yang terbaik, sebab Dia yang mengatur alur hidup kita. Sahabat, simak cara menyikapi cemas finansial menurut Islam di bawah ini yuk, gas!

Cara Menyikapi Cemas Finansial dalam Islam

Ajaran Islam tidak hanya menuntun kita untuk mencari rezeki yang halal, tetapi juga mengajarkan sikap batin agar sebagai muslim kita mampu menghadapi tekanan finansial dengan sabar, tawakal, dan optimis. Berikut beberapa cara menyikapi cemas finansial menurut Islam yang bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Salat, Zikir, dan Berdoa

Ibadah salat yang kita kerjakan lima waktu sehari bukanlah sekadar rutinitas belaka. Tetapi, salat juga adalah komunikasi personal kita dengan Allah Swt. Dengan salat hadirlah ketenangan, air mata ketulusan, dan jeda untuk berhenti dari kebisingan dunia. Zikir setelah salat juga jadi pengingat bahwa kita tidak sendiri, ada Allah yang lebih besar daripada ketakutan kita.

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.”
(QS. Nuh: 10-12)

Menurut ayat di atas, istighfar menjadi jalan turunnya rezeki. Dengan zikir dan berdoa, hati juga akan lebih lapang dan iman pun menguat untuk menghadapi cemas finansial. Ayat di atas juga menjelaskan bahwa Allah lah yang menurunkan hujan dan menyuburkan bumi, yang mana itu akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup kita. Ini menegaskan bahwa hanya Allah lah yang mampu mencukupkan keperluan-keperluan kita, bila kita terus mengingat-Nya dan berdoa kepada-Nya.

Baca juga: Keluarga Harmonis Meski Penghasilan Tipis, Ini Rahasia Finansialnya!

Ilustrasi salat dan berdoa untuk menyikapi cemas finansial.

  • Percaya Allah Jamin Rezeki Kita

Islam menyatakan bahwa rezeki semua makhluk telah dijamin oleh Allah. Dia tidak akan membiarkan makhluk-Nya hidup tanpa makanan ataupun kebutuhan dasar. Namun, bukan berarti kita hanya menunggu, justru ini seharusnya menjadi dorongan bagi kita untuk mencari nafkah dengan penuh keyakinan. Kita bekerja bukan karena takut merasa kekurangan, tapi karena ingin menjadi hamba yang amanah dan beribadah dengan cara mencari nafkah.

“Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
(QS At-Talaq: 3)

Bagian terpenting adalah kita punya keyakinan bahwa Allah tidak akan pernah lupa kepada makhluknya. Kita lakukan yang terbaik, jaga akhlak dan usaha, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Rezeki tidak akan salah tangan, selama kita berjalan dalam kebaikan Allah pasti akan mencukupi.

  • Tawakal Setelah Ikhtiar

Tawakal adalah salah satu nilai Islam yang banyak orang salahpahami sebagai pasrah sepenuhnya tanpa usaha. Dalam ajaran Islam, tawakal bukanlah diam dan menunggu, tetapi bergerak dengan ikhtiar terbaik, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah yang Maha Menentukan.

Islam menggerakkan umatnya untuk bekerja keras dan berusaha dengan cara yang halal. Ikhtiar bukan sekadar duniawi, melainkan juga bagian dari ibadah. Ketika seseorang belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, membangun hubungan sosial yang baik, itu semua adalah bentuk kesungguhan.

Tawakal juga membuat seseorang lebih tenang dan berhenti berfikir sesuatu yang membuat cemas berlebihan. Terkadang kita terjebak dalam kegelisahan dengan banyak pertanyaan “seperti apa hari esok?” “apakah yang aku punya saat ini cukup?”. Tawakal bukan lari dari tanggung jawab, melainkan bentuk keimanan tertinggi dengan tidak memaksakan hasil sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi percaya dan menerima apa pun hasilnya itu merupakan bagian yang terbaik.

“Dan milik Allah lah seluruh rahasia langit dan bumi, dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak pernah lengah dari apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S Hud: 123)

Ayat di atas menjelaskan bahwa menyembah Allah adalah bentuk pengakuan atas kekuasaan-Nya dan bertawakal kepada Allah, wujud kepercayaan penuh terhadap hasil dari setiap usaha.

  • Bersedekah

Hati rasa gelisah tiap kali menghitung sisa uang di dompet? Cemas finansial merupakan hal yang sangat wajar dan manusiawi. Apalagi, kini biaya hidup makin meningkat. Namun, Islam justru menghadirkan jalan yang mungkin terdengar “berlawanan dengan logika”, yakni bersedekah. Alih-alih menimbulkan kekurangan, sedekah justru menjadi pintu keberkahan.

“Rasulullah Saw bersabda: Harta tidak akan berkurang karena sedekah.”
(HR Muslim)

Dengan bersedekah kepada mereka yang membutuhkan, hati kita pun belajar untuk percaya bahwa rezeki sesungguhnya datang dari Allah, bukan sekadar angka di rekening. Saat tangan kita ringan berbagi, Allah menjanjikan ketenangan batin, rezeki yang berlipat, bahkan perlindungan dari kesulitan. Sedekah bukan hanya tentang menolong orang lain, tetapi juga cara kita menolong diri sendiri agar bebas dari rasa takut akan kekurangan.

Baca juga: Tips Persiapkan Kemerdekaan Finansial ala Syariah Untuk Generasi Sandwich

Islam paham terhadap perasaan manusia. Nabi pun pernah menangis, khawatir, rindu. Tapi, Islam melarang membiarkan kecemasan menutupi harapan. Kita boleh gelisah, tapi tidak dengan berprasangka buruk kepada Allah.

Sahabat, di tengah ketidakpastian ekonomi seperti sekarang ini, Islam hadir sebagai sumber ketenangan dalam hidup. Kecemasan soal finansial adalah hal yang manusiawi, namun Islam mengajarkan bahwa rezeki bukanlah hasil akhir dari kerja keras semata, melainkan hasil dari ikhtiar dan tawakal yang dilakukan. Di tengah sulitnya ekonomi, tetaplah melangkah dengan iman sebagai petunjuk dan tawakal sebagai penenang hati. Rezeki memang tidak selalu berlimpah, tapi dengan keberkahan yang sedikit pun bisa terasa cukup. Undang keberkahan dalam rezekimu dengan cara bersedekah kepada mereka yang membutuhkan melalui Dompet Dhuafa, yuk sedekah mudah di sini!