HONGKONG — Di awal tahun 2025, topik #KaburAjaDulu ramai diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia. Hal ini muncul dari keresahan masyarakat Indonesia yang mengalami kesusahan dalam mencari pekerjaan di negeri sendiri, juga isu-isu lain seperti korupsi yang terus menggerogoti pemerintahan RI. Namun, ingatlah bahwa sebaik-baiknya berlari hanyalah berlari menuju Tuhan. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Al-Qur’an surah Az-Zariyat ayat 50 yang berbunyi: “Maka segeralah kalian mendekat menuju Allah”.
Tak semua orang memiliki kesempatan untuk bisa berjalan mengelilingi dunia, entah apa pun itu tujuannya. Namun yang pasti, di mana pun kita berpijak, kemana pun kita berpergian, kita diwajibkan untuk mengambil pelajaran di bumi Allah Swt yang luas ini.

Baca juga: Dai Ambassador Obati Kerinduan Diaspora Prancis Terhadap Ilmu Agama
Selalu ada tantangan baru bagi seseorang yang baru saja memijaki tempat baru, tak terkecuali bagi Dai Ambassador Dompet Dhuafa penugasan Hongkong, Ustaz Muhammad Firousyurahman. Ia mendapat tantangan baru ketika harus memulai dakwah di luar negeri. Sebagaimana Rasulullah Saw berdakwah ke kota, bahkan ke negara lain, dengan berbagai macam cara dan gaya berdakwahnya. Perjalanan Rasul ini juga menjadi pedoman bagi gerakan dakwah Dai Ambassador Dompet Dhuafa dalam mengarungi cakrawala, terbang menembus awan sampai menyadari agungnya ciptaan Allah.
Hongkong merupakan daerah administratif khusus China yang berada di kawasan bagian tenggara. Sesuai dengan namanya, Hongkong berarti pelabuhan harum. Maka siapa pun yang pergi ke sana akan menemukan banyak sekali tempat berlabuh kapal. Kebebasan beragama di Hongkong menjadi tantangan bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sangat membutuhkan figur dan kegiatan dakwah agar keyakinan mereka kepada Allah Swt bisa terus terpupuk.

Baca juga: Belasan Dai Ambassador 2025 Siap Bawa Misi Dakwah Pemberdayaan di 11 Negara
Bagi Ustaz Firousy, berdakwah artinya memberikan hadiah atau layanan kepada mad’u. Oleh karena itu, ia akan selalu dan harus mempertimbangkan hadiah yang sekiranya patut diberikan kepada mad’u.
Sejatinya perginya seorang WNI ke luar negeri tentu memiliki niat mulia, tanpa menghilangkan kecintaan mereka kepada Tanah Air. Salah satu cara menjaga ukhuwah di antara mereka, disela sela libur kerja, mereka menyempatkan untuk berkumpul satu dengan yang lainnya, saling bercengkrama, makan bersama, dan yang spesialnya sebagian dari mereka datang ke kantor Dompet Dhuafa setiap Sabtu dan Ahad untuk tadarus, tahfidz, ataupun mengikuti kelas-kelas keterampilan seperti menjahit, kursus bahasa Inggris, dan kursus komputer. Atau mereka datang ke kantor Dompet Dhuafa Hongkong untuk berbuka puasa bersama. (Dompet Dhuafa)
Teks dan foto: Dai Ambassador penugasan Hongkong, Ustaz Muhammad Firousyurahman
Penyunting: Ronna

