وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَاَ اِبْرٰهِيْمَ ۘ
Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. (Q.S. 26:69)
Dalam tafsir Kemenag disebutkan bahwa Allah Swt memerintahkan Nabi Muhammad Saw menceritakan kepada kaum musyrik Makkah kisah Nabi Ibrahim as. sebagai pengajaran bagi seluruh umatnya. Mereka diharapkan supaya mencontoh dan meneladani sifat-sifat mulia yang menghiasi pribadi Nabi Ibrahim as.
Beliau adalah seorang yang ikhlas dalam beramal, tawakal, dan senantiasa menyembah Allah Yang Maha Esa. Beliau dianugerahi Allah kecerdasan otak sejak kecil sebagai suatu pemberian yang layak diterima oleh seorang rasul. Hal itulah yang menyebabkan Ibrahim selalu menentang kaumnya (termasuk bapaknya) yang menyembah berhala yang mereka perlakukan sebagai Tuhan.


Tradisi
Tradisi kurban identik dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim as. Konon amalan ini juga dilakukan sekitar 33 abad sebelumnya, pada masa Nabi Adam as (oleh kedua putranya). Kurban mungkin merupakan ritual tertua yang pernah dilakukan manusia hingga saat ini dan selalu berulang setiap tahunnya.
Secara terjemahan bahasa, kurban (qarib–qaraba–yaqrabu–qurban wa qurbanan wa qurbanan) adalah dekat. Agama Samawi meyakini bahwa ritual kurban bermakna pengorbanan, kerelaan, keikhlasan, kesabaran, serta persembahan, untuk mendekatkan, bukti ketakwaan, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Penyembelihan hewan ternak yang sehat (domba, kambing, unta, sapi, atau lembu) adalah cara pelaksanaan ritual kurban–dalam kepercayaan Islam–yang dianjurkan setelah peristiwa Nabi Ibrahim as.
Tapi pernahkah bertanya, mengapa? Apa arti dari domba ini bagi Nabi Ibrahim as?
Domba tersebut menggantikan putranya yang pada awalnya akan dikorbankan sebagai persembahan kepada Tuhan, sebagai bentuk ketaatan pada perintah-Nya. Darah dan daging yang sangat dicintai, Nabi Ibrahim as persembahkan kepada-Nya, termasuk segala keinginan duniawinya, dan ia masuk ke dalam stasiun penyerahan diri yang sempurna, Aslam (berserah, selamat, damai). Namun, sesaat sebelum Nabi Ibrahim as menggoreskan pisau ke tubuh anaknya, Tuhan memintanya untuk mengambil domba yang berada di dekatnya sebagai kurban persembahan.



Di Indonesia, praktik kurban tertanam sebagai tradisi dengan keragaman budayanya. Ritual ini juga menjadi momen penting di Hari Iduladha, yang dirayakan setiap bulan Zulhijah kalender Hijriah. Masyarakat merawat hewan ternak, menyembelih, memotong, dan membagikan dagingnya kepada yang berhak dan membutuhkan. Menjadikan kurban sebagai salah satu sarana interaksi antarmanusia dan Sang Pencipta. Ya, di Indonesia, upaya ini juga menjadi tantangan yang dilakukan meski berada di wilayah kepulauan.
ADHA (penyembelihan suci) turut menjadi pengalaman spiritual saya akan sayatan makna ritual kurban yang tersusun dari hulu hingga hilir meski berbeda tempat dan waktu.



Beri Satu, Dapat Lebih
Tidak pernah ada di bayangan saya sebelumnya untuk merayakan Iduladha setiap tahunnya–sejak 2017–di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun dimulai dengan rencana perjalanan yang matang, berbagai pengalaman tak terduga cenderung muncul; kendala kendaraan di pedalaman, perubahan jadwal yang mendadak, atau melintasi pulau-pulau terpencil yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh saya.
Menapaki medan yang menantang dan mengarungi perairan antarpulau dengan perahu kayu kecil, bahkan melangsungkan kurban di tengah pedalaman tanpa air bersih, akses listrik ataupun sinyal internet. Saya mendapati bahwa saya menemukan sesuatu yang baru. Bahwa perjalanan ini seperti lebih dari sekadar seremonial atau transaksi hewan kurban.
Namun, ada makna tersirat di setiap langkahnya. Perasaan lega saya rasakan ketika akhirnya sampai di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan panjang, ditambah lagi dengan sambutan hangat dari warga setempat yang belum pernah saya temui sebelumnya. Pengalaman ini juga menyadarkan saya bahwa mungkin situasinya akan berbeda di daerah lain.



