YOGYAKARTA — Sebagai rangkaian Compassion Film and Foto Festival, Dompet Dhuafa menggelar Roadshow Festival Film & Foto salah satunya di SaRanG Art, Books & Coffee, Yogyakarta, pada Jumat (28/11/2025). Kegiatan ini menghadirkan para expertise fotografi dan film, dengan tujuan menjangkau serta mendorong para kreator muda untuk berpartisipasi dalam ajang kompetisi tersebut.
Dompet Dhuafa sebagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan, selalu berusaha menciptakan karya-karya yang berdampak. Melalui festival ini, diharapkan dapat melahirkan para kreator muda yang menghasilkan karya film maupun fotografi berdampak sosial. Melalui empati dan kualitas dalam setiap karya, para peserta diharapkan mampu mendorong lahirnya perubahan yang lebih baik.
Dalam gelaran tersebut, hadir para pembicara: Ayudia Chaerani (Content Creator Dompet Dhuafa TV), Haryo Mojopahit (Pelaksana Sasana Budaya Dompet Dhuafa), Bambang Wirawan (Fotografer), Tonny Trimarsanto (Sutradara dan Produser Film), dan Andry Prasetyo (Dosen Fotografi ISI Surakarta).

Dalam kesempatan tersebut, membuka workshop Compassion Film and Foto Festival, Haryo Mojopahit selaku Pelaksana Sasana Budaya Dompet Dhuafa mengatakan bahwa melalui ajang ini, Dompet Dhuafa mendorong lahirnya karya-karya yang tidak hanya mengedukasi masyarakat tentang isu sosial, tetapi juga berperan dalam upaya pemberdayaan dan pembelaan terhadap mereka yang membutuhkan.
“Kita ingin mengampanyekan anak-anak muda itu untuk punya karya, bagaimana mereka bisa menghasilkan karya fotografi atau film yang memang itu tidak hanya mengedukasi masyarakat terkait isu sosial tapi juga bisa melakukan pemberdayaan dan pembelaan,” ujar Haryo Mojopahit.

Ayudia Chaerani, Content Creator Dompet Dhuafa TV memaparkan tentang bagaimana membuat video yang berdampak. Menurutnya, video yang berdampak adalah video yang tidak sekadar viral, tetapi video yang dapat menggerakkan aksi nyata.
“Tugas kita bukan membuat orang kasihan, tapi membuat orang tergerak,” ungkap Ayu.


Lebih lanjut, Bambang Wirawan sebagai seorang fotografer menyampaikan bagaimana fotografi sebagai alat advokasi.
“Foto bisa mengguncang opini publik lebih cepat daripada esai, satu foto bisa mengubah arah sejarah, bahkan sebelum kata-kata sempat disusun. Foto bekerja dengan kecepatan rasa, bukan logika,” ujar Bambang.
Compassion Film & Foto Festival Dompet Dhuafa 2025 mengangkat tema “Kepedulian Kemanusiaan yang Berdampak Positif terhadap Lingkungan Sosial”. Melalui festival ini diharapkan dapat memotivasi masyarakat, terutama generasi muda, untuk berani bertransformasi dari situasi sulit menjadi pribadi yang berdaya dan memberi manfaat bagi sekitarnya.

Roadshow workshop ini diadakan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas kreator lokal dalam menghasilkan karya film dan foto yang tidak hanya artistik, tetapi juga mampu mengandung pesan kemanusiaan yang mendalam.
Berbicara mengenai pesan dalam sebuah karya foto, Andry Prasetyo, seorang Dosen Fotografi ISI Surakarta, menjelaskan bagaimana menangkap kisah yang dapat menggerakkan hati. Menurutnya dalam menangkap kisah paling tidak ada satu tujuan, baik itu nilai atau moral yang ingin disampaikan.
“Fotografi mampu membangkitkan, karena dalam misi kemanusiaan foto tidak hanya diliat tapi dirasakan, visual yang kuat mampu membangkitkan empati terdalam dan memotivasi tindakan sosial nyata tanpa perlu ribuan kata,” ujar Andry.
Baca juga: Dai Pemberdaya Maluku Raih Penghargan Festival Ekonomi Syariah untuk Kawasan Timur Indonesia

Andry menambahkan bahwa proses menangkap cerita dan mengubahnya menjadi karya visual dimulai dari gagasan yang kuat. Kreator perlu memiliki cerita, menentukan sudut pandang, serta memahami dengan siapa dan bagaimana kisah tersebut akan disampaikan, didukung oleh riset yang memadai.
Setelah itu, tahap visualisasi menjadi penting, termasuk teknik bercerita yang memiliki awalan, puncak, dan akhir. Untuk foto tunggal, kekuatan narasi sangat menentukan narasi tidak perlu dibuat-buat, tetapi harus jelas dan sesuai fakta sehingga pembaca dapat memahami arah cerita dan pesan yang ingin disampaikan. Pendekatan tersebut diyakininya mampu memberikan dampak yang lebih kuat.


Sejalan dengan hal tersebut, Tonny Trimarsanto, Sutradara dan Produser Film. Ia menekankan pentingnya terus menghasilkan karya bertema kemanusiaan dan kepedulian. Menurutnya, kreativitas sering lahir dari hal-hal sederhana di sekitar, sehingga kemampuan mengamati persoalan sehari-hari menjadi kunci. Isu-isu tersebut perlu didokumentasikan melalui film maupun foto karena medium visual memiliki daya jelajah yang lebih luas dan mampu menyampaikan pesan dengan lebih kuat.
Ini pentingnya bagaimana media tidak hanya sekedar menginformasi tapi juga bisa menghadirkan empati untuk siapa saja yang terlibat dan berinteraksi dengan media. Mumpung ada festival ini silakan kirim karya teman-teman ke festival ini secepatnya karena ini menjadi tempat latihan yang bisa digunakan, ditunggu karyanya!” ajak Tonny.
Baca juga: DDTV Raih Golden Play Button: Tandai ‘Golden Impact’ Perjalanan Berbagi Kebaikan secara Kreatif

Salah satu peserta, Fia mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberikan kesan positif setelah mengikuti workshop tersebut.
“Hari ini tuh sangat seru, insightnya sangat banyak dan pastinya membuat pengalaman baru buat aku. Gimana kita bisa mendokumentasikan sesuatu untuk menyampaikan makna dibalik video yang kita buat,” imbuh Fia.

Melalui Festival ini, Dompet Dhuafa berharap ini para peserta mampu memperjuangkan keadilan, membangun kesadaran sosial, serta mendukung berbagai program kemanusiaan yang sejalan dengan misi lembaga-lembaga seperti Dompet Dhuafa melalui sebuah karya.
Ingin karya film dan foto berdampak positif untuk sesama? Yuk ikutan Compassion Film & Foto Festival 2025 Dompet Dhuafa, pendaftaran masih dibuka 15 Desember 2025! Daftarkan karyamu melalui laman https://festivalfotofilm.dompetdhuafa.org/. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Anndini Dwi Putri
Penyunting: Dhika

