Pegiat Aqil Baligh sekaligus Amil Dompet Dhuafa, Fatchuri Rosidin, kembali membagikan sebuah tulisan tentang masa muda Khadijah binti Khuwailid, yang kelak menjadi istri Nabi Muhammad Saw. Secara spesifik, Fatchuri Rosidin menulis tentang karakter dan kecerdasan seorang Khadijah. Gadis remaja di Makkah saat zaman Jahiliyah dan ketegangan Kekaisaran Romawi dan Persia.
Makkah, tahun 571 M
Gadis muda berusia 16 tahun itu masuk ke ruang kerja ayahnya dan duduk di atas hamparan permadani yang lembut. Khuwailid yang sejak tadi sibuk memperhatikan peta yang digambar di atas kulit kambing menghentikan kesibukannya dan menoleh ke arah gadis itu.
“Bukankah kau tadi sudah berpamitan untuk pergi?” tanya Khuwailid.
“Aku tidak jadi pergi, ayah!” jawab gadis itu tegas.
“Kenapa?” selidik Khuwailid.
“Mereka akan ke tempat pesta. Aku tak suka melihat orang menari dan mabuk-mabukan.”
Mendengar jawaban anaknya, Khuwailid tersenyum. Ia melangkah mendekat.
“Kota Makkah sudah terlalu rusak. Banyak anak muda yang kini sudah tergila-gila dengan judi dan minuman keras. Tantangan di masamu lebih berat dibandingkan di masa ayah dulu.”
“Menurut Waraqah, akan ada seorang Rasul akhir zaman yang akan diutus oleh Allah untuk memberi peringatan kepada umat manusia. Aku berharap Rasul itu diutus di Makkah ini, Ayah,” kata Khadijah.
“Waraqah sepupumu itu memang berbakat menjadi seorang pendeta. Ia banyak menguasai Taurat dan Injil,” jawab Khuwailid. “Semoga Rasul itu benar-benar akan diutus di kota ini.”
“Kakbah ada di kota ini, Ayah, warisan Nabi Ibrahim. Dan tahun lalu Allah menghancurkan pasukan Abrahah yang akan menghancurkan Kakbah. Semoga itu pertanda akan datangnya seorang utusan Allah seperti yang dikatakan Waraqah,” harap Khadijah.
“Ya, semoga Allah selalu menjaga kota ini.”
“Ayah sedang mengerjakan apa? Adakah yang bisa aku bantu?” gadis itu tiba-tiba kembali ceria.
Sang ayah tertawa melihat semangat gadis itu.
“Ini urusan bisnis, Khadijah. Apakah kau tertarik?”
Gadis itu berjalan mendekati meja ayahnya, memperhatikan peta kulit kambing dengan serius.
“Bukankah ini peta jalur perdagangan?” tanya Khadijah antusias. “Ini Makkah, ini Syam, dan Konstantinopel. Yang di selatan ini Yaman bukan?”
Khuwailid tersenyum lebar, “Benar, anakku. Kau tahu kenapa kota-kota itu begitu penting bagi kita?”
“Aku hanya tahu kalau ayah membawa kafilah dagang ke Yaman di musim dingin, dan ke Syam di musim panas,” jawab gadis itu polos.
“Yaman itu pintu masuk barang-barang dari Afrika, India, dan Cina, anakku. Di sana kita bisa membeli kopi, kemenyan, emas, sutra, dan rempah-rempah Sumatera dengan harga murah,” jelas Khuwailid.
“Kita membelinya di musim dingin, lalu menjualnya ke Syam di musim panas. Orang-orang Romawi dari Konstantinopel sangat menyukai barang-barang mewah seperti sutra dan rempah-rempah. Kita bisa menukarnya dengan gandum, minyak zaitun, dan anggur kering dari Romawi.”
Khadijah mengangguk. Matanya menyusuri jalur peta di bagian kanan.
“Ayah, berapa unta yang akan Ayah bawa untuk musim dagang tahun ini?” tanya Khadijah.
“Dua ratus ekor unta. Mengapa kau bertanya itu, Khadijah?” Khuwailid balik bertanya, penasaran dengan pertanyaan anak gadisnya.
“Tambahkan jumlahnya, Ayah. Bawalah dua kali lipatnya,” jawab Khadijah penuh percaya diri.
“Empat ratus ekor unta? Kenapa kau tiba-tiba punya ide itu?” tanya Khuwailid tak mengerti.
“Bukankah hubungan Romawi dan Persia sedang memanas?” tanya Khadijah.
“Iya benar, lalu, apa hubungannya?”
“Jika situasi terus memanas, apa pengaruhnya bagi jalur perdagangan dari Samarkand ke Romawi?” Khadijah bertanya kembali.
“Jalur perdagangan itu akan terganggu. Persia akan membatasi pasokan barang ke Romawi.”
“Kalau itu terjadi, dari mana Romawi mendapatkan pasokan barang dagangan yang mereka butuhkan?”
Khuwailid tiba-tiba tersadar. Bila jalur perdagangan dari Samarkand terganggu, Romawi hanya bisa mendapatkan barang dagangan dari jalur selatan di Syam. Pemasok barang di Syam tak lain adalah para pedagang Quraisy yang membawa barang-barang itu dari Yaman.
Tiba-tiba Khuwailid tertawa lebar sambil menepuk bahu Khadijah.
“Kau benar, Khadijah. Permintaan barang di Syam pasti akan meningkat, dan kita bisa mendapatkan keuntungan dari situasi ini. Hahaha….”
“Masalah kita hanya satu, Ayah. Perampok di pesisir Laut Merah atau di pedalaman gurun Najd,” ujar Khadijah.
“Soal keamanan kau tak usah khawatir. Ayah bisa menyewa pengawal bersenjata dan bergabung dengan kafilah dagang keluarga lain. Dengan jumlah yang lebih besar, keamanan akan lebih terjamin,” jawab Khuwailid.
Khuwailid menjadi lebih bersemangat. Musim dagang tahun ini ia yakin bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Dan itu bisa terjadi karena ide cerdas dari putrinya.
“Khadijah, apakah kau tertarik untuk menjadi saudagar?” tanya Khuwailid sambil memperhatikan Khadijah yang kini sudah kembali duduk.
“Apakah Ayah keberatan?” Khadijah balik bertanya.
“Tentu saja tidak,” jawab Khuwailid sambil tersenyum, “Kau berbakat, tapi masih harus banyak belajar. Ini dunia laki-laki yang keras, kau harus bisa menjaga dirimu.”
“Aku akan mengingat nasehat Ayah,” ujar Khadijah sambil berdiri dari duduknya. “Lanjutkan pekerjaanmu, Ayah. Aku akan menyiapkan makan siang.”
Khuwailid menatap Khadijah sampai menghilang di balik pintu. Ia baru saja menemukan mutiara cemerlang di rumahnya sendiri. Selain Hizam dan Awwam, kini ia menemukan calon penerus baru bagi bisnis keluarganya. (Dompet Dhuafa)
Penulis: Fatchuri Rosidin
Penyunting: Dhika

