Setiap kali berita tentang Palestina muncul di layar, hati kita seolah diremas. Gambar reruntuhan bangunan, tangisan anak-anak, dan suara azan yang bersahut di tengah asap dan debu, menjadi pemandangan yang tak pernah benar-benar bisa diterima. Dunia mungkin sudah terbiasa, tetapi bagi hati yang masih hidup, penderitaan itu tetap terasa dekat. Sebagai sesama manusia, terlebih lagi sebagai sesama Muslim, kita tentu tidak bisa diam. Kita mungkin jauh, tapi rasa peduli tidak mengenal jarak.
Palestina bukan sekadar tempat di peta, melainkan simbol perjuangan, keteguhan, dan ketidakadilan yang masih terjadi hingga hari ini. Di tanah yang diberkahi itu, banyak jiwa kehilangan rumah, keluarga, dan rasa aman. Namun di balik penderitaan, ada kekuatan luar biasa: keyakinan kepada Allah dan semangat untuk tetap berdiri meski dunia runtuh di sekeliling mereka. Pertanyaannya, bagaimana sikap kita sebagai umat Islam terhadap penderitaan saudara-saudara kita di Palestina? Apa yang bisa kita lakukan, meski dari jauh?
Sikap Seorang Muslim: Peduli, Mendoakan, dan Membantu
Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; jika salah satu anggotanya sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan bahwa penderitaan umat Islam di mana pun adalah penderitaan kita juga. Saat saudara kita di Palestina berjuang untuk hidup, kita tidak bisa menutup mata dan merasa cukup dengan doa tanpa tindakan.
Doa memang penting, ia adalah kekuatan spiritual yang menghubungkan hati kita dengan Allah. Namun doa yang tulus selalu melahirkan tindakan. Doa tanpa upaya hanyalah harapan yang menggantung. Maka, bentuk cinta terhadap Palestina bukan hanya dengan menatap berita dan bersedih, tetapi dengan berbuat sesuai kemampuan.
Sebagian dari kita bisa menyuarakan kebenaran. Sebagian bisa membantu lewat harta. Dan sebagian lainnya bisa terus menguatkan doa, agar Allah memberi kekuatan bagi mereka yang bertahan di tengah ujian berat itu.
Setiap tindakan kecil yang kita lakukan memiliki arti besar bagi mereka yang hidup di tengah krisis. Saat kita menyumbang, mungkin hanya beberapa rupiah yang kita keluarkan, tapi bagi seorang ibu di Gaza, itu bisa berarti makanan untuk anaknya hari itu. Saat kita mengulurkan bantuan, mungkin tampak sederhana, tapi bagi mereka, itu adalah tanda bahwa dunia belum sepenuhnya diam.
Kepedulian bukan tentang seberapa besar yang kita beri, tetapi tentang seberapa dalam kita merasa terhubung dengan penderitaan sesama. Islam menuntun umatnya untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. Artinya, kasih sayang dan solidaritas kita tidak boleh berhenti pada batas geografis. Palestina mungkin jauh di sana, tetapi tangisan mereka adalah panggilan kemanusiaan bagi hati yang masih hidup.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ma’idah ayat 32:
“Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”
Ayat ini menegaskan bahwa menyelamatkan satu jiwa, sekecil apa pun kontribusinya, memiliki nilai luar biasa di sisi Allah.
Dari Empati Menjadi Aksi Nyata
Membantu Palestina tidak harus menunggu sampai kita kaya atau punya pengaruh besar. Setiap orang memiliki peran. Ada yang bisa menyuarakan kepedulian di media sosial, mengedukasi teman-temannya, atau menulis tentang Palestina agar dunia tidak lupa. Ada pula yang bisa menyisihkan sebagian rezekinya untuk meringankan penderitaan mereka. Semua bentuk dukungan, sekecil apa pun, akan selalu berarti di mata Allah.
DKini, saat kabar duka terus datang tanpa henti, dunia membutuhkan lebih banyak hati yang peduli. Mungkin kita tidak bisa berada di sana secara fisik, tapi tangan kita bisa sampai lewat sedekah dan zakat. Harta yang kita keluarkan tidak akan mengurangi apa pun, justru menambah keberkahan dan rasa syukur yang mendalam. Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Membantu Palestina bukan hanya tentang memberi, tapi juga tentang memperbaiki diri. Saat kita mengulurkan tangan untuk orang lain, sebenarnya kita sedang membersihkan hati dan harta kita dari sifat kikir dan ketidakpedulian.
Sedekah dan zakat yang kita tunaikan untuk Palestina adalah bentuk syukur atas nikmat yang masih kita miliki. Kita masih bisa makan dengan tenang, tidur tanpa suara bom, dan menatap langit tanpa takut. Maka, rasa syukur itu seharusnya mendorong kita untuk berbagi kepada mereka yang kehilangan semua itu.
Setiap rupiah yang kita keluarkan adalah saksi iman. Ia menjadi jembatan antara kenyamanan kita dan penderitaan mereka, antara doa dan tindakan nyata. Karena itu, mari jadikan kepedulian ini bukan sekadar respons emosional, tetapi komitmen berkelanjutan. Bukan hanya sekali saat berita ramai, tapi terus hingga keadilan benar-benar hadir untuk rakyat Palestina.
Palestina mungkin terasa jauh di mata, tapi seharusnya selalu dekat di hati. Mereka adalah saudara kita, bagian dari tubuh yang sama.
Di tengah penderitaan yang seakan tiada akhir, kita bisa memilih untuk tidak tinggal diam. Kita bisa memilih untuk berbuat, meski kecil, namun tulus. Sahabat bisa bantu Palestina bersama Dompet Dhuafa dengan Donasi Di Sini.