Di pusat kota besar, kemudahan sering kali sudah tersedia. Memanfaatkan teknologi pesan-antar makanan sudah menjadi hal yang biasa, seperti halnya konsumsi makanan sehari-hari. Pun banyak orang yang bahkan mampu membeli beberapa hewan kurban. Sebaliknya, di daerah pedesaan terpencil, umumnya daging hanya dikonsumsi setahun sekali; ketika perayaan besar, atau bahkan tidak makan daging sama sekali meski saat Iduladha. Tragisnya, saya menemukan beberapa keluarga yang bahkan sehari-hari hanya makan nasi dan air saja.
Berkurban bukan semata tentang kemampuan finansial, tetapi lebih kepada pengorbanan dari apa yang kita miliki dan apa yang kita persembahkan. Sebuah memori yang jelas teringat ketika saya ingin sekali melakukan ibadah Umrah (haji kecil) tahun 2018, bersiap untuk perjalanan ke Tanah Suci Makkah.
Lalu saya sangat menantikan diskusi dengan orang tua saya, meminta persetujuan dan restu mereka untuk niat dan perjalanan ini. Terlepas dari antusias awal saya, rasa gugup melanda saya selama pertemuan tersebut. Saya tersadar bahwa sebelumnya mereka pernah merencanakan untuk menunaikan kewajiban ibadah Haji–seperti yang diserukan oleh Nabi Ibrahim as–tetapi harus mereka tunda karena satu dan lain hal.



Saya gugup ketika membicarakan hal ini dengan orang tua saya.
“Ma, bersiap ya, insyaallah, Mama berangkat Umrah tahun depan,” ucap saya.
Orang tua saya kaget, ia duduk di depan saya, di ruang tamu berukuran 3 x 5 meter. Seketika air mata Mama saya mengalir saat ia mengucapkan rasa syukur dan berdoa memohon berkat, sambil mengusap kepala saya untuk menunjukkan emosinya.
Ya, seketika saya membatalkan niat saya pergi Umrah untuk diri saya sendiri, dan memilih untuk memberikan kesempatan itu untuk Mama saya. Namun, dengan berat hati saya memberitahukannya kepada Bapak.
“Tapi, maaf ya, Pak, tabungan saya saat ini hanya cukup untuk satu orang saja,” kata saya.
Jujur, saya sulit memahami apa yang dirasakan oleh orang tua saya saat itu.
Selang beberapa waktu kemudian, Om dan Tante saya berkunjung ke rumah kami untuk syukuran milad Tante saya, satu bulan setelah Mama saya mendaftar Umrah.
“Mas,” kata Tante kepada Bapak saya.
“Saya kurang sehat. Wakili saya dan temani istrinya berangkat Umrah ya. Daftarkan secepatnya,” pinta Tante.
Sebagai bentuk berbagi dan kemurahan hati, tiba-tiba mereka mengatakan itu dan mensponsori perjalanan Umrah Bapak saya. Kami sekeluarga hanya bisa mengekspresikan emosi kami melalui air mata.


Setelah momen tersebut, setiap Iduladha ketika saya jauh dari keluarga dan melakukan panggilan video dengan anak laki-laki saya, saya mendapati diri mempertanyakan, apakah saya harus menghabiskan waktu berharga saya untuk keluarga lain daripada keluarga saya sendiri?
Saya pun tidak mampu membayangkan situasi keluarga Nabi Ibrahim as saat menerima perintah, diskusi, akan melakukan, dan setelah yang terjadi dalam momen pengorbanan, ujian, dan kerelaan itu hadir. Dan sejak tahun 2023–masa kehamilan anak kedua saya–kisah keluarga Nabi Ibrahim as terus beresonansi di pikiran ini.
Bila pengorbanan adalah kendaraan terbaik untuk mendekatkan kita kepada Sang Illahi, mungkin pengorbanan juga merupakan penyempurna ibadah, dan kemanusiaan meluaskan manfaat. Sempurnakan manfaat ibadah kurban kita melalui digital.dompetdhuafa.org/kurban. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dhika Prabowo
Penyunting: Dedi Fadlil

