Ketika Zakatmu Tumbuhkan Kemandirian Perempuan, Rumah Produksi Kerupuk Gurita Angkat Potensi Lokal Pulau Aceh

Afrita Ida Utami, Kordinator Program Pemberdayaan Kerupuk Gurita.

ACEH — Suara ombak di Pulau Aceh bukan hanya menandai kehidupan para nelayan. Di baliknya, tersimpan cerita tentang inovasi, pemberdayaan, dan semangat perempuan yang mengubah potensi laut menjadi sumber penghidupan.

Adalah Afrita Ida Utami (32), Koordinator Program Pemberdayaan Kerupuk Gurita Dompet Dhuafa Aceh yang membuktikan bahwa dari bahan sederhana seperti gurita, bisa lahir peluang besar bagi ekonomi lokal.

Namun siapa sangka, ide sederhana ini ternyata berawal dari sebuah acara lomba masak lokal yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Aceh. Dengan tujuan utama menampilkan olahan gurita khas Pulau Aceh, kala itu, Afrita yang merupakan lulusan Ilmu Kelautan dan sedang bekerja di lab kampus diundang menjadi pemateri.

“Sebagian masyarakat hanya mengolahnya menjadi sate atau campuran mie. Sedangkan kami ingin mengangkat gurita ini agar bisa menjadi oleh-oleh khas istilahnya, yang bisa mengangkat nama daerah kami. Dari situ kami riset, bagaimana cara membuat olahan gurita yang tahan lama. Akhirnya, jadilah kerupuk gurita,” kata Mulya, Manajer Program Dompet Dhuafa Aceh.

Sebelum ada rumah produksi, kerupuk gurita yang diberi merek dagang Makpulo ini memulai proses produksinya di rumah Afrita dengan semuanya dikerjakan serba manual. Mulai dari pengadonan, pemotongan, pengeringan, sampai pengemasan. Menurut Afrita, pesanan awal-awal hanya tiga bungkus, tapi seiring berjalannya waktu, pesanan terus bertambah hingga kini mencapai 500 bungkus per minggu.

Tak ingin berhenti di produksi kecil, Afrita mulai menitipkan produknya ke toko-toko di Banda Aceh. Kini, kerupuk gurita bisa ditemukan di 13 toko di Banda Aceh dan 10 toko di Sabang lewat 2 distributor.

Di balik proses produksinya, Afrita melibatkan para Ibu Rumah Tangga dan mahasiswa muda. Dua di antaranya adalah Reva Safrina (19) dan Rauzannur (21), mahasiswi Universitas Syiah Kuala yang juga merupakan seorang yatim.

“Awalnya saya tahu dari Instagram, pas lihat lowongan langsung daftar. Alhamdulillah gaji dari sini lumayan, nggak perlu selalu minta orang tua,” ujar Reva tersenyum.

Baca juga: Kontribusi pada Pemberdayaan Masyarakat, Dompet Dhuafa Raih Penghargaan Mandaya Awards 2025

Reva (kiri) dan Rauzan (kanan), Penerima Manfaat Program Rumah Gurita.
Reva kiri dan Rauzan kanan Penerima Manfaat Program Rumah Gurita

Bagi Reva dan Rauzan, menjadi bagian dari program ini bagi bukan sekadar pekerjaan sambilan. Lebih dari itu, menurut mereka ini kebanggaan, karena kerupuk gurita ini adalah yang pertama di Aceh. Dan bila makin besar namanya di kemudian hari, mereka bisa bisa ikut mengharumkan nama daerah mereka sendiri.

 Tentu tak hanya Reva dan Rauzan, lewat program ini, Afrita juga turut membantu nelayan gurita dan mengangkat ekonomi masyarakat pesisir. Kini, tim Kerupuk Gurita tengah menyiapkan varian baru, yaitu pedas dan rumput laut, serta camilan sehat khusus anak-anak, juga penambahan produk-produk lainnya seperti menu-menu sambal gurita.

“Kami mau produk ini bisa dinikmati semua kalangan. Produk yang saat ini pun sebenarnya bisa untuk anak-anak karena memang tanpa tambahan penyedap rasa, proteinnya tinggi, hanya saja nanti kami modifikasi di teksturnya ya,” jelas Afrita.

Tak hanya soal varian dan jenis produknya, Afrita beserta anggota lainnya juga sedang membuka peluang distribusi ke Bali dan Surabaya. Bahkan, mereka menjajaki kerja sama dengan minimarket-minimarket besar di Indonesia.

Mulya, Manajer Program Dompet Dhuafa Aceh.
Mulya Manajer Program Dompet Dhuafa Aceh

Baca juga: Rancang Aksi Nyata Entaskan Kemiskinan, Dompet Dhuafa Bentuk Jaringan Mitra Pemberdayaan

Mulya selaku Manajer Program Dompet Dhuafa Aceh telah hadir mendampingi program ini sejak tahap awal. Mulai dari riset, penyediaan alat, pendampingan keuangan, hingga pelatihan manajemen produksi. Program Pemberdayaan Kerupuk Gurita ini lahir dari dana zakat yang tak hanya menciptakan produk, tetapi juga membuka lapangan kerja, menumbuhkan kemandirian, dan menguatkan peran perempuan dalam ekonomi keluarga.

“Program ini hadir dari dana zakat, dan kami ingin manfaatnya berkelanjutan. Bukan hanya setahun dua tahun, tapi terus berkembang, dan masyarakat Pulau Aceh bisa bangga punya produk sendiri,”  tutup Mulya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Surnawati
Penyunting: Ronna