Dari Penyintas Menjadi Penjaga Air: Kisah Ibu Suryani di Aceh Tamiang Merawat Sumur Bor untuk Warga

Barefoot woman in a purple headscarf and floral dress stands on a concrete platform and uses a rope to lift a bucket at an outdoor water tap, with a white-and-orange building beside her and lush fields in the background.

ACEH TAMIANG — Di Dusun Siderejo, Desa Babo, Kecamatan Bandar Pusaka, Aceh Tamiang, terdapat salah satu penyintas, sosok perempuan tangguh dan tulus bernama Ibu Suryani. Beliau merupakan salah satu korban dari kedahsyatan banjir bandang pada November 2025 lalu.

Di dusunnya, derasnya air hujan dan limpahan air sungai meluap sangat ekstrem hingga mencapai ketinggian lebih dari tujuh meter. Dampaknya begitu masif hingga atap rumah-rumah warga tak lagi terlihat, menyisakan trauma dan sisa bencana yang kelam.

“Dari kejadian itu sampai empat bulan kami tidak ada air bersih. Sebelum bencana pun, kami ambil air dari parit, dari mata air, ada juga warga yang beli atau ambil ke dusun lain sejauh sekitar 30 menit. Sesak ingat itu minum dari air lumpur,” ungkap Bu Suryani pada tim Dompet Dhuafa pada Jumat (17/07/2026).

Outdoor corner with a stack of red bricks, a framed painting leaning against them, a gray plastic chair, and scattered debris

Woman wearing a purple hijab sits on a doorstep with a tray of sun-drying orange mango slices beside her, in a rural yard.

Baca juga: Percepat Pemulihan Pascabencana di Aceh, Dompet Dhuafa Gelar Sekolah Tukang Ahli bagi Penyintas

Air dari parit merupakan satu-satunya tumpuan warga setempat untuk memenuhi kebutuhan domestik seperti mandi, mencuci baju, hingga memasak sebelum bencana melanda. Begitu banjir bandang menyapu kawasan tersebut, parit-parit itu juga terdampak banjir dan sumur manual warga dipenuhi material lumpur sisa luapan sungai, memicu krisis sanitasi yang parah.

Kini, derita empat bulan tanpa air bersih itu telah berakhir. Air jernih dan melimpah ruah telah membasahi Dusun Siderejo, Aceh Tamiang, berkat adanya Sumur Bor dan MCK di pinggir jalan halaman depan rumahnya.

Namun, ada satu oase indah yang lahir dari rasa syukur atas hadirnya sumur bor ini. Ibu Suryani secara sukarela, membayar biaya tagihan listrik untuk operasional mesin pompa sumur bor tersebut menggunakan uang dari kantong pribadinya. Hal itu didorong oleh rasa terima kasihnya yang mendalam atas kepedulian para donatur.

“Hitung-hitung ini menjadi sedekah saya juga,” tuturnya dengan senyum tulus yang mengembang.

Blue irrigation pipe resting on concrete supports in a lush rural area with palm trees and a small building in the background.

Woman in a purple headscarf washes her hands at an outdoor faucet mounted on a white wall in a green, rural setting.

Baca juga: Sumur Bor di Tengah Lumpur Jadi Harapan Baru Warga Meurah Dua

Menghadirkan air jernih ke tengah masyarakat yang baru saja dihantam bencana adalah misi kemanusiaan yang mendesak.

Dalam fase pemulihan (recovery) pascabanjir bandang Aceh Tamiang, Dompet Dhuafa bersama UPZDK Permata Bank Syariah menginisiasi program Air untuk Kehidupan dengan membangun fasilitas Sumur Bor dan Mandi Cuci Kakus (MCK) pada Maret 2026. Infrastruktur ini didirikan untuk menjawab krisis sanitasi akut yang menjerat para penyintas.

“Bersyukur kami ada bantuan Sumur Bor dan MCK ini. Terima kasih sekali Dompet Dhuafa dan Permata Bank Syariah,” kata Bu Suryani.

Hadirnya sumur bor ini dan lewat ketulusan Ibu Suryani, warga Dusun Siderejo, Aceh Tamiang, kini tidak hanya mendapatkan kembali air bersih mereka, tetapi juga menemukan kembali semangat gotong royong untuk bangkit dan berdaya bersama. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil