Air Mataku Ikut Menggenang dalam Gelapnya Tamiang

Relawan Dompet Dhuafa membagikan makanan kepada warga yang menunggu di pinggir-pinggir jalan Tamiang.

TAMIANG, ACEH — Aku datang ke Aceh sebagai pewarta. Tugasku mengabarkan ikhtiar kemanusiaan teman-teman Dompet Dhuafa melalui Cabang Aceh dan Disaster Management Center (DMC), beserta para relawan, tentang apa yang benar-benar terjadi setelah banjir bandang melanda Sumatra, khususnya Aceh.

Perjalananku dimulai pada Rabu, 3 Desember 2025. Dari Jakarta menuju Banda Aceh. Lagi-lagi aku harus meninggalkan istri dan anakku. Setibanya di Banda Aceh, tanpa banyak jeda, aku bersama tim Dompet Dhuafa langsung bergerak menuju beberapa titik bencana, yaitu Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen. Di tiga wilayah itu, pos-pos intervensi Dompet Dhuafa Aceh telah berdiri menjadi penyangga harapan bagi warga yang kehilangan banyak hal.

Hari-hari berikutnya kami isi dengan aksi-aksi tanpa henti. Mendirikan Pos Dompet Dhuafa, Pos Hangat, Dapur Umum, layanan kesehatan, layanan psikososial, hingga penyediaan jaringan internet. Selain menjadi kekuatan logistik, bantuan itu juga menjadi kekuatan tentang kehadiran untuk memastikan para penyintas tidak merasa sendirian.

Lumpur mengubur rumah salah satu warga di Bireuen, Aceh, hingga ketinggian atap.
Lumpur mengubur rumah salah satu warga di Bireuen Aceh hingga ketinggian atap

Rencana awal kami adalah melanjutkan perjalanan ke Langsa dan Tamiang. Sementara sebagian relawan lain bersiap menembus Takengon dengan berjalan kaki, karena akses kendaraan belum terbuka. Namun kenyataan di lapangan berkata lain. Kami tertahan di Bireuen. Dampak bencana di sana begitu luas, dan pekerjaan kemanusiaan belum bisa ditinggalkan begitu saja.

Tim DMC Dompet Dhuafa kemudian memperkuat barisan. Relawan tambahan dari jejaring lokal dikerahkan, disusul penambahan personel DMC dari Jakarta. Hingga akhirnya, setelah Pos Dompet Dhuafa di Bireuen dirasa cukup kuat, rencana awal kembali dilanjutkan.

Jumat, 12 Desember 2025, aku bersama beberapa personil Dompet Dhuafa melanjutkan perjalanan menuju Langsa dan Tamiang. Sementara tim lainnya bergerak ke Takengon untuk membuka jalur baru dan mendirikan pos bantuan.

Baca juga: Relawan Terus Berdiri di Garis Terdepan, Jaga Akses Utama Bantuan di Jembatan Teupin Mane Aceh

Jembatan sebagai akses vital terputus, Dompet Dhuafa menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil, meninggalkan Bireuen menuju Tamiang.
Jembatan sebagai akses vital terputus Dompet Dhuafa menyeberangi sungai menggunakan perahu kecil meninggalkan Bireuen menuju Tamiang

Perjalanan menuju Langsa ternyata bukan perkara mudah. Dari Bireuen, kami harus menyeberangi sungai dengan cara alternatif karena jembatan utama putus total. Setelah berhasil menyeberang, perjalanan darat selama enam jam kami tempuh dengan kendaraan roda empat, melewati jalur yang tak sepenuhnya ramah.

Sore harinya, kami tiba di Pos Dompet Dhuafa Langsa. Di sana, aku berbaur dengan ibu-ibu relawan dapur umum. Salah satunya Ibu Sulastri (43). Tangannya cekatan menyiapkan 500 porsi makanan, tanpa banyak bicara, tanpa keluhan, hanya semangat yang tak mudah dipatahkan.

Ibu Sulastri sedang mempersiapkan makanan di Dapur Umum Dompet Dhuafa di Langsa, Aceh.
Ibu Sulastri sedang mempersiapkan makanan di Dapur Umum Dompet Dhuafa di Langsa Aceh

Pukul 22.00 WIB, tim relawan DMC Dompet Dhuafa bergerak menuju Aceh Tamiang. Makanan yang disiapkan Ibu Sulastri dan para relawan perempuan lainnya malam itu harus segera dibagikan.

Aku tak pernah menyangka, pada malam kesebelasku di Aceh, aku akan berhadapan dengan suasana yang begitu gelap, mencekam, dan menyedihkan. Suasana seperti ini aku jumpai hanya di Tamiang.

Selama dua jam kami menyusuri jalanan Tamiang. Di kiri dan kanan, mobil-mobil masih terparkir di depan rumah, tertutup lumpur tebal. Lampu minim. Listrik belum pulih. Hujan turun rintik-rintik, seolah menambah beban suasana.

Di tengah porak-poranda itu, anak-anak, ibu-ibu, hingga lansia berdiri di pinggir jalan. Menunggu. Mengharap. Meminta makanan dari siapa pun yang melintas. Satu per satu, tim relawan Dompet Dhuafa membagikan makanan dari dapur umum, langsung ke tangan mereka yang menunggu dalam gelap.

Dan beginilah rutinitas itu berlangsung setiap malam. Ibu-ibu relawan memasak tanpa lelah di dapur umum. Sementara para pemuda relawan menyusuri jalanan Tamiang, memastikan tak ada perut yang kosong malam itu.

Hatiku hancur melihat kondisi Aceh Tamiang, terutama di malam hari. Wilayah ini masih sangat membutuhkan makanan, listrik, air bersih, dan sinyal. Kondisi pengungsian pun memprihatinkan.

Air mataku mulai menggenangi kelopak mata sekitar pukul 23.00 WIB. Sepanjang jalan, warga dari anak kecil hingga lansia, menunggu bantuan di tengah kegelapan dan hujan.

“Minta bantuannya pak untuk makan,” ucap seorang warga dengan suara lirih, menghampiri kami.

Baca juga: Layanan Kesehatan Cuma-Cuma bagi Pengungsi Banjir Bandang Aceh

Relawan Dompet Dhuafa membagikan makanan kepada warga yang menunggu di pinggir-pinggir jalan Tamiang.
Relawan Dompet Dhuafa membagikan makanan kepada warga yang menunggu di pinggir pinggir jalan Tamiang

Kalimat itu menancap kuat di dadaku. Dalam hati aku berpikir, sebesar apa pun kekuatan Dompet Dhuafa, rasanya tak akan cukup untuk menanggung seluruh luka yang dialami saudara-saudara kita di Tamiang.

Dompet Dhuafa tidak mungkin bisa melakukan ini sendiri. Kami membutuhkan kolaborasi. Dukungan semua pihak. Pemerintah, lembaga, komunitas, hingga masyarakat akar rumput.

Kegelapan yang menyelimuti Aceh Tamiang belum sepenuhnya pergi. Ribuan saudara kita masih berjuang untuk sekadar makan, mendapatkan air bersih, listrik, dan tempat berlindung yang layak. Di tengah keterbatasan, para relawan terus bertahan, namun mereka tidak bisa berjalan sendiri.

Aku mengajak kita semua untuk bergandeng tangan, menyalakan harapan bagi penyintas banjir bandang Aceh. Setiap donasi yang dititipkan adalah energi bagi dapur umum, layanan kesehatan, distribusi pangan, dan pemulihan kehidupan mereka yang terdampak.

Sahabat! Mari hadirkan cahaya terang di tengah gelapnya Tamiang. Salurkan kepedulian kamu melalui digital.dompetdhuafa.org/donasi/bangkitsumatera. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika