ACEH TENGAH, ACEH — “Kami harus berjalan kaki selama dua hari ke Bintang untuk aktivitas, belanja kebutuhan, dan mengambil bantuan,” ungkap salah satu penyintas di Desa Atu Payung.
“Listrik masih padam, bahkan awal bencana itu beras 10 Kg harganya sampai Rp500 ribu. Bertani pun belum bisa dijual,” tambahnya.
Banyak hal terjadi di Aceh, tapi tidak semua cerita sampai ke layar kita. Warga di Desa Paya Kolak, Kecamatan Celala, Desa Atu Payung dan Desa Serule di Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, merupakan penyintas yang terdampak dari situasi tersebut. Aktivitas mereka terbatas dan sangat terganggu, untuk menjual hasil tani pun tersendat. Beberapa warga mengaku, mereka harus mengirit stok bantuan yang diberikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Hingga saat ini, Ahad (15/02/2026), listrik pun masih padam di dusun-dusun tersebut. Hanya mengandalkan genset pada pukul 18:00—21:00 WIB, itu pun tergantung pada ketersediaan bahan bakar minyak dan warga kini harus kolektif untuk membelinya.





“Persiapan Ramadan kami ya begini saja, tidak ada persiapan khusus karena kebutuhan sehari-hari pun masih menunggu bantuan,” jelas salah satu penyintas di Desa Serule.
Hampir tiga bulan sejak bencana hidrometeorologi melanda wilayah Aceh, masih terdapat kerusakan jalan akibat longsor di beberapa titik lintas Takengon hingga pedalaman Kecamatan Bintang. Sepanjang pengamatan tim Dompet Dhuafa sejak Januari 2026, keterbatasan akses tersebut belum banyak berubah, bahkan memperbaharui. Dan sehabis turun hujan, lumpur kembali membasahi, akses jalan terputus, dan masyarakat terisolir lagi.
Baca juga: Hadirkan Akses Air Bersih bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh melalui Pembangunan 5 Sumur Bor




Sebagai langkah amanah, hari itu, Dompet Dhuafa melalui tim DMC (Disaster Management Center) mendistribusikan bantuan kepada 300 KK di tiga desa tersebut. Sejumlah 83 KK di Desa Atu Payung, 163 KK di Desa Seruleh, dan 64 KK di Desa Paya Kolak. Bantuan tersebut antara lain merupakan kebutuhan dasar seperti sembako, hygiene kit, dan school kit. Selain itu, bantuan dalam fase pemulihan juga masih terus berjalan. Dompet Dhuafa membuat pipanisasi sepanjang 2.000 meter di Desa Wihlah Setie, Kecamatan Bintang dan Rumtara (Rumah Sementara) di Pidie Jaya juga Aceh Tamiang.
“Kondisi ini masih sangat rentan bagi penyintas meskipun mereka terdampak secara tidak langsung. Meskipun menjadi tantangan dalam perjalanan mendistribusikan bantuan, namun ini adalah upaya DMC Dompet Dhuafa dalam respons darurat dan membersamai para penyintas. Apalagi Ramadan sudah di depan mata,” kata Shofa Qudus, Kepala DMC Dompet Dhuafa yang mengawal langsung penyaluran bantuan tersebut.

Baca juga: Dompet Dhuafa Gelar Rapat Koordinasi Tim Pemulihan Pascabencana Aceh
Diharapkan bantuan ini bisa menyediakan kebutuhan dasar bagi masyarakat di wilayah terdampak. Amanah bantuan yang kita berikan sangat berarti bagi mereka di sana. Terus kuatkan mereka melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/prayforsumatera. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil

