Sekitar 14 jam lagi menuju Gaza, Insan Dompet Dhuafa yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), diculik oleh Zionis Israel saat menjalankan misi kemanusiaan untuk Palestina dalam pelayaran bersama Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di perairan internasional Mediterania, Selasa (19/05/2026).
Ronggo Wirasanu dan Herman Budianto. Mereka berdua dikenal sebagai orang yang sabar, riang, dan tentu: AYAH YANG BAIK.
Di antara kami, rekan-rekan kerjanya, Ronggo Wirasanu adalah orang yang paling sabar. Dalam kesehariannya, beliau juga pendiam. Tapi, ketika berbicara, celetukannya membuat kami tertawa sejadi-jadinya.
Beliau selalu datang ke kantor lebih awal dari kami. “Biasa, antar anak sekolah,” jawabnya jika kami bertanya. Pun tiap jelang waktu Magrib di ruang kerja, panggilan video dengan anaknya yang bertanya “Ayah, pulang jam berapa?” menjadi playlist rutin di penghujung senja kami.
“Minggu depan aku ulang tahun yang ke-8, sekalian tes hafalan Juz 29. Tapi Ayah tugas ke Gaza,” ungkap Hanan, putra pertama Ronggo, selepas mengantar keberangkatan sang Ayah di Bandara Soekarno-Hatta.
Sialnya, hingga saat beliau diculik, Ronggo belum mengatakan kepada semua rekan-rekannya bahwa istrinya sedang mengandung anak keduanya. Usia kehamilannya baru dua bulan, diketahui dari hasil tes tepat satu minggu sebelum keberangkatannya ke Turki.



Begitu juga dengan Herman Budianto. Suara ceramah bakda Zuhur pada pengeras suara di Masjid Cordofa, bak podcast yang menjadi latar kami bekerja di Studio DDTV.
Hentakan kaki ke aspal dan teriaknya kala berlatih silat jelang waktu Magrib di halaman Masjid Cordofa, juga merupakan playlist sore kami tiap dua kali dalam seminggu. Sembari bergurau, kami selalu ditantangnya berlatih dengan gerakan jurus-jurusnya.
Bagi Ronggo dan Herman, perjalanan kemanusiaan ini juga bukan yang pertama. Sebelumnya, Ronggo pernah ke Mesir tahun 2023 dalam rangka mengawal dan menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk Palestina dari amanah masyarakat Indonesia. Sepanjang di DDTV, Ronggo juga banyak terjun ke pelosok Indonesia, merekam perjuangan hidup dalam pilar sosial.
Pun bagi Herman. Perjalanan panjang bersama Dompet Dhuafa telah beliau lakukan sejak tahun 1999. Berbagai bidang dan pilar pernah beliau alami. Respons kebencanaan, pemberdayaan ekonomi, kesehatan, hingga memimpin Cabang Hongkong. Namun, sangat melekat pada dirinya bahwa beliau sosok yang mencintai dakwah dan budaya.



Mereka adalah pejuang yang layak diperjuangkan. Siapapun tidak ada yang pantas diperlakukan seperti ini saat sedang menjalankan misi kemanusiaan. Dompet Dhuafa dan berbagai pihak berupaya agar para aktivis kemanusiaan dibebaskan, dilindungi, dan memastikan kembali ke Tanah Air dengan selamat. Kami setia menanti mereka kembali dengan bahagia.
Dan dalam representatif di bulan Zulhijah ini, makna pengorbanan beliau berdua laiknya Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bagi kami. Semoga Allah berikan rida, rezeki, dan kasih sayang-Nya dalam keselamatan kalian. (Dompet Dhuafa)
Teks: Dhika
Foto: DDTV
Penyunting: Dedi Fadlil

