Semangat Guru dan 6 Siswa Jalani MPLS di Sekolah Darurat Bireuen Pascabanjir Aceh

Students in brown hijabs at wooden desks in a classroom under a banner reading 'Rumah Harapan Siap Sekolah,' with a teacher assisting them.

BIREUEN, ACEH — Terdengar riang suara anak-anak mengawali tahun ajaran baru sekolah di Desa Teupin Mane, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen. Di sebuah bangunan semi-permanen yang berdiri tegak di area saksi peristiwa besar di Aceh pada November 2025 lalu, semburat senyum juga terukir dari wajah Maryati, seorang Guru Kelas 4 di SD Negeri 14 Juli di hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada Rabu (15/07/2026).

Bangunan tersebut adalah Sekolah Darurat, sebuah lokal (ruang kelas) program pemulihan kemanusiaan dari Dompet Dhuafa yang dibangun atas amanah mulia dari mitra kebaikan, Bridgestone–jenama perusahaan karet/ban ternama asal Negeri Sakura. Di sinilah, lentera pendidikan yang sempat padam diterjang banjir bandang, kini kembali dinyalakan.

Kepada tim Dompet Dhuafa, Bu Maryati sempat mengenang kembali malam mencekam saat banjir bandang melanda akhir tahun lalu. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti membuat air sungai meluap dengan beringas.

“Setelah hujan deras seminggu tidak berhenti, suatu pagi, seluruh daratan sekolah ini sudah dipenuhi air. Beberapa bangunan sekolah ikut terbawa arus. Bahkan rumah saya sendiri pun hanyut oleh arus banjir,” kenang Bu Maryati lirih, mengenang kesedihan saat ia harus mengungsi ke dataran tinggi tanpa menyisakan satupun tempat untuk tidur.

Bencana itu meluluhlantakkan segalanya. Buku-buku pelajaran, fasilitas WC, hingga baju seragam milik murid-muridnya juga hanyut tanpa sisa. Akses jalan dan Jembatan Teupin Mane terputus. Sekolah terpaksa mati suri dan diliburkan demi keselamatan, sehingga membuat ujian sekolah pun ditiadakan dan nilai-nilai siswa terpaksa disesuaikan demi keadaan.

Riverside scene with a colorful wooden shack on the right, grassy bank, and a wide river with small boats in the distance.

Baca juga: Dapat Ruang Kelas Baru di Sekolah Darurat Dompet Dhuafa, Rajah Bahagia Bisa Lanjut Sekolah: Ingin Jadi Ustaz

Setelah berbulan-bulan terhenti, denyut nadi sekolah kembali berdetak pada 5 Januari 2026. Di awal kembalinya itu, kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di bawah naungan tenda darurat seadanya.

“Kalau belajar di dalam tenda itu rasanya sangat panas, anak-anak sering kali sulit berkonsentrasi juga. Suasana pun masih banyak sisa banjir, lumpur,,” ungkap Bu Mariyati.

Memahami urgensi tersebut, Dompet Dhuafa bersama Bridgestone bergerak cepat mendirikan Sekolah Darurat. Kehadiran ruang kelas baru ini menjadi jawaban atas doa-doa para guru dan orang tua yang sempat kebingungan mencari tempat bernaung bagi anak-anak mereka. Meski saat ini di SDN 14 Juli masih kekurangan dua lokal kelas dan rencananya akan direlokasi ke tempat yang lebih aman, Sekolah Darurat ini telah menjadi Rumoh Harapan Siap Sekolah, tempat perlindungan terbaik untuk merajut mimpi yang sempat hanyut.

Group of smiling children in tan and brown school uniforms seated on a blue mat inside a tent classroom.
Teacher in a hijab stands beside children seated at desks under a banner that reads 'Rumah Harapan Siap Sekolah' in an outdoor classroom.

Ada pemandangan menarik sekaligus menyentuh hati di awal tahun ajaran baru ini. Saat MPLS, Bu Mariyati menyambut murid-murid kelas 4 yang baru. Berbeda dengan sekolah di perkotaan yang padat.

“Kelas 4 SDN 14 Juli tahun ini hanya diisi oleh enam orang siswa saja. Sebelumnya ada tujuh, tapi satu siswa pindah karena tempat tinggalnya ikut pindah karena mengungsi. Secara keseluruhan, dari kelas satu hingga kelas enam, sekolah ini ada 65 siswa,” ucap Bu Maryati.

Namun, jumlah yang sedikit tidak mengurangi semangat di dalam Sekolah Darurat. Di bawah panduan hangat Bu Mariyati, keenam pasang mata itu tampak antusias mengikuti materi MPLS mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)—sebuah materi krusial agar mereka tumbuh menjadi generasi yang tangguh dan sadar lingkungan serta kesehatan di wilayah pascabencana.

Bagi keenam siswa ini, sekolah darurat dari Bridgestone dan Dompet Dhuafa adalah “istana” mereka. Di sinilah mereka saling berbagi tawa, membaca buku-buku yang tersisa, dan melupakan sejenak memori kelam tentang banjir yang sempat merenggut rumah-rumah mereka.

BAca juga: Pulihkan Ekonomi Pascabencana, Dompet Dhuafa Luncurkan Program MUFAKAT untuk UMKM Sumatera Barat

Two Muslim women in headscarves perform coordinated hand gestures inside a workshop or classroom setting.
Teacher in a black hijab stands behind two young students who are seated at a wooden desk, helping them as they write on papers in a classroom setting.

Bantuan Sekolah Darurat ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dari Bridgestone, yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa, mampu menyentuh aspek paling fundamental dalam pemulihan pascabencana yaitu masa depan anak-anak di bidang pendidikan.

Bagi Bu Mariyati, dedikasinya untuk terus mengajar di tengah keterbatasan adalah ketulusan hati yang tak luntur. Dan bagi keenam muridnya di kelas 4, setiap goresan pensil di buku tulis mereka hari ini adalah pembuktian bahwa harapan tidak akan pernah hanyut oleh banjir sedahsyat apa pun.

“Kami bersyukur karena bantuan ini mendorong kami untuk tetap semangat dalam belajar mengajar. Terima kasih Bridgestone, terima kasih Dompet Dhuafa. Sekolah Darurat ini sangat bermanfaat bagi kami,” ungkap Bu Maryati. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil