Siklus Kebaikan Zakat Lahirkan Guru Besar Baru UI

DEPOK, JAWA BARAT — Balai Sidang Universitas Indonesia (UI) pada Sabtu (11/04/2026), menjadi saksi bisu sebuah siklus kebaikan yang paripurna. Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, S.Si., M.Sc. berdiri tegap mengenakan toga kebesarannya. Pagi itu, ia resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar ke-14 UI di tahun 2026, pakar di bidang Kimia Koordinasi, Katalis Homogen, dan Sintesis Organometalik.

Di balik rentetan gelar dan risetnya tentang molekul, ada narasi tentang dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) yang mengantarkan asa seorang pemuda tiga dekade silam. Di era 1994-1997, saat itu, Agustino muda hanyalah seorang mahasiswa Kimia FMIPA UI yang harus bergelut dengan mimpi dan keterbatasan ekonomi.

Di tengah itu, lembaga filantropi Dompet Dhuafa hadir mengulurkan tangan. Melalui pengelolaan dana Ziswaf di salah satu pilar programnya, yaitu pendidikan bagi fi sabilillah, harapan Agustino tetap menyala.

“Beliau adalah legenda hidup bahwa dana umat yang dikelola dengan tepat sasaran mampu menciptakan perubahan struktural yang luar biasa. Beliau juga merupakan penerima manfaat program pendidikan di era awal berdirinya Dompet Dhuafa. Maka ini patut diapresiasi oleh Dompet Dhuafa dan kami mewakili Dompet Dhuafa mengucapkan selamat untuk Prof Agustino,” ujar Ahmad Juwaini selaku Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, yang hadir langsung dalam pengukuhan di UI hari itu.

Baca juga: Jaga Indonesia Melalui Beasiswa

Agustino tercatat sebagai Profesor kedua “besutan” beasiswa Dompet Dhuafa, menyusul jejak Prof Heri Hermansyah (Rektor UI) yang juga merupakan alumni penerima manfaat dari rahim yang sama.

Kisah Prof Agustino bukan sekedar tentang prestasi akademik. Ini adalah salah satu faktor bukti nyata yang dipicu oleh filantropi Islam. Zakat yang sebelumnya diberikan oleh para dermawan untuk membantunya membayar biaya kuliah S1 di UI, kini telah “bermetamorfosis” menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemajuan industri kimia Indonesia dan dunia.

Dalam pidato pengukuhannya berjudul “The Usefulness of Useless: MOF (Metal Organic Framework) untuk Energi Hijau Berkelanjutan”, Prof Agustino membedah potensi Katalis Homogen, sebuah elemen yang mempercepat reaksi kimia tanpa ikut terkonsumsi. Secara filosofis, perjalanan hidupnya sendiri adalah sebuah “katalis”. Beasiswa dari dana Ziswaf bertindak sebagai pemicu yang mempercepat transformasi seorang mahasiswa menjadi ilmuwan Guru Besar.

Baca juga: Program GREAT Edunesia Raih Jangkauan Luas, Sentuh 77 Ribu Lebih Penerima Manfaat di Seluruh Indonesia, Ditopang Beasiswa ETOS ID Dompet Dhuafa

Keberhasilannya juga memberi pesan kuat bahwa pengelolaan dana sosial keagamaan tidak hanya berhenti pada bantuan pangan darurat atau kebutuhan konsumtif, tetapi bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kedaulatan intelektual bangsa. Potensi ini bak berlian di lautan, banyak “bertebaran” namun tersembunyi di kedalaman. Uluran tangan kita dibutuhkan melalui Beasiswa Bisa Kuliah: Bantu Siswa Berprestasi Dari Keluarga Kurang Mampu Lanjut Sekolah.

“Sebetulnya, saya tidak tertarik kepada ilmu kimia. Di antara ilmu wajib di Sekolah Menengah Atas, mata pelajaran kimia lah yang nilainya paling rendah dibanding matematika dan fisika. Namun, ilmu kimia merupakan satu-satunya ilmu sains yang interaksinya dengan makhluk hidup tidak pernah terhenti, setiap saat, 24 jam sehari, sejak janin bahkan sampai menjadi tulang-belulang,” sebut Prof Agustino.

Hari itu, Prof Agustino Zulys tidak hanya dikukuhkan sebagai pendidik tertinggi di UI, tapi ia juga merupakan legenda hidup bagi setiap donatur Dompet Dhuafa. Bahwa satu rupiah yang mereka donasikan 30 tahun lalu, hari ini telah menjelma menjadi seorang Guru Besar yang akan membimbing ribuan mahasiswa dan melahirkan inovasi bagi negeri.

“Ketika para penerima beasiswa Dompet Dhuafa dikumpulkan untuk menyampaikan cita-cita setelah S1, saya memberanikan diri dengan mengatakan 10 tahun yang akan datang saya akan lulus doktor dari Jerman. Alhamdulillah, atas izin Allah Swt, saya menyelesaikan studi S3 pada tahun 2007 di FU Berlin di bawah bimbingan Prof. Dr. rer. nat. Peter Roesky,” ungkap Prof Agustino. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Dhika
Penyunting: Dedi Fadlil