JAKARTA — Dunia ini asik, seru, tapi memang lucu juga, ya. Sekarang gempuran AI (Artificial Intelligence) yang makin canggih, bikin dunia kepalsuan ini terasa makin nyata. Jujur, kadang aku mikir, ini beneran atau jangan-jangan emang aku lagi hidup di film I, Robot, Her, In Time, atau Doraemon?
Merespons keresahan itu, aku jadi ngelantur mikir: gimana kalau ibadah pun ikut-ikutan “canggih”? Misalnya nih, salat pakai AI. Bayangin aja, kamu lagi malas hafalan surat, eh, tiba-tiba ada suara AI yang merdu banget, persis qari terkenal, membimbing setiap ayat. Atau lagi mager tahiyat akhir, langsung ada notifikasi “gerakan belum sempurna, silakan perbaiki posisi tangan Anda!” Bikin gregetan nggak sih? Tapi ya, di sisi lain, mungkin berguna buat yang lagi belajar atau buat yang kadang suka khilaf lupa rakaat. Siapa tahu, AI malah bisa bantu bikin disiplin. Jadi nggak telat atau salah baca doa, kan? Tapi ya itu, apa salat kita jadi “canggih” juga? Atau malah jadi ibadah paling “autopilot”? Jangan-jangan nanti ada fitur “fast forward” buat salat Tarawih saking panjangnya. Duh, makin halu!


Tetapi kalau dipikir-pikir, AI ini kan cuma alat. Kayak pisau, bisa buat motong sayur biar jadi santapan lezat, bisa juga buat hal yang merugikan. Jadi, kalau AI dipakai buat bantu belajar agama, buat ngecek bacaan biar makin fasih, ya oke-oke aja. Anggap aja kayak kita pakai kalkulator buat hitung zakat, biar nggak salah hitung. Kan ibadah itu tujuannya khusyuk dan benar. Kalau AI bisa bantu jadi lebih khusyuk dan benar, kenapa nggak? Tapi ya, balik lagi, salat itu kan tentang hubungan pribadi kita sama Tuhan. Rasanya kok aneh kalau ada “pihak ketiga” berupa AI ikut campur. Kecuali kalau AI itu bisa menumbuhkan iman di hati kita, nah itu baru patut dipertanyakan!
Nah, soal Iduladha, ini yang bikin aku mikir keras sampai kepala berasap. Aku dan teman-teman Dompet Dhuafa ini kan kadang blusukan ke pelosok-pelosok Indonesia. Pernah tuh, “nyebur” bareng sapi ke perahu di Papua, karena satu-satunya akses ke pulau terpencil ya pakai perahu. Melihat langsung bagaimana di desa-desa terpencil, daging kurban itu jadi barang langka. Bahkan pernah juga aku ngerayain Iduladha di tengah bencana Gempa Bumi Lombok. Sholatnya di masjid darurat, daging kurban jadi “emas” bagi penyintas karena jadi varian menu makanan dapur umum di pengungsian.


Di pedalaman juga, Iduladha itu euforianya beda banget. Malam takbir, mereka pawai obor keliling kampung, masjid dibersihin kinclong, suasananya guyub dan spiritualnya kerasa banget. Pas mau nyembelih hewan kurban, warga ramai-ramai gotong royong, semua proses dipersiapkan, kayak nggak pernah lihat kambing, deh. Senyum sumringah semua. Apalagi pas dagingnya dibagi, itu rasanya kayak dapat harta karun. Sampai ke pelosok-pelosok lain, dagingnya diantar pakai wadah rotan dan dedaunan, perjuangannya bikin haru. Ini bukan sinetron, lho, ini nyata!
Nah, di perkotaan, cerita bisa beda. Daging kurban kadang numpuk di masjid, bahkan orang yang mampu berkurban, eh, dapat jatah daging lagi sampai bingung mau diapain. Sementara di pedesaan, kalau ada daging, langsung dibagikan lagi, menyebar ke desa-desa tetangga yang mungkin belum pernah merasakan daging kurban seumur hidupnya. Ini kan kayak film fantasi, tapi kok nyata?


Terus, kepikiranku ngaco lagi: gimana kalau kurbanku adalah AI? Misalnya, aku “berkurban” server super canggih yang berisi algoritma-algoritma terbaik, lalu ku anggap itu sebagai kurban. Apa iya, pahalanya sama dengan berkurban sapi atau kambing yang nyatanya bisa memberi makan banyak orang? Memang, Kurban itu kan intinya pengorbanan dan berbagi. Ngasih sesuatu yang berharga, yang bisa dirasakan langsung manfaatnya oleh sesama. Hewan kurban itu nyatanya bisa jadi santapan lezat, sumber protein buat masyarakat yang jarang makan daging. AI? Apa bisa dimakan? Ya paling cuma bisa “makan” data doang.
Mungkin, poinnya bukan berarti AI itu jelek, ya. Bagus tau. Justru AI bisa jadi alat yang luar biasa untuk kebaikan. Bisa bantu riset kesehatan, jadi guru virtual, atau bahkan membantu program-program sosial yang lebih efisien. Tapi, ada hal-hal fundamental dalam hidup yang mungkin tak bisa digantikan oleh kecanggihan kode. Esensi gotong royong, kehangatan senyum, air mata haru saat berbagi, dan keikhlasan dalam beribadah. Itu semua adalah “human touch” yang diprogram langsung oleh Sang Pencipta.
Sampai kapan pun, esensi ibadah kurban dengan segala ketentuannya tidak akan bisa digantikan oleh AI. Karena kurban bukan hanya tentang “memberi”, tapi juga tentang bentuk dan cara memberi yang telah diatur. Jangankan diganti dengan AI, hewan kurban dengan segala ketentuannya, diganti dengan ayam aja nggak bisa.
Baca juga: Kurban untuk Palestina: Upaya Hadirkan Asa di Tengah Darurat Kelaparan


Jadi, ibadah pakai AI? Mungkin bisa jadi panduan, tapi ya nggak bisa gantiin esensi kekhusyukan dan hubungan pribadi dengan Sang Kuasa. Kurban AI? Mungkin bisa jadi donasi teknologi, tapi nggak bisa gantiin nikmatnya berbagi daging kurban yang langsung terasa di perut dan di hati.
Pada akhirnya, di tengah gempuran teknologi yang serba instan dan virtual, kita jadi teringat lagi bahwa ada hal-hal yang tetap harus kita pegang erat: kemanusiaan, kebersamaan, dan keikhlasan. Kalau semua hal jadi serba digital, nanti kita jadi lupa rasanya salaman pas Lebaran, lupa rasanya keringatan gotong royong nyembelih kurban. Nanti ujung-ujungnya, hidup kita jadi kayak file JPG, gampang di-copy-paste, tapi kehilangan makna aslinya. Ya nggak sih?

Tetapi kalau direnungkan lebih dalam, kurban juga bisa “canggih”, lho! Kayak pakai AI, kamu bisa berkurban dan memberi manfaatnya ke saudara kita di pedalaman Indonesia walaupun kamu di rumah bareng keluarga pas Iduladha. Tinggal klik pranala ini: Kurban Dompet Dhuafa aja, hewan kurbanmu siap bahagiakan saudaramu di wilayah Indonesia lain yang membutuhkan. Biar merata juga sih, distribusi dagingnya. Kurban Sengaruh Itu, Cobain aja! (Dompet Dhuafa)
Teks dan Gambar: Dhika Prabowo
Penyunting: Dedi Fadlil

