Gaji guru kecil adalah realita yang sudah lama kita dengar, tapi entah kenapa selalu saja jadi cerita yang diulang dari tahun ke tahun. Menurut riset yang dilakukan Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) dan Dompet Dhuafa 2024 menyebutkan bahwa 74,3% responden guru honorer memiliki penghasilan di bawah Rp2 juta per bulan. Dari kelompok tersebut, sebanyak 20,5% di antaranya digaji di bawah Rp500 ribu per bulan.
Padahal, guru adalah profesi yang punya peran besar membentuk generasi bangsa. Sebagaimana dalam ajaran Islam bahwa posisi guru sangat mulia sebagai pewaris ilmu, pembimbing akhlak yang diangkat derajatnya oleh Allah Swt. Sayangnya, penghargaan berupa gaji belum selalu sebanding dengan jasa dan tanggung jawab yang mereka emban. Kalau kita bicara soal gaji guru kecil, sebenarnya bukan sekadar nominal, tapi juga soal penghargaan, kesejahteraan, dan masa depan pendidikan itu sendiri.
Baca Juga: Apresiasi Guru Ngaji Tanpa Gaji
Gaji Guru Kecil dan Beban Tugas yang Besar
Kalau kita bandingkan, gaji guru kecil tidak sebanding dengan beban kerjanya sehari-hari. Guru bukan hanya datang ke kelas lalu mengajar, tetapi juga menyiapkan materi, menilai tugas, mendampingi siswa, sampai ikut kegiatan sekolah di luar jam kerja. Kadang, guru juga jadi konselor, jadi orang tua kedua, bahkan jadi teman curhat siswanya.
Namun, saat bicara soal angka di slip gaji, sering kali justru bikin geleng kepala. Banyak guru honorer, misalnya, yang hanya menerima ratusan ribu per bulan bahan per tiga bulan. Jelas, angka itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi di kota besar.
Baca Juga: Gaji Guru dan Dosen: Beban atau Investasi Masa Depan?
Kesenjangan Gaji Guru
Fenomena gaji guru kecil juga menimbulkan kesenjangan dalam dunia pendidikan. Guru yang seharusnya fokus mengajar kadang terpaksa mencari pekerjaan sampingan agar bisa menutup kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, energi dan perhatian mereka terbagi.
Di sisi lain, sekolah swasta elit atau sekolah internasional mungkin bisa memberi gaji lebih layak, tapi tidak semua guru bisa masuk ke sana. Akhirnya, yang muncul adalah ketimpangan: ada guru yang sejahtera, ada juga guru yang masih berjuang untuk bertahan hidup.
Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Guru Ngaji Demi Cetak Generasi Qurani
Faktor Penyebab Gaji Guru Kecil yang Harus Disadari
Kalau kita tanya, kenapa gaji guru kecil masih jadi masalah sampai sekarang, jawabannya cukup kompleks. Beberapa faktor yang sering disebut antara lain:
Status kepegawaian yang Masih Honorer Menyebabkan Gaji Guru Kecil
Untuk mendapatkan status sebagai ASN/P3K merupakan persaingan yang ketat dan sulit. Lowongan yang terbatas dan jumlah pendaftar yang membludak menyebabkan banyaknya guru-guru yang memiliki kompetensi terpaksa menjadi guru honorer.
Distribusi Anggaran Pendidikan yang Kurang Merata
Anggaran pendidikan menjadi salah satu faktor yang sangat penting bagi kesejahteraan guru. Kita memiliki anggaran pendidikan 20% dari APBN, namun distribusinya seringkali masih tidak merata. Pada tahun 2026, anggaran pendidikan meningkat 9,8% dari Rp690 triliun menjadi Rp757,8 triliun. Kenaikan ini menunjukan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru, terutama guru honorer, melalui berbagai program seperti tunjangan profesi, peningkatan kualitas pelatihan, serta pengangkatan status kepegawaian agar lebih berkeadilan.
Kebijakan sekolah dan daerah
Kebijakan gaji guru di Indonesia bervariasi antara guru ASN (PNS/PPPK) dan guru non-ASN (honorer), ada daerah yang mampu menggaji guru dengan layak, ada juga yang sangat terbatas.
Kurangnya penghargaan terhadap profesi guru
Profesi guru kadang masih dianggap pekerjaan “biasa” dibanding profesi lain. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya kualitas guru yang tidak sebaik di negara lain. Di Finlandia, menjadi guru adalah profesi yang sangat dihormati, dengan kualifikasi tinggi (setidaknya gelar Master), mereka mendapatkan kesejahteraan dengan gaji tinggi.
Baca Juga: Doa Agar Terhindar dari Orang Jahat, Mudah Dibaca Setiap Hari
Gaji Guru Kecil dan Dampaknya pada Motivasi Mengajar
Kita tidak bisa menutup mata bahwa gaji guru kecil berpengaruh pada motivasi kerja. Bukan berarti guru tidak ikhlas atau tidak berdedikasi, tapi wajar kalau seseorang ingin dihargai dengan layak atas pekerjaannya. Kalau kesejahteraan guru rendah, maka motivasi mereka pun bisa menurun.
Yang lebih bahaya, hal ini juga bisa berdampak pada kualitas pendidikan. Bagaimana mungkin guru bisa memberikan yang terbaik kalau kebutuhan dasarnya saja tidak terpenuhi? Jadi, persoalan gaji ini bukan sekadar masalah individu, tapi juga masalah sistemik yang mempengaruhi masa depan generasi mendatang.
Baca Juga: Cara Self Love Menurut Islam, Tanda Syukur Kepada Allah Swt
Harapan untuk Mengatasi Masalah Gaji Guru Kecil
Meski kondisi saat ini belum ideal, tetap ada harapan bahwa persoalan gaji guru yang kecil dapat berubah. Beberapa langkah dapat dilakukan untuk mewujudkannya, seperti pemerintah yang memperjelas status dan kesejahteraan guru honorer, serta sekolah yang berupaya memberikan insentif tambahan sesuai kemampuan. Masyarakat juga diharapkan lebih menghargai profesi guru, bukan hanya lewat ucapan, tetapi melalui dukungan nyata. Di sisi lain, guru pun dapat meningkatkan kompetensi agar memiliki nilai lebih dan semakin berdaya saing di dunia pendidikan. Perubahan mungkin tidak instan, tapi kalau ada keseriusan dari semua pihak, profesi guru akan semakin dihargai dengan layak.
Baca Juga: Bagaimana Cara Sedekah Subuh?
Kesejahteraan Guru Sebagai Solusi Permasalahan Gaji Guru Kecil
Gaji guru kecil adalah masalah nyata yang sudah terlalu lama berlangsung. Beban kerja yang besar, kesenjangan pendidikan, dan minimnya penghargaan membuat guru sering kali berada di posisi sulit. Padahal, mereka punya peran krusial membentuk generasi bangsa.
Kalau kita bicara soal masa depan pendidikan, maka tidak bisa hanya fokus pada kurikulum atau fasilitas. Kesejahteraan guru juga harus jadi prioritas. Karena pada akhirnya, kualitas pendidikan sangat bergantung pada siapa yang mengajar. Dan jika guru terus dihargai dengan gaji kecil, bagaimana kita bisa berharap pendidikan di negeri ini melahirkan generasi yang besar?
Meski gaji guru masih jadi persoalan yang belum selesai, kita tetap bisa ikut berkontribusi untuk pendidikan yang lebih baik. Salah satunya dengan bersedekah melalui Dompet Dhuafa, agar semakin banyak guru terbantu dan anak-anak dari keluarga prasejahtera mendapat akses belajar yang layak. Dukungan sederhana ini bisa menjadi bagian dari ikhtiar bersama melahirkan generasi bangsa yang lebih cerdas dan berdaya.


