JAKARTA — Puluhan calon peserta Global Sumud Flotilla (GSF) dari Indonesia–secara offline dan online--menghadiri “Safety and Security Briefing GSF 2.0” di Aula Sasana Budaya, Philanthropy Building, Jakarta, Rabu (08/04/2025). Briefing ini membahas teknis tentang misi utama aksi GSF dan dokumen surat kuasa perjalanan serta kaitannya dengan urusan hukum.
Dalam sambutannya, Ahmad Juwaini selaku Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, menyampaikan bahwa ia senang karena makin banyak antusias dalam kepedulian untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina, pun dalam gerakan GSF.
“Beberapa tahun terakhir kita semua bisa merasakan gelombang kepedulian terhadap Palestina yang semakin meningkat. Namun saya kira, ini tindakan yang pada dasarnya di Indonesia belum semua Muslim dapat memahami dan menerima sebab latar belakang aksi GSF. Sehingga, aksi ini masih perlu terus disosialisasikan agar bisa lebih banyak mendapat dukungan dan tantangan bisa dihadapi,” jelas Ahmad, yang turut menyaksikan keberangkatan GSF di Tunisia tahun 2025 lalu.
Dalam realitanya, tim GSF Indonesia menghadapi banyak tantangan, salah satunya dukungan itu belum sampai pada tingkat yang diharapkan. Perjuangan Palestina perlu diperhatikan dengan banyak cara. Selagi mungkin bisa dilakukan, harus dilakukan. Salah satu bentuk perjuangan itu melalui GSF. Kita perlu menata berbagai kondisi ini sehingga kemudian hasil dampaknya itu jadi semakin kuat dan besar.
“Di beberapa kesempatan, saya pernah menyampaikan, di Indonesia ini perjuangan-perjuangan untuk Palestina masih kebanyakan dilakukan oleh umat Islam, sehingga kalau ini adalah perjuangan kemanusiaam universal, dukungan ini harus datang dari semua unsur kepedulian. Harus terus kita perluas gaungnya. GSF bukan untuk mencari bahaya, tapi by design-nya justru kegiatan yang aman. Tujuan akhirnya mendukung dan mempercepat kemerdekaan Palestina,” tegas Ahmad.
Baca juga: Kembali Berangkatkan Misi Global Sumud Flotilla 2.0 ke Palestina


Memaparkan brief-nya, Fadli Ramadhanil selalu Advokat Themis Indonesia, menyampaikan sebuah pengantar bahwa dalam konteks keberangkatan, perjalanan ini mengandung kebaikan, mendatangkan manfaat yang lebih besar, dan untuk memperbaiki keadaan setelah perjalanan selesai.
Misi utama GSF adalah mematahkan blokade Gaza, membuka jalur bantuan kemanusiaan, mendukung upaya konstruksi, konfrontasi orang-orang yang terlibat dalam genosida, hingga memantik aksi yang populer.
“Salah satu tujuan perjalanan adalah mengumpulkan alat bukti sebagai kesaksian yaitu rekaman, suara, foto, video, dokumen-dokumen, dan petunjuk-petunjuk lain. Namun, tetap lakukan dengan aman, tersimpan, dan dapat dimanfaatkan setelah dibawa kembali. Ini upaya untuk membantu kesaksian,” ujar Fadli.
Fadli turut memaparkan faktor risiko, antara lain:
- Masalah dokumen keberangkatan,
- Barang yang dibawa,
- Hambatan dari tentara di negara lain,
- Masalah kesehatan,
- Tindakan yang dilakukan dipandang sebagai sebuah masalah oleh negara tujuan.
“Persiapan dokumen legal harus clear, dan Keselamatan adalah hal paling utama, tidak untuk menghadang senjata. Pentingnya advokat dalam perjalanan ini adalah untuk mencegah atau melakukan serangkaian langkah untuk kepentingan hukum setiap peserta keberangkatan. Kami membangun jejaring komunikasi dengan kedutaan, internasional di beberapa negara, dan mapping upaya hukum untuk setiap potensi masalah hukum. Tim kuasa ada yang tidak berangkat, ada yang bersama tim,” papar Fadli.
Baca juga: Aksi Kawal Global Sumud Flotilla di Depan Kedubes AS, Dompet Dhuafa: Desak Bebaskan Aktivis!


Ketua Koordinasi GSF 2.0 Dompet Dhuafa, Arif RH, menyampaikan bahwa dari yurisdiksinya memang akan ada beberapa wilayah negara. Tapi sejak beberapa bulan yang lalu, tim hukum sudah berkomunikasi dan berkoordinasi dengan jaringan pengacara GSF sebagai antisipasi ketika terjadi insiden.
“Middle briefing ini sifatnya adalah mitigasi risiko. Meskipun masih menunggu kabar kepastian keberangkatan, tapi kita berharap akan hal itu. Kita mengingatkan jika nanti terpilih dan berangkat, mohon terus bisa berkomunikasi dengan panitia. Kita juga berkoordinasi dengan kedutaan Indonesia di beberapa negara, seperti Jordan dan Egypt, jika terjadi misalnya penangkapan. Ini berkaca dari pengalaman teman-teman Malaysia yang menarik kasusnya ke Jordan,” sebut Arif.
Aspek lebih dalam disampaikan oleh Narasumber, Prof. Heru. Ia memaparkan pernyataan visi yakni sebagai akses solidaritas dan akuntabilitas, meminta pertanggungjawaban para aktor yang terlibat di semua yurisdiksi, menggunakan setiap tindakan hukum untuk melayani pembebasan Palestina; setiap aksi menjadi agen akuntabilitas; dan setiap kasus membangun keadilan yang langgeng.
“Niatkan ini untuk Palestina, bukan tentang kita bisa ke sana. GSF menjadi salah satu pembuka mata dunia bahwa yang mereka Zionis lakukan itu salah. Sebagai relawan, kita harus bertindak sebagai saksi, jadi katalisator aksi, memusatkan Palestina sebagai isu utama, berdiri dalam solidaritas bersama Palestina,” jelasnya.
Ia juga memaparkan, mengapa menggunakan hukum untuk Palestina? Tindakan hukum dapat menjadi katalis bagi dampak lainnya: mengungkap keterlibatan negara, memberikan tekanan pada aktor yang terlibat, juga mencegah pelanggaran lebih lanjut.



Heru juga memaparkan contoh sukses national legal actions di Turki pada tahun 2025, yaitu tekanan politik dari armada tersebut menyebabkan jaksa penuntut umum mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap 37 pejabat I5r43l atas tuduhan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Semangat kepedulian untuk Palestina harus terus kita suarakan dan kita dukung bersama. Gaungkan kepedulian mu dan bantu solidaritas Global Sumud Flotilla 2.0 melalui Kuatkan harapan, temani perjuangan Palestina. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil

