Di Atas Puing Meunasah, Guru dan Siswa SDN 14 Juli Tetap Menjaga Asa

ACEH — Bahruna berdiri terdiam di atas puing-puing bekas meunasah SDN 14 Juli, Kabupaten Bireuen. Tatapannya kosong, seolah masih mencari bangunan yang dulu menjadi denyut kehidupan sekolah. Hampir tiga bulan berlalu sejak abrasi itu terjadi, namun ingatan tentang hari tersebut masih begitu lekat di benaknya.

Dulu, meunasah itu bukan hanya musala tempat salat. Di sanalah guru, siswa, hingga wali siswa berkumpul, berdiskusi, belajar bersama di luar kelas, melaksanakan salat berjamaah, hingga memperingati hari-hari besar. Ruang itu menjadi pusat kebersamaan. Tempat tumbuhnya harapan dan mimpi sederhana para siswa SDN 14 Juli. Kini, semuanya lenyap. Yang tersisa hanyalah bongkahan puing yang sebagian besar telah terseret arus sungai.

Sekolah itu berdiri sekitar seratus meter dari aliran sungai. Tak ada yang menyangka arus yang biasanya mengalir tenang berubah menjadi begitu ganas. Air menggerus bantaran tanpa ampun, membuat sungai melebar lebih dari seratus meter. Abrasi itu menghanyutkan sebagian bangunan sekolah, meunasah, tiga ruang kelas, dan toilet. Seolah alam mengambil kembali ruang yang selama ini ditempati manusia.

Baca juga: Langkah Sekolah Tetum Bunaya Tangani Dampak Banjir dan Longsor Sumatra

Kondisi bagian sekolah yang hanyut oleh derasnya aliran sungai.
Kondisi bagian sekolah yang hanyut oleh derasnya aliran sungai
Proses pembangunan sekolah darurat sebagai pengganti ruang belajar yang hanyut oleh derasnya aliran sungai.
Proses pembangunan sekolah darurat sebagai pengganti ruang belajar yang hanyut oleh derasnya aliran sungai

Musibah itu terjadi pada sore hari, menjelang waktu Magrib. Bahruna mengingat betul saat kabar itu sampai kepadanya. Seseorang mengabarinya, “SDN 14 Juli habis dibawa oleh sungai”. Kalimat itu membuat dadanya sesak. Dalam hatinya hanya terucap, Innalillahi. Ia pun bergegas menuju sekolah. Ketika tiba, semua ketakutannya menjadi nyata.

Tak hanya bangunan sekolah yang hilang. Enam rumah warga turut lenyap tersapu abrasi. Empat di antaranya adalah rumah siswa SDN 14 Juli. Anak-anak yang sebelumnya datang ke sekolah dengan riang kini harus berhadapan dengan rasa takut.

“Anak-anak dan orang tua masih trauma melihat kondisi sekolah,” ujar Bahruna kepada Dompet Dhuafa, Sabtu (14/02/2026).

Ia memahami betul kegelisahan itu. Namun, sebagai kepala sekolah, ia juga menyimpan harapan. Harapannya, pada tahun ajaran baru nanti, siswa-siswi didiknya bisa kembali belajar di tempat yang lebih aman dan layak.

Baca juga: Dapat Ruang Kelas Baru di Sekolah Darurat Dompet Dhuafa, Rajah Bahagia Bisa Lanjut Sekolah: Ingin Jadi Ustaz

Kondisi bagian sekolah yang hanyut oleh derasnya aliran sungai.
Kondisi bagian sekolah yang hanyut oleh derasnya aliran sungai
Penyerahan bantuan kepada sekolah SDN 14 Juli dari para donatur melalui Dompet Dhuafa.
Penyerahan bantuan kepada sekolah SDN 14 Juli dari para donatur melalui Dompet Dhuafa

Di tengah keterbatasan tersebut, secercah harapan datang. Melalui Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa hadir mendampingi warga dan sekolah yang terdampak. Bantuan disalurkan secara bertahap, mulai dari alat peraga pembelajaran, peralatan kebersihan sekolah, hingga pembangunan sekolah darurat untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan.

Tak hanya itu, melalui Tim Respon Darurat Pendidikan (RDP) Great Edunesia, Dompet Dhuafa menghadirkan program Sekolah Ceria. Di ruang darurat yang sederhana, tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Para fasilitator mengajak siswa belajar sambil bermain, mengembalikan semangat yang sempat runtuh bersama abrasi.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak juga menerima bingkisan school kit berisi alat tulis. Bagi sebagian orang, mungkin itu hal sederhana. Namun, bagi siswa SDN 14 Juli, bingkisan itu menjadi penanda bahwa mereka tidak sendiri. Masih ada banyak tangan yang peduli pada masa depan mereka.

Bahruna menyampaikan kondisi sekolahnya.
Bahruna menyampaikan kondisi sekolahnya
Penyerahan bantuan kepada sekolah SDN 14 Juli dari para donatur melalui Dompet Dhuafa.
Penyerahan bantuan kepada sekolah SDN 14 Juli dari para donatur melalui Dompet Dhuafa

Ahmad Lukman, Manajer Pengurangan Risiko Bencana (PRB) DMC, menyampaikan bahwa kehadiran Dompet Dhuafa merupakan wujud kepedulian para donatur yang ingin memastikan pendidikan tetap berjalan, apa pun kondisinya.

“Para donatur berharap guru dan siswa tetap semangat belajar. Kami hadir untuk mendampingi sekaligus menjembatani kepedulian itu dengan kebutuhan para penyintas,” ujarnya. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika