Dongeng Adalah Senjata Sunyi yang Ditakuti Zionis Israel

Chiki Fawzi membacakan puisi tentang Palestina bersama dengan teman bonekanya.

Di tanah yang terus berdarah seperti Palestina, senjata bukan hanya berupa peluru dan roket. Ada kekuatan lain yang lebih halus, namun jauh lebih dahsyat, yaitu “dongeng”. Di setiap rumah yang hancur, di setiap reruntuhan masjid, di balik air mata anak-anak Palestina, selalu hidup kisah yang diwariskan. Inilah yang paling ditakuti oleh penjajah, yaitu kisah yang tak pernah mati.

Mengapa Israel takut pada perempuan dan anak-anak Palestina? Karena merekalah penjaga sejarah yang tak tergoyahkan. Ketika seorang ibu menidurkan anaknya, ia tak sekadar bercerita untuk mengusir takut. Ia menanamkan ingatan tentang tanah leluhur, tentang perjuangan ayahnya yang syahid, tentang kakeknya yang mengangkat batu melawan tank. Setiap kata adalah benih perlawanan, setiap kisah adalah api yang menjaga semangat kemerdekaan tetap menyala.

Baca juga: Kuatkan Solidaritas untuk Palestina, Dompet Dhuafa dan FPN akan Hadirkan Aksi Dongeng di 100 Titik Wilayah Indonesia

Jika kita menelaah, para pejuang Palestina hari ini banyak yang tumbuh sebagai yatim. Mereka kehilangan ayah di medan perang, namun tak pernah kehilangan arah. Sebab, ibu mereka terus menanamkan dongeng tentang keberanian, tentang kehormatan, tentang hak yang tak boleh dirampas. Dari dongeng inilah, lahir generasi baru yang siap membela tanah airnya, bukan tentang kebencian semata, tapi dengan cinta yang mendalam terhadap kemerdekaan.

Inilah alasan mengapa dongeng memiliki kekuatan besar yang begitu ditakuti oleh Israel. Karena selama dongeng itu hidup, perjuangan Palestina tak akan pernah padam. Semangatnya menular, dari ibu ke anak, dari guru ke murid, dari relawan ke masyarakat dunia. Seperti yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa, yang tak hanya mengirim bantuan, tapi juga mewartakan kisah-kisah para relawan yang gugur syahid agar mereka tetap hidup dalam ingatan umat manusia.

Melihat kekuatan ini, Dompet Dhuafa secara masif menghadirkan aksi-aksi mendongeng di sekolah-sekolah. Dari pelosok Aceh hingga tanah Papua, dongeng tentang Palestina menggema. Aksi ini bersinergi dengan para pendongeng daerah, menanamkan rasa empati dan solidaritas sejak dini kepada anak-anak Indonesia.

Baca juga: DD Waspada Gelar Dongeng Kemanusiaan, Ratusan Siswa dan Guru UPT SDN 066661 Medan Deli Antusias

Gerakan ini kini menemukan gaung yang lebih besar melalui kolaborasi dengan Forum Pendongeng Nasional (FPN). Bersama, keduanya mengelaborasikan kekuatan dongeng dalam sebuah misi mulia, yaitu “Aksi Nasional: Cinta Anak Indonesia untuk Anak Palestina”. Pada 15 Mei 2025 nanti, aksi ini akan digelar serentak di 100 titik wilayah Indonesia. Aksi ini tidak hanya untuk anak-anak sekolah, tetapi juga untuk para guru dan orang tua agar suara Palestina bergema di ruang-ruang pendidikan hingga di rumah-rumah masyarakat Indonesia.

Dompet Dhuafa yakin, dongeng bukan sekadar cerita. Ia adalah senjata sunyi yang menyuarakan hak kemanusiaan, yang menghidupkan solidaritas, dan yang mampu membela kemerdekaan Palestina tanpa batas waktu. Melalui gerakan inilah, Dompet Dhuafa berupaya menguatkan kisah perjuangan Palestina untuk terus hidup selama masih ada orang-orang yang mau bersuara dan mau mendengar. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika