ACEH — Lumpur masih membekas di dinding sekolah itu. Warnanya kecokelatan hingga atap gedung, menandai batas ketinggian banjir bandang yang pernah menenggelamkan segalanya. Hampir empat meter. Selama dua bulan penuh, SMAN 02 Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya hanya menjadi bangunan sunyi yang terbenam lumpur. Ruang kelas rusak, meja dan kursi tak lagi layak, serta fasilitas belajar yang porak-poranda.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih, kehidupan perlahan kembali berdenyut oleh harapan. Di depan sekolah, bersebelahan dengan Pasar Meurah Dua, sebuah sumur bor berdiri. Air jernih mengalir deras, hal yang sebelumnya menjadi kemewahan bagi warga Gampong Meurah Dua, Kecamatan Meureudu.
Sumur bor dan MCK dengan empat bilik itu merupakan hasil kolaborasi Dompet Dhuafa bersama Tokopedia dan Indosat Ooredoo Hutchison. Sebuah ikhtiar yang mungkin sederhana, namun menjadi arti yang besar bagi warga yang selama berbulan-bulan harus bergelut dengan air berlumpur.
Banjir bandang pada 26 November 2025 lalu bukan hanya merusak bangunan, tetapi juga melumpuhkan kehidupan. Pasar Meurah Dua yang biasanya ramai oleh aktivitas jual beli, sempat nyaris mati. Lumpur menimbun kios-kios, sumur-sumur galian tak lagi bisa digunakan, dan air bersih menjadi barang langka.
“Air sangat sulit,” tutur Keuchik Meurah Dua, Helmi, saat momen peresmian Program Sumur Bor dan MCK, hasil kolaborasi antara Dompet Dhuafa, Tokopedia, dan Indosat Ooredoo Hutchison, pada Kamis (12/02/2026).
Baca juga: Jajaki Kolaborasi untuk Pemulihan Aceh, Dompet Dhuafa Silaturahmi dengan Kemenag Aceh


Ia menjelaskan bahwa sebagian warga memang memiliki sumur galian, namun sangat sedikit yang mempunyai sumur bor. Setelah banjir, sumur-sumur galian itu terendam lumpur. Sehingga sama sekali tak bisa digunakan.
Untuk sekadar mendapatkan air, warga harus menimba air bercampur lumpur, membiarkannya mengendap, lalu menyaringnya seadanya. Proses panjang itu untuk kebutuhan-kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, hingga berwudu.
Kondisi serupa juga dialami sekolah. Meski bangunan utama belum layak pakai, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Guru dan siswa menjalani hari-hari di tenda darurat. Meski begitu, semangat belajar mereka tetap menyala, seolah menjadi perlawanan sunyi terhadap bencana yang sempat merenggut harapan.


Di antara warga yang merasakan dampak hadirnya sumur bor itu adalah Agus Sumiyati (52). Rumahnya berada tak jauh dari lokasi sumur dan MCK.
Ia masih mengingat jelas hari ketika banjir berlumpur datang dengan ganas, mengapungkan barang-barang berharganya, bahkan menenggelamkannya. Rumahnya pun sempat ikut terendam. Beruntungnya, letaknya yang sedikit lebih tinggi membuat proses pembersihan relatif lebih mudah dibanding rumah warga lain.
“Yang paling berat itu air bersih. Susah sekali. Harus nampung air hujan. Atau nunggu air lumpur mengendap,” ujarnya pelan.
Sumiyati sebenarnya memiliki sumur galian, namun semuanya tertutup lumpur. Setiap hari, ia harus berpikir ekstra hanya untuk mendapatkan air yang layak.
Kini, langkahnya tak perlu jauh. Sumur bor di dekat rumahnya menjadi sumber kehidupan baru. Air bersih mengalir lebih mudah, tanpa harus menunggu endapan lumpur atau menyaring berulang kali.
“Alhamdulillah, sangat terbantu,” katanya dengan senyum yang kini lebih sering terlihat.
Keberadaan MCK pun membawa manfaat besar, terutama bagi aktivitas warga di pasar dan para siswa serta guru di sekolah. Akses sanitasi yang layak menjadi bagian penting dari pemulihan, bukan hanya fisik, tetapi juga martabat.
Baca juga:Dompet Dhuafa Silaturahmi ke Gubernur Aceh Muzakir Manaf, Perkuat Transparansi dan Kolaborasi


Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Aceh, Rizky Fauzan, menyampaikan bahwa sumur bor di Meurah Dua merupakan bagian dari rangkaian panjang respons kebencanaan Dompet Dhuafa di Sumatra.
“Dompet Dhuafa telah menghadirkan berbagai akses air bersih, MCK, sanitasi, hingga hygiene kit bagi warga terdampak banjir. Tidak hanya di Aceh, tetapi juga di Sumatra Utara dan Sumatra Barat,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi para mitra yang terus membersamai Dompet Dhuafa, mulai dari fase tanggap darurat dan evakuasi, hingga kini memasuki tahap pemulihan.
Bagi warga Meurah Dua, sumur bor ini mungkin belum menjangkau seluruh desa. Namun, air yang mengalir darinya menumbuhkan kembali harapan. Yaitu roda ekonomi yang bisa berputar perlahan, serta anak-anak tetap punya semangat untuk datang ke sekolah, meski masih beralas tanah dan beratap tenda. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika

