Milad ke-24 LKC: Mewujudkan Indonesia Sehat, Indonesia Berdaya

Pemberian cek kesehatan gratis kepada para penduduk Kampung Pemulung oleh tim Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa.

Assalamualaikum wr.wb.

Yang saya hormati,
Para tenaga kesehatan, para pemangku kepentingan, serta seluruh hadirin yang saya muliakan.

Pada hari ini, kita memperingati Hari Jadi ke-24 Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC). LKC adalah salah satu unit Dompet Dhuafa yang eksis cukup lama. Melihat usianya, pengabdian LKC kepada masyarakat tidak terbilang jumlahnya dan tentu juga tidak terbilang nilainya.

Selamat Milad LKC, dan proficiat kepada para pengurus dan jajarannya. Selamat Kepada Dr. Tata, Dr. Yeni dan para pejuang-pejuang kesehatan LKC, tentu saja Yayasan Rumah Sehat Terpadu (YRST) Dompet Dhuafa, yayasan di mana LKC berkiprah.

Ulang tahun LKC (6 November 2025) bersamaan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN)—momen penting untuk kembali meneguhkan komitmen bahwa kesehatan bukan hanya urusan layanan medis, tetapi fondasi utama kemajuan bangsa. Tema besar HKN tahun ini mengajak kita untuk memastikan bahwa setiap warga, tanpa kecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat, produktif, dan bermartabat.

Yayasan Dompet Dhuafa Republika (YDDR) concern dengan kesehatan masyarakat dan mereka yang tidak mampu khususnya. Dompet Dhuafa mengelola tujuh rumah sakit di Pulau Jawa dan Sumatra, termasuk Rumah Sakit Mata. Salah satu yang paling menantang adalah Rumah Sakit Terpadu di Parung. Saya tahu betul betapa beratnya mengelola sebuah rumah sakit “untuk dhuafa”, karena saya salah seorang pasien yang dulu menggunakan Askes dan kini menggunakan BPJS dan mengikuti bagaimana jajaran manajemen bergelut mengoperasikan RST, perjuangan sebuah rumah sakit swasta.

Hadirin yang saya hormati,
Kita sadar bahwa tantangan kesehatan masyarakat makin kompleks: penyakit menular yang belum sepenuhnya hilang, meningkatnya penyakit tidak menular, keterbatasan layanan di wilayah terpencil, hingga kesenjangan akses kesehatan antara mereka yang mampu dan tidak mampu.

Oleh karena itu, pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan, khususnya bagi mereka yang berada dalam kondisi ekonomi lemah, menjadi agenda yang sangat penting. Pemberdayaan berarti memberikan kemampuan—bukan belas kasihan. Memberikan ruang bagi masyarakat marginal untuk memahami, mengakses, dan memanfaatkan layanan kesehatan secara layak.

Hari ini, di Hari Kesehatan Nasional, kita kembali menundukkan hati dan bertanya pada diri sendiri: apa arti kehadiran kita bagi masyarakat yang paling lemah? Bagi lembaga kita—yang mengabdikan diri untuk pemberdayaan kesehatan kaum tidak mampu—jawaban itu selalu sama: kita hadir untuk memulihkan harapan.

Kita tahu, begitu banyak keluarga yang berjuang dalam diam—menahan sakit karena biaya, menunda periksa karena jarak, atau merasa tidak punya pilihan. Di titik inilah kita terpanggil. Tetapi panggilan itu tidak boleh dijawab dengan rutinitas. Gerakan kita harus selalu hidup, selalu berinovasi, selalu lebih peka dari hari kemarin.

Empati bukan sekadar rasa iba, tetapi mampu melihat kebutuhan yang tak terucap. Dan setiap rupiah yang kita kelola adalah amanah—harus dipakai secara efisien, tepat sasaran, dan memberi perubahan nyata, bukan sekadar menambah daftar kegiatan.

Hadirin yang saya hormati,
Pemberdayaan bagi kami bukan hanya membantu orang berobat. Pemberdayaan adalah membangkitkan pengetahuan, keberanian, dan akses. Mengajari masyarakat untuk menjaga diri, memahami hak mereka, dan berdiri lebih kuat. Ketika satu keluarga sederhana menjadi lebih sehat, sesungguhnya kita sedang memperkuat bangsa.

Pemberdayaan di bidang kesehatan bagi masyarakat tidak mampu memiliki arti strategis dan ini sudah menjadi tugas pokok LKC selama ini sekaligus membantu pemerintah, yaitu:

Mengurangi kesenjangan akses. Banyak keluarga miskin menunda berobat karena biaya dan kurangnya informasi. Pemberdayaan membantu mereka mengenali gejala awal, memahami hak mereka sebagai warga negara, dan mengakses layanan yang tersedia.

Mencegah penyakit sejak dini. Edukasi kesehatan, pola hidup bersih, gizi seimbang, dan kesadaran pemeriksaan berkala terbukti jauh lebih murah dan efektif dibandingkan biaya pengobatan.

Meningkatkan kemandirian keluarga dan komunitas. Ketika masyarakat diberi pengetahuan dan pendampingan, mereka dapat menjadi agen perubahan di lingkungannya—mendorong gaya hidup sehat, mengawasi lingkungan, serta membangun budaya saling peduli.

Menguatkan perlindungan sosial. Kesadaran untuk hidup sehat—mulai dari menjaga kebersihan, pola makan, pemeriksaan dini, hingga saling mengingatkan—harus tumbuh dari keluarga, rumah, hingga komunitas.

Budaya sehat bukan hanya mengurangi angka sakit, tetapi menguatkan nilai kebersamaan bahwa kita saling menjaga. Ketika masyarakat menjadikan kesehatan sebagai kebiasaan sehari-hari, maka upaya pemberdayaan kita akan semakin kuat dan memberi hasil yang lebih bertahan lama.

Hadirin yang saya hormati,
Kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara. Dan hak ini tidak boleh ditentukan oleh besar kecilnya pendapatan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memastikan kaum paling lemah mendapatkan perlindungan terbaik. Kita ingin melihat ibu-ibu dari keluarga sederhana dapat melahirkan dengan aman, anak-anak dari keluarga rentan tumbuh sehat, para lansia mendapat layanan yang layak, dan kaum difabel memperoleh perhatian penuh.

Pada peringatan Hari Kesehatan Nasional ini, marilah kita memperkuat kolaborasi: pemerintah, tenaga medis, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan relawan. Dengan bekerja bersama, kita dapat membangun sistem kesehatan yang inklusif, responsif, dan memberdayakan.

Semoga momentum HKN menjadi pengingat bahwa kesehatan bukan hanya milik mereka yang mampu, tetapi milik seluruh warga Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan bimbingan, kekuatan, dan kesehatan kepada kita semua.

Terima kasih.
Wassalamualaikum wr.wb.

A Makmur Makka,
Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika
Kurator Sasana Budaya Rumah Kita Dompet Dhuafa