Masjid Salamad, Diplomasi Kubah dari Delta Mekong Vietnam

LONG XUYEN, VIETNAM — Masjid Salamad di Vietnam adalah bagian dari penegasan peran strategis dan kontribusi lembaga filantropis Indonesia ke berbagai negara. Hal ini disampaikan oleh Juperta Panji Utama selaku Deputi Direktur-1 Program Sosial, Kemanusiaan, dan Dakwah Dompet Dhuafa, di sela hiruk-pikuk detik-detik peresmian Masjid Salamad di Long Xuyen, Provinsi An Giang, Vietnam.

Sebelum Masjid Salamad berdiri, Haji Chau Mach–“pemegang” amanah surau–mengakui bahwa kebutuhan masjid representatif ​di wilayah Long Xuyen sangatlah penting dan mendesak. Isu ini, menurutnya, hampir senyap karena keterbatasan dana dalam dekade yang berderap. Padahal, komunitas muslim setempat terus tumbuh.

Saat ini, kata Haji Mach, jemaah inti dari komunitas tersebut sudah mencapai 300 jiwa. Untuk itu, tak ayal bila pembangunan sebuah masjid diperlukan. Karena, jemaah telah beribadah dengan berdesakan di lahan cikal-bakal Masjid Salamad yang sudah ada sejak tahun 1950-an.

Kondisi tersebut lalu ditangkap sebagai peluang diplomasi budaya dan dakwah oleh Pemerintah Indonesia. Pemerintah melihatnya sebagai bagian integral dari penguatan soft power di Asia Tenggara.

Pada Mei 2022, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan periode 2019-2024, Muhadjir Effendy, mengunjungi Long Xuyen. Menko PMK secara langsung mengadvokasi kebutuhan masjid ini kepada otoritas Vietnam dan memastikan proyek ini dipandang sebagai agenda kenegaraan yang melibatkan komunikasi tingkat tinggi.

Baca juga: Sinergi Hebat! Pembangunan Masjid Salamad Indonesia di Vietnam Berjalan Lancar

Masjid Salamad resmi dibuka dan beroperasi ditandai secara simbolis dengan aksi gunting pita.
Masjid Salamad resmi dibuka dan beroperasi ditandai secara simbolis dengan aksi gunting pita

Made Santi dari KBRI Hanoi menyebut bahwa izin pembangunan tempat peribadatan yang disponsori oleh pihak luar Vietnam prosesnya sangat sensitif dan kompleks. KBRI Hanoi dan KJRI Ho Chi Minh City perlu turun tangan dan menjadi pemeran kunci mulai dari proses negosiasi hingga memastikan skema pendanaan dari Indonesia tidak melanggar regulasi Vietnam.

Singkat cerita, izin resmi pembangunan dari Komite Rakyat Provinsi An Giang berhasil didapat. Proses peletakan batu pertama oleh Menko PMK pun terlaksana pada 27 Juni 2024. Hal ini menegaskan adanya persetujuan politik di tingkat pusat dan daerah Vietnam.

​Proyek yang disebut “Masjid Salamad Indonesia” ini, diwujudkan melalui orkestrasi Humanitarian Forum Indonesia (HFI) bersama anggotanya, yakni Dompet Dhuafa, Human Initiative, Rumah Zakat, Baznas RI, DT Peduli, dan Lazismu.

Menurut Surya Rahman selaku Direktur Eksekutif HFI 2022-2025, total dana yang disalurkan pada proyek ini mencapai 5.672.050.000 VND atau setara dengan Rp3,5 miliar. Ini mencerminkan kepercayaan publik Indonesia terhadap diplomasi filantropi ke luar negeri.

Masjid Salamad, papar Surya, diproyeksikan dengan konsep multifungsi. Selain menjadi pusat salat dan pelaksanaan Hari Besar Islam, masjid ini didesain sebagai pusat pendidikan, pusat pelatihan ekonomi, kemandirian, hingga halal hub bagi komunitas.

​Meskipun fondasi politik sudah kuat, proses konstruksi berjalan selama 18 bulan. Ini menjadi bukti bahwa proyek ini tidak luput dari tantangan. Mulai dari stigma Islam intoleran hingga belum padunya kalangan tokoh muslim lokal dalam mengembangkan dakwah ke depan. Apalagi saat musim Topan Mekong tiba dan kontraktor kesulitan mendapatkan material konstruksi dengan standar kualitas Indonesia dan spesifikasi desain Islam.

Baca juga: Perluas Diplomasi Kebudayaan, Kemlu RI Gandeng Dompet Dhuafa Bangun Islamic Centre di Kroasia

Nguyen Chau, Kontraktor Lokal Masjid Salamad, berpendapat bahwa di luar hal-hal tersebut, kenaikan harga material di lokal menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan. Namun, tantangan tersebut tidak membuat langkah surut. Bahkan dalam sambutannya saat peresmian Masjid Salamad, Jane Runkat selaku Charge D’affaires/Head of Mission, Embassy of the Republic of Indonesia di Hanoi, mengatakan bahwa hal itu membuktikan adanya upaya harmoni hubungan Indonesia-Vietnam yang berkelanjutan.

“Kami turut bahagia berada pada kesempatan terbaik hari ini,” ujar Jane.

Penyerahan Al-Qur'an dari Dompet Dhuafa kepada DKM Masjid Salamad dilakukan secara simbolis oleh Juperta Panji Utama kepada Chaw Haji Saleh.
Penyerahan Al Quran dari Dompet Dhuafa kepada DKM Masjid Salamad dilakukan secara simbolis oleh Juperta Panji Utama kepada Chaw Haji Saleh

​Masjid Salamad resmi berdiri dan dioperasikan pada Jumat (5/12/2025). Peresmian ini dihadiri oleh tokoh-tokoh diplomatik Indonesia hingga pejabat tingkat tinggi dari Komite Rakyat Provinsi An Giang.

Kehadiran delegasi resmi Vietnam pun mendapat sambutan hangat dari Kemenko PMK RI yang diwakili oleh Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Warsito. Ia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya pemerintah Vietnam, yang mendukung dan bersinergi dalam pembangunan masjid ini.

Wakil Ketua Komite Rakyat Provinsi An Giang, Le Van Phuoc, berharap agar hubungan dan kerja sama antara An Giang dan Indonesia terus menguat. Sehingga, dapat mempromosikan kekuatan bersama dan mengukuhkan kemitraan yang baik antara kedua negara. Ia juga menyambut baik proyek ini dan menggarisbawahi komitmen Vietnam untuk mendukung kebebasan beragama.

Secara simbolis, Jane Runkat menekankan bahwa peresmian ini menjadi penanda 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Vietnam. Sekaligus memberikan dimensi baru pada persaudaraan strategis kedua negara.

Baca juga: Dompet Dhuafa, Menko PMK, Dubes RI untuk Vietnam dan HFI Lakukan Groundbreaking Masjid di Long Xuyen Vietnam

Setelah peresmian, Juperta Panji Utama, menegaskan bahwa Dompet Dhuafa tetap berkomitmen pada fase lanjutan bagi para jemaah.

“Targetnya adalah menjadikan Masjid Salamad sebagai pusat peradaban muslim yang mandiri, bukan sekadar simbol bantuan luar negeri. Keberlangsungan masjid ini akan menjadi barometer kesuksesan jangka panjang model diplomasi kubah yang diusung lembaga filantropi dan Pemerintah Indonesia,” pungkasnya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Ust. Awang Ridwan Suhaedy
Penyunting: Ronna