3 Bulan Pascabanjir, Nilawati Bersyukur dapat Pasokan Air Bersih dari Mitra Masjid Dompet Dhuafa

PIDIE JAYA, ACEH — Satu hari setelah aksi bersih-bersih fasilitas umum tepatnya pada Selasa (27/1/2026), Tim Relawan Dompet Dhuafa bertolak ke Kantor Bupati Pidie Jaya untuk mengisi air di Camp Wash yang difasilitasi oleh PMI. Setelah mengisi penuh tangki air, tim relawan Dompet Dhuafa kembali melanjutkan perjalanan ke Kecamatan Meunasah Mancang, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Kecamatan Meunasah Mancang menjadi salah satu wilayah terdampak banjir dan longsor Aceh. Sepanjang jalan memasuki daerah tersebut, setiap sisi jalan seperti ada pagar setinggi manusia dewasa dengan bentuk yang tidak simetris. Namun, pagar tersebut bukan dari semen atau beton, melainkan sisaan lumpur yang telah dikeruk alat berat dan sudah mengering hingga berkerak.

Dompet Dhuafa bersama mitra masjid, seperti Baitul Mal Masjid Izzatul Islam, Taman Serua RW 08, DKM Masjid Al Hidayah, Yayasan Nur Ilaahi Taman Serua, dan Masjid An Nur, mendistribusikan 4.300 liter air bersih untuk disalurkan salah satunya di wilayah Pidie Jaya.

Krisis air bersih masih membelit kehidupan para penyintas di sejumlah wilayah Provinsi Aceh. Pascabencana banjir bandang dan tanah longsor, akses terhadap air layak konsumsi belum sepenuhnya pulih. Dalam keterbatasan, sungai yang keruh dan tercemar pun menjadi sandaran terakhir untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Krisis air bersih menjadi ancaman utama bagi para penyintas, terutama daerah Meunasah Mancang. Wilayah ini jadi salah satu yang terparah, karena dekat dengan Sungai Meureudu. Saluran utama air bersih pun terputus.

“Berhari-hari kami nggak gak ada air, Dik. Empat hari itu kan ada hujan kami terima (ambil) dari air hujan,” ujar Nilawati, salah satu penerima manfaat.

Baca juga: Hadirkan Akses Air Bersih bagi Masyarakat Terdampak Banjir di Aceh melalui Pembangunan 5 Sumur Bor

Ketika mobil berisi tangkil 4.300 liter air bersih itu berkeliling, seorang wanita usia berkisar 50-an memanggil, meminta untuk mengisi tandon yang berada di dekat rumahnya. Di sana terdapat beberapa rumah yang juga terdampak banjir dan longsor, terlihat dari endapan lumpur yang masih tersisa.

Nilawati menceritakan krisis air bersih yang dirasakanannya. Sebelumnya, Nilawati mengambil air di Meunasah (musala) terdekat. Namun ketika banjir, sumur bor tersebut rusak dan dimasuki lumpur.

“Airnya nggak ada, kadang nunggu mobil yang lewat. Kadang-kadang kalau lewat sudah habis air, jadi susah lah kami, Dik,” sambung Nilawati.

Ia sebetulnya memiliki sumur sendiri di rumah, tapi kondisi airnya kuning dan hanya bisa digunakan untuk mandi, tidak untuk dikonsumsi. Beberapa rumah di sekitarnya juga mengandalkan sumur yang milik Nilawati itu.

Hadirnya bantuan air bersih dari mitra masjid memudahkan Nilawati dan para penyintas di Kecamatan Meunasah Mancang, Kabupaten Pidie Jaya. Air yang telah diisi ke tandon bertahan tiga sampai empat hari untuk para penyintas.

“Alhamdulillah datang mobil Dompet Dhuafa, terima kasih sudah membawa air bersih kepada kami, diisi ke ini dulu tandon baru boleh diambil. Aku pakai ember tadi ngambil untuk masukkan di rumah buat nyuci beras, nyuci ikan itu dikonsumsi buat minum dua hari tiga hari, buat ramai orang buat beberapa rumah juga,” sambung Nilawati.

Baca juga: Pulihkan Akses Air Bersih Pascabanjir, Dompet Dhuafa Lakukan Pipanisasi di Tapanuli Tengah

Relawan Dompet Dhuafa, Diki, menjelaskan proses distribusi yang dilakukan di Kecamatan Meunasah Mancang Kabupaten Pidie Jaya. Sebelum berkeliling mengisi tandon-tandon warga, terlebih dahulu mereka mendistribusikan air bersih untuk Polindes Meunasah Mancang yang kini telah berhasil direnovasi.

“Iya kita distribusi air langsungnya itu langsung ke tandon yang ada di rumah warga maupun penampungan air yang ada di rumah warga sendiri dikarenakan kapasitas tandon yang tersedia di lokasi ini terbatas, warga juga memanfaatkan penampungan air yang ada, biasanya warga memang menunggu stok air distribusi dari Dompet Dhuafa,” ungkap Diki.

Selain krisis air bersih dan masalah sanitasi, muncul permasalahan baru, yakni gangguan pernapasan akibat debu yang mengepul cukup tebal dari lumpur yang telah mengering.

“Dompet Dhuafa juga terakhir tadi kita sirami jalan, karena debu yang ada di jalan itu sangat tebal, karena kita mencoba mengurangi risiko penyakit bagi warga karena debu itu kan sangat kotor dan untuk mengganggu pernapasan,” lanjut Diki.

Dompet Dhuafa mengapresiasi seluruh mitra yang telah berkolaborasi untuk pemulihan Sumatra. Dukungan, kepedulian, dan kerja sama yang terjalin bukan hanya membantu memulihkan kondisi fisik pascabencana, tetapi juga menghadirkan kelegaan dan harapan bagi masyarakat terdampak. Semoga setiap ikhtiar dan kebaikan yang diberikan menjadi amal jariah serta menguatkan langkah untuk terus saling menolong di tengah berbagai ujian. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Ronna