Guru Honorer Menembus Angin Natuna Demi Didik Anak-Anak Bangsa

Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.

KEPULAUAN RIAU — Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar muncul di ufuk timur, Barsini (38) sudah lebih dulu terjaga. Usai menunaikan ibadah, ia membereskan rumah kemudian menyiapkan sarapan untuk suaminya yang bekerja di proyek perusahaan di Natuna, serta anaknya yang bersiap untuk sekolah. Di rumah sederhana yang jauh dari keramaian, rutinitas ini telah melekat dalam hidupnya sejak ia mengajar di Sekolah Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, pada tahun 2013.

Sudah 12 tahun lamanya ia mengajar di sekolah itu. Mulanya hanya guru ngaji biasa, kemudian ia mengajukan sebagai guru honorer. Ia mengajar mata pelajaran Akuntansi dan Akidah Akhlak, dua mata pelajaran yang baginya bisa menjadi bekal hidup untuk siswa-siswinya, baik di dunia maupun akhirat.

“Guru itu panutan, supaya anak-anak bisa meraih cita-citanya,” ucapnya pelan dengan penuh tekad.

Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah Desa Binjai Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau
Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah Desa Binjai Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau

Setiap hari, Barsini menempuh perjalanan selama 15–30 menit menuju sekolahnya dengan motor. Tidak begitu lama memang, namun medan yang dihadapi membuatnya seperti menempuh perjalanan jauh. Beberapa jalanan rusak, bergelombang, dan kerap licin. Rumah penduduk jarang, bahkan di beberapa titik tidak ada sama sekali. Hal yang mengiringinya di perjalanan hanyalah rimbun hutan, udara lembab Natuna, dan ocehan anak 4 tahun yang diajaknya. Terkadang, ia harus berjumpa dengan hewan buas di tengah perjalanan.

“Kadang ketemu babi hutan, pas pagi-pagi jam 7 jadi saya pelan-pelan bawa motornya,” kisahnya sambil tersenyum kecil.

Hal yang cukup mencemaskan lainnya adalah saat-saat tak terduga, seperti motornya yang tiba-tiba mogok di tengah hutan. Saat seperti itu, ia dan anak bungsunya hanya berdiam menunggu di bawah teduhan pohon rindang hingga ada orang yang lewat. Bila tak ada bantuan, ia menelepon guru lain atau kerabat untuk menjemput. Motor pun terpaksa didorong bersamaan sampai ke sekolah.

“Kalau mogok gitu bingung. Mau ngobrol sama siapa? Kadang ya tunggu saja sampai ada orang lewat,” ujarnya.

Baca juga: Berkat THR yang Anda Sisihkan, THR Guru Honorer di Pelosok pun ‘Cair’

Barsini berangkat ke sekolah bersama anak bungsunya.
Barsini berangkat ke sekolah bersama anak bungsunya
Barsini berangkat ke sekolah bersama anak bungsunya.
Barsini berangkat ke sekolah bersama anak bungsunya

Ketika hujan turun, tantangan pun bertambah. Tidak ada rumah untuk berteduh, tidak ada pos penjaga jalan. Jika di saat itu ia hanya berangkat sendiri, ia meneruskan untuk melaju, menembus derasnya hujan agar tetap tiba tepat waktu.

Belum lama ini, sebuah kejadian membuatnya harus mendapat perawatan di puskesmas. Seusai mengajar, biasanya ia tidak langsung pulang. Ibu dua anak itu menjemput anak sulungnya di sebuah Sekolah Dasar (SD) yang berada di jalur terpisah dari rumah maupun sekolah tempat ia mengajar. Di tengah perjalanan menjemput sang anak, seekor anjing hutan liar tiba-tiba berlari ke jalan di depannya.

“Kita nggak tahu kan, anjingnya tahu-tahu lewat. Jadi jatuh,” ceritanya.

Ia terpelanting ke pinggir jalan. Ada sedikit lecet di bagian tubuhnya karena tergores aspal. Beberapa bagian motornya pun ada yang pecah. Beruntung kejadian itu tidak jauh dari puskesmas, sehingga ia segera mendapat pertolongan.

Kisah itu tak membuat Barsini mengendurkan langkah. Setiap pagi ia kembali mengantar si sulung ke SD, mengajak si bungsu yang berusia empat tahun ikut bersamanya ke sekolah tempatnya mengajar, lalu kembali melintasi jalan hutan yang sama. Di tengah tanggung jawab sebagai seorang ibu, ia tetap menjaga ketekunan sebagai pendidik yang bertugas menyulut cahaya masa depan siswa-siswinya.

Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Suasana kegiatan belajar mengajar di MTs Madinatunnajah Desa Binjai Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau
Barsini menjelaskan materi pelajaran secara eksklusif bagi siswa yang ingin mempelajari lebih lanjut.
Barsini menjelaskan materi pelajaran secara eksklusif bagi siswa yang ingin mempelajari lebih lanjut

Meski honornya sebagai guru kontrak sering tak menentu kapan datangnya, ia tetap mensyukuri apa pun yang diterima.

“Ya dibilang cukup gimana ya, kita syukuri saja lah,” ujarnya lirih.

Pada Selasa (18/11/2025), Barsini menjadi satu dari 23 guru honorer yang menerima bantuan sembako dan uang tunai dari Dompet Dhuafa. Program ini merupakan hasil dukungan ratusan orang baik melalui campaign “Donasi Bantu Guru Honorer Sejahtera” di kanal digital Dompet Dhuafa: digital.dompetdhuafa.org/donasi/guruhonorer.

Baca juga: Dompet Dhuafa dan Abdimuda Beri 4 Guru Honorer Tunjangan Uang Tunai

Barsini, guru honorer di Sekolah Madinatunnajah, Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau.
Barsini guru honorer di Sekolah Madinatunnajah Desa Binjai Kecamatan Bunguran Barat Kabupaten Natuna Kepulauan Riau
Para guru honorer penerima manfaat Dompet Dhuafa.
Para guru honorer penerima manfaat Dompet Dhuafa

Bantuan ini menjadi penopang penting di tengah ketidakpastian honor bulanannya. Dana itu ia manfaatkan untuk kebutuhan-kebutuhan mendadak yang hampir selalu datang tanpa bisa diprediksi.

“Alhamdulillah, sangat membantu. Apalagi gaji honorer itu kan belum pasti setiap bulan,” katanya penuh syukur.

Di akhir kisahnya, Barsini menyampaikan pesan sederhana. Pesan yang ditujukan kepada para guru honorer di seluruh Indonesia, terutama untuk mereka yang bertugas di pelosok, daerah terluar, dan kawasan yang jauh dari kemudahan.

“Untuk guru-guru honorer di Indonesia, tetap semangat mengajar. Kita ini mendidik generasi bangsa. Merekalah yang akan meneruskan dan menggantikan kita,” pesan Barsini, seorang perempuan yang tak menyerah oleh jalan rusak, cuaca, hewan liar, ataupun ketidakpastian honor. (Dompet Dhuafa)

Teks dan foto: Riza Muthohar
Penyunting: Dhika