Romi Menemukan Harapan di Food Court Nusadaya Dompet Dhuafa

Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman, pelanggan pun nyaman.

JAWA BARAT — Seorang pedagang UMKM, Romi Guandi (35) pernah berdiri berjam-jam di balik lapak kecilnya di sebuah sudut jalan Desa Cibiru Hilir, Kabupaten Bandung. Di hadapannya, kendaraan berlalu-lalang tanpa banyak yang berhenti. Padahal lokasi itu strategis, ramai, dan menyimpan potensi pelanggan yang besar. Namun tanah lapang berdebu, tanpa tempat duduk yang nyaman, tanpa atap, tanpa rasa nyaman, membuat banyak orang memilih sekadar lewat. Sesekali pelanggan berhenti untuk membeli. Namun, jika hujan turun, mereka perlahan satu per satu pergi.

“Orang lewat banyak. Tapi yang mampir sedikit,” kenang Romi pelan kepada Dompet Dhuafa, saat momen peresmian Food Court Nusadaya Jawa Barat yang berlokasi di Komplek Bumi Harapan, Desa Cibiru Hilir, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, pada Rabu (21/01/2026).

Sejak 2017, Romi menggantungkan harapan dari gulungan nasi kecil bernama sushi. Pilihan itu lahir dari hal sederhana, yaitu kegemarannya ngemil dan keinginannya menghadirkan camilan yang lebih sehat. Tapi perjalanan membesarkan usaha itu tak semudah rasanya.

Baca juga: Food Court Nusadaya Jawa Barat Resmi Hadir Perkuat UMKM Berbasis Zakat

Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman, pelanggan pun nyaman.
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman pelanggan pun nyaman
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman, pelanggan pun nyaman.
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman pelanggan pun nyaman

Romi harus mencari bahan baku yang dulu sulit ditemukan, bertahan dari terik matahari dan hujan yang kerap menghapus peluang dagangan hari itu, serta menghadapi pandangan orang-orang yang menganggap sushi sebagai makanan asing, bahkan mentah.

“Kalau panas sepi, kalau hujan lebih sepi lagi,” ujarnya lirih.

Tak jarang, satu hari penuh berlalu dengan penghasilan yang nyaris tak seberapa. Namun, Romi bertahan. Bukan hanya sebagai pedagang, tetapi juga sebagai seorang guru seni rupa yang membagi waktu antara mengajar anak-anak menggambar dan melukis, serta berjualan demi menghidupi keluarga.

Hal yang membuatnya tetap kuat adalah satu hal kecil, yaitu jika ada pelanggan yang kembali. Artinya, ia merasa hasil masakannya diapresiasi dan dirasakan enak oleh pelanggan.

“Kalau ada yang cocok dan datang lagi, rasanya capai langsung hilang,” katanya sambil tersenyum.

Dompet Dhuafa melihat sesuatu yang mungkin luput dari pandangan banyak orang. Potensi besar di balik lokasi yang tak ramah pelanggan itu. Kawasan ini strategis, ramai, dan dikelilingi aktivitas warga. Yang kurang hanya tempat yang nyaman.

Melalui Program Food Court Nusadaya, Dompet Dhuafa membangun ruang baru bagi mimpi para pelaku usaha kecil. Bukan hanya untuk Romi, tetapi juga untuk 18 UMKM lainnya yang selama ini berjualan di kondisi serupa.

Lapak-lapak sederhana berubah menjadi food court yang bersih dan tertata. Ada tempat duduk yang nyaman, ada musala untuk beribadah, ada toilet yang bersih, ada ruang bagi pelanggan untuk singgah tanpa ragu.

“Sekarang orang lebih betah. Lebih banyak yang mau mampir,” ujar Romi.

Baca juga: Food Court Nusa Daya, Nafas Baru untuk Kesejahteraan Ekonomi dan Ketahanan Sosial UMKM di Lampung

Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman, pelanggan pun nyaman.
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman pelanggan pun nyaman
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman, pelanggan pun nyaman.
Romi bersama pasangannya kini bisa berjualan dengan nyaman pelanggan pun nyaman

Perlahan, dagangannya tak lagi hanya dilirik, tetapi dicari. Dari 30–40 porsi di hari biasa, hingga dua kali lipat saat akhir pekan. Dari penghasilan yang tak menentu, kini omzetnya bisa mencapai sekitar Rp5 juta per bulan.

Tak hanya tempat, Romi juga mendapat pendampingan usaha selama dua tahun dan bantuan modal, sebuah bekal penting untuk melangkah lebih yakin dan mantap.

Bagi Romi, food court ini menjadi ruang untuk kembali percaya bahwa usaha kecil pun layak dihargai.

“Sekarang jualan rasanya lebih tenang,” katanya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika