Secercah Harap di Balik Gang Sempit Pancoran: Kisah Pak Solihin Melawan Penyakit

JAKARTA — Di sebuah gang sempit yang membelah padatnya wilayah Pancoran, Jakarta Selatan, terdapat sebuah ruang kontrakan satu petak berukuran 3×2 meter persegi. Ruangan yang disewa seharga Rp700 ribu per bulan itu kini terasa lebih sunyi dari biasanya. Di sana, Pak Solihin (45) terbaring lemah, jauh dari istri dan anaknya yang berusia lima tahun di Sragen, Jawa Tengah.

Nasib malang menimpa pedagang kopi keliling ini setelah langganan banjir meluap merendam kontrakannya. Diagnosis dokter cukup berat, Pak Solihin mengalami keracunan hingga menyerang fungsi livernya. Awalnya, ia diduga terkena virus dari kotoran tikus masuk yang terbawa air sisa banjir ke dalam ruang hidupnya, meninggalkan bibit penyakit yang fatal. Bermula dari demam tinggi dan nyeri perut, kini ia terpaksa berhenti mendorong gerobak kopi kelilingnya—satu-satunya sumber nafkah bagi keluarga kecilnya.

“Pemasukan kotor satu hari itu kisaran Rp200.000,” aku Pak Solihin.

Baca juga: Kebahagiaan Para Pejuang Rupiah di Tarhib Ramadan 1447 H: Alhamdulillah Dapat Bingkisan Sembako dan Uang Bensin!

Sejak sakit, roda ekonomi Pak Solihin berhenti berputar. Untuk merawat dirinya sendiri pun ia kesulitan. Beruntung, sang kakak, Nursania, yang tinggal tak jauh dari lokasi, kerap menyempatkan diri di sela-sela urusan rumah tangganya untuk membantu Pak Solihin berobat. Namun, kebutuhan biaya hidup dan pengobatan yang terus berjalan menjadi beban yang kian menghimpit.

“Karena tidak ada yang urus lagi, saudara yang lain jauh. Tapi, saya juga punya keluarga,” ujar Bu Nursania.

Melihat kondisi memprihatinkan ini, ROIS OJK melalui Dompet Dhuafa hadir untuk menyambung rantai kebaikan. Sebagai penyalur amanah donasi, Dompet Dhuafa menyerahkan bantuan tunai senilai Rp10 juta sebagai bagian dari Program Santunan Dhuafa di Bulan Ramadan 1447 Hijriah dan biaya pengobatan.

Baca juga: 5 Hari Kayuh Rindu Sejauh 630 KM: Pejuang Mudik Gunakan Sepeda Menuju Gunung Kidul

Sesuai rekomendasi medis, Pak Solihin memerlukan waktu pemulihan setidaknya tiga bulan. Bantuan ini hadir sebagai “cahaya baru” agar ia bisa fokus pada penyembuhan tanpa perlu risau memikirkan biaya sewa kontrakan atau biaya makan harian. Harapannya sederhana, namun sangat bermakna: agar Pak Solihin bisa segera pulih, kembali berdaya, dan memeluk kembali keluarganya di kampung halaman dengan senyuman.

“Ingin cepat sembuh dan berdagang lagi. Sekarang masih rutin minum obat. Sakit itu tidak enak, sehat itu mahal. Terima kasih banyak untuk donasinya, karena ini benar-benar bermanfaat bagi saya,” kata Pak Solihin.

Mari terus tebar kebaikan bersama Dompet Dhuafa untuk mereka yang membutuhkan melalui Donasi Dompet Dhuafa. Karena amanah anda sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil